Ketika Tarian Papua Memesona Publik Jerman | Sosial | DW | 26.08.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Museumufersfest 2019

Ketika Tarian Papua Memesona Publik Jerman

Sejumlah tarian dan lagu daerah Papua ditampilkan dalam ajang festival Museumuferfest 2019 di Frankfurt am Main. Publik ramai-ramai ikut bergoyang.

Di tengah panasnya pemberitaan rasialisme yang ditujukkan kepada masyarakat Papua di tanah air, nyatanya akhir pekan lalu (24-25 Agustus 2019) putri-putri asal Papua berhasil harumkan tanah kelahirannya dalam ajang festival tahunan kota Frankfurt am Main, Museumuferfest ke-31. Sebanyak 10 orang anggota Bhayangkari Polri Papua gabungan dari Kabupaten Jayapura, Merauke, Biak, Asmat dan Mamberamo Tengah sukses menghibur ribuan pengunjung festival dengan sejumlah tarian dan lagu daerah Papua. Lantunan Lagu "Aku Papua” berhasil sulutkan semangat persatuan di antara beragamnya masyarakat Indonesia yang hadir menyaksikan.

Indonesisches Museumsuferfest 2019 Frankfurt am Main (DW/G. Anggasta)

Penari Papua mengajak penonton berjoget bersama

Publik pun tidak kuat menahan godaan untuk tidak ikut bergoyang kala penari tarian Yospan atau Yosim Pancar turun panggung. Tarian Yospan merupakan bentuk tarian kontemporer yang memiliki pesan persahabatan. Tarian pergaulan ini biasa dihadirkan pada acara penyambutan tamu dan festival.

Seni tas noken di Museum Budaya Dunia

Warisan budaya lainnya dari Papua yang turut dipamerkan adalah seni kerajinan tangan tas noken.

"Semua perempuan di Papua harus bisa buat tas noken. Kami diajarkan cara buatnya dari kecil oleh ibu kami, juga diajarkan di sekolah,” kata Maria Waknakap, pengrajin noken anggota Bhayangkari Polri yang juga seorang perawat. Mulai dari bangku sekolah dasar, seni kerajinan tangan noken telah menjadi pelajaran muatan lokal Papua. Bersama dengan rekannya, Sensi Yelipele, keduanya unjuk kebolehan menoken di Weltkultur Museum selama dua hari.

Indonesisches Museumsuferfest 2019 Frankfurt am Main (DW/G. Anggasta)

Demontrasi pembuatan tas noken di Weltkultur Museum

"Biasanya kami hanya punya objeknya yang bisa ditampilkan, sedangkan teknik pembuatannya tidak bisakami tunjukkan. Padahal cara pembuatannya ini yang sangat unik”, jelas kurator Weltkultur Museum, Vanessa von Gliszcynski. Kedepannya, tas noken juga akan menjadi bagian dari pameran Weltkultur Museum, tambahnya.

Perhatian untuk pariwisata

Selain kesenian khas Papua, festival sepanjang 6 kilometer ini juga diramaikan dengan penampilan seni dari Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Keempatnya sengaja dihadirkan untuk mendobrak angka wisatawan asing untuk menjelajahi Indonesia di luar Pulau Jawa dan Pulau Bali. "Kita perlu membawa seni budaya dari Indonesia tengah dan timur karena di Frankfurt sendiri keduanya jarang ditemukan,” terang Konsul Jenderal RI Frankfurt, Toferry Primanda Soetikno.

Indonesisches Museumsuferfest 2019 Frankfurt am Main (DW/G. Anggasta)

Teknik pembuatan noken Mamberamo

Menurut data dari Kementerian Pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai lebih dari 50 persen. "Biasanya wisatawan asing yang pertama kali datang ke Indonesia tujuan utamanya Bali, tapi untuk kunjungan berikutnya mereka tertarik dengan destinasi lainnya di Indonesia,” tambah Soetikno. Selain pemandangan alam, budaya dan ragam manusianya juga menjadi ketertarikan wisatawan asing khususnya Jerman, saat berkunjung ke Nusantara.

Melalui partisipasinya di festival ini, Claudia Nidi, anggota Bhayangkari Polri NTT, berharap agar lebih banyak masyarakat dunia yang mengenal Nusa Tenggara, "Selama ini orang hanya tahu Labuan Bajo, padahal destinasi wisata di NTT banyak sekali dan mulai bangkit. Budaya di NTT juga unik-unik, contohnya motif tenun setiap kabupaten berbeda-beda.”

Indonesisches Museumsuferfest 2019 Frankfurt am Main (DW/G. Anggasta)

Agen perjalanan sediakan lebih banyak paket wisata ke Indonesia

Tak dipungkiri, dampak dari penggunaan media sosial turut menumbuhkan minat wisatawan Jerman untuk mengunjungi destinasi tidak biasa di Indonesia. "Mereka merasa tidak ada keraguan lagi untuk datang ke Indonesia karena infrastrukturnya semakin bagus,” ungkap Yanti Syoekoer, konsultan agen perjalanan Airways Travel di Frankfurt am Main.

Meski tak dipungkiri, keterbatasan jumlah penerbangan menuju destinasi tertentu menjadi pertimbangan perjalanan. Sejumlah paket perjalanan dengan destinasi Indonesia bagian timur mulai diperkenalkan kepada publik Jerman sejak 10 tahun lalu. "Kami selalu perkenalkan pulau-pulau yang lain setiap kali ada program "Visit Indonesia Year”,” lanjut Syoekoer. (ga/vv/hp)

Laporan Pilihan