Kerusuhan Setelah Hasil Pengumuman Pemilu Kongo | Fokus | DW | 22.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kerusuhan Setelah Hasil Pengumuman Pemilu Kongo

Kerusuhan yang terjadi sesaat setelah pengumuman hasil pemilihan umum di Kongo hari Minggu (20/08) malam menyebabkan sedikitnya dua orang tewas. Dan kerusuhan ini masih terus berlanjut.

Präsident Kongo Joseph Kabila (kanan) dan saingannya, Jean-Pierre Bemba (kiri)

Präsident Kongo Joseph Kabila (kanan) dan saingannya, Jean-Pierre Bemba (kiri)

Bahkan menurut laporan radio Afrika Selatan, bandar udara di ibukota Kinshasa dikuasai oleh tentara pemerintah. Sementara saksi mata melaporkan terjadi bentrokan senjata hebat di kawasan yang kemarin (21/08) memaksa pasukan perdamaian PBB dan Uni Eropa bertindak untuk mengamankan para diplomat.

Anggota pengawal Presiden Joseph Kabila dan pendukung bersenjata saingannya, Jean-Pierre Bemba, terlibat bentrokan senjata. Senin (21/08) kemarin, pendukung Kabila menyerang rumah kediaman Bemba di ibukota Kinshasa, saat ia sedang mengadakan pertemuan dengan para diplomat asing. 150 tentara PBB turun tangan dan mengamankan para diplomat. Kerusuhan juga pecah di kawasan miskin Kinshasa. Hampir 300 tentara Jerman yang bertugas di Kongo berada dalam keadaan siaga. Juru bicara pasukan Uni Eropa di Kongo, Letnan Kolonel Peter Fuss, mengatakan situasi di Kongo sekarang terus dipantau dan jika diperlukan akan bertindak bersama dengan pasukan perdamaian PBB.

Setelah menunda pengumuman hasil pemilihan umum akibat kerusuhan yang terjadi, hari Minggu (20/08) malam waktu Kinshasa, ketua Komisi Pemilu mengumumkan hasil pemilu lewat stasiun televisi nasional.

Dipastikan akan terjadi pemilihan suara babak penentuan antara Kabila lawan Bemba. Kabila memperolah sekitar 45 persen suara dan dengan demikian gagal mencapai suara mayoritas. Sementara Bemba meraih 20 persen suara.

Yang mencolok adalah perbedaan hasil yang jelas antara kawasan Kongo Timur dan Barat. Jika di Timur Kabila terpilih dengan suara mayoritas, maka di Barat dan di ibukota Kinshasa hasil suara yang diraih Bemba lebih baik. Dalam putaran pemilu penentuan yang dijadwalkan tanggal 29 Oktober mendatang, akan ditentukan siapa yang dapat membentuk pemerintahan koalisi.

Utusan politik PBB di Kongo mengatakan, sudah sejak beberapa pekan dimulai persaingan untuk jabatan menteri di pemerintahan yang mungkin akan terbentuk. Baik Kabila maupun Bemba berupaya menarik kandidat presiden lain ke pihaknya, untuk mendukung dan mengamankan pengikutnya.

Pemilu di negara di Afrika Tengah tersebut, diharapkan menjadi garis penutup dari perang saudara yang telah berlangsung 5 tahun, yang menyebabkan sekitar 4 juta orang tewas. Baru tiga tahun lalu, enam negara dan sejumlah kelompok pemberontak di Kongo, menandatangani sebuah perjanjian perdamaian. Sejak itu berlangsung pemerintah transisi di bawah Presiden Kabila. Sebuah referendum konstitusi akhir tahun lalu membuka jalan resmi bagi berlangsungnya pemilihan umum.