Kerusuhan Akibat Kasus Penistaan di Pakistan, Komunitas Hindu Khawatirkan Keselamatan Diri | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 17.09.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Intoleransi

Kerusuhan Akibat Kasus Penistaan di Pakistan, Komunitas Hindu Khawatirkan Keselamatan Diri

Kerusuhan meletus di Ghotki, sebuah kota di selatan Pakistan, setelah massa menyerang sebuah sekolah karena menuduh sang kepala sekolah menistakan agama.

Para demonstran pada hari Minggu (15/09) menyerang sebuah sekolah setelah kepala Sekolah Umum Sindh, Nautan Lal, dilaporkan dengan tuduhan telah menistakan agama. Abdul Aziz Rajput, ayah seorang siswa di sekolah itu, mengeluh kepada polisi bahwa Lal telah menghina Islam.

Kasus dengan tuduhan penistaan bisa dituntut dengan hukuman mati di Pakistan. Ini adalah topik sensitif di negara yang 97 persen dari 180 juta penduduknya adalah Muslim.

Para aktivis menuntut adanya reformasi undang-undang penistaan agama yang kontroversial ini. UU ini diajukan oleh pemimpin militer Islam Jenderal Zia-ul-Haq pada tahun 1980-an. Para aktivis mengatakan undang-undang ini tidak ada hubungannya dengan penistaan dan sering digunakan untuk menyelesaikan perselisihan kecil dan balas dendam yang bersifat personal.

Menurut kelompok hak asasi manusia, sekitar 1.549 kasus penistaan agama telah terdaftar di Pakistan antara tahun 1987 dan 2017. lebih dari 75 orang di Pakistan dibunuh akibat tuduhan penistaan agama tanpa pernah menjalani proses pengadilan. Beberapa dari mereka bahkan tetap menjadi sasaran kekerasan setelah dibebaskan oleh pengadilan.

Umat Kristen dan minoritas agama-agama lain sering mengeluhkan adanya diskriminasi hukum dan sosial di Pakistan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang Kristen dan Hindu telah dibunuh secara brutal karena tuduhan penistaan yang nyatanya tidak terbukti.

Pemeluk Hindu terkurung di dalam rumah

Ghotki, sebuah kota kecil di selatan provinsi Sindh, memiliki populasi umat Hindu yang signifikan. Mereka telah tinggal di sana sebelum pemisahan Pakistan dari India pada 1947.

Provinsi Sindh adalah tempat umat Hindu, Sikh, dan Kristen hidup berdampingan dengan umat Islam selama berabad-abad. Namun dalam beberapa tahun terakhir ekstremisme mencengkeram wilayah itu. Kelompok-kelompok Muslim garis keras sering menyerang kuil-kuil dan memaksa umat Hindu untuk masuk Islam.

Kerusuhan di Ghotki telah memaksa komunitas Hindu untuk tetap berada di dalam rumah. Pihak berwenang pun telah mengerahkan sejumlah pasukan polisi di kota itu.

Pakistan Proteste nach Freispruch Asia Bibi (Getty Images/AFP/R. Tabassum)

Antara tahun 1987 dan 2017 lebih dari 75 orang di Pakistan dibunuh akibat tuduhan penistaan agama tanpa pernah menjalani proses pengadilan.

Jaipal Chhabria, presiden Forum Hindu Pakistan, mengatakan kepada DW bahwa komunitas Hindu di Ghotki merasa semakin tidak aman setelah kerusuhan terjadi.

"Nautan Lal hanya memarahi seorang bocah Muslim karena tidak menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Bocah itu menuduhnya melakukan penistaan dan itu memicu protes dan kekerasan di kota. Orang-orang Hindu di daerah itu ketakutan dan mengunci diri di rumah-rumah," ujar Chhabria.

Chhabria mengklaim bahwa seorang pemimpin agama setempat dan para pendukungnya terlibat dalam serangan ke sekolah pada hari Minggu itu. Kepala sekolah dan keluarganya dilaporkan bersembunyi karena takut terhadap serangan massa.

"Bagaimana mereka bisa lagi tinggal di Ghotki?" ujar Rajesh Kumar, seorang warga Ghotki. "Begitu seseorang dituduh melakukan penistaan agama, mereka tidak bisa lagi hidup di daerah itu. Di masa lalu, massa telah membunuh banyak orang karena tuduhan penistaan agama."

Beberapa laporan mengatakan polisi telah menahan kepala sekolah itu dan memindahkannya ke lokasi yang dirahasiakan karena masalah keamanan.

Bantuan dari negara tidak cukup

Para aktivis menuntut pemerintah provinsi melindungi komunitas Hindu di Ghotki.

Hari Lal Bhagia, sekretaris jenderal Upper Sindh Hindu Panchayiat, mengatakan kepada DW bahwa pihak berwenang berusaha untuk memulihkan perdamaian di daerah ini.

"Namun kelompok ekstremis cukup kuat, dan bahkan pemerintah tampaknya tidak berdaya. Itu sebabnya komunitas Hindu di daerah itu merasa lebih rentan menjadi korban serangan," kata Bhagia.

Tetapi Sajjad Ali Soomro, seorang aktivis hak-hak asasi setempat, mengatakan bahwa ketidakpedulian otoritas negara telah menguatkan kelompok-kelompok ekstremis di provinsi yang dulunya menjadi contoh harmonisme kehidupan beragama di negara itu.

"Pada hari Minggu, ratusan orang berkumpul di luar kantor polisi dan mulai menyerang rumah-rumah, tempat-tempat bisnis, dan kuil-kuil Hindu. Pihak berwenang tidak turun tangan," kata Soomro.

Senator Taj Haider, dari Partai Rakyat Pakistan yang dipimpin oleh Bilawal Bhutto, memerintah provinsi Sindh. Ia mengakui bahwa polisi seharusnya menghentikan massa yang akan menyerang properti milik warga beragama Hindu. Haider menegaskan bahwa pemerintah provinsi tidak bisa disalahkan terkait adanya intoleransi antaragama di daerah tersebut.

"Kami menyerahkan daftar 300 kajian keagamaan yang menyebarkan ide-ide kebencian dan ekstremisme kepada pemerintah federal, tetapi mereka tidak melakukan tindakan apa pun terhadap elemen (masyarakat) ini," ujarnya kepada DW.

Sejauh ini pihak kepolisian telah menahan beberapa orang dengan tuduhan perusakan properti publik dan penghasutan yang mengakibatkan kekerasan di Ghotki. 

Pakistan Unruhen wegen Freilassung Christin Blasphemie (picture-alliance/Pacific Press/R. Hussain)

Warga Pakistan memprotes pembebasan perempuan bernama Asia Bibi yang dituduh melecehkan agama di Lahore, November 2018.

Kaum minoritas merasa 'tidak aman' di Pakistan

Populasi umat Hindu berjumlah sekitar 2,5 persen dari total penduduk Pakistan. Mayoritas dari mereka, yaitu lebih dari 90 persen, tinggal di Sindh. Ada laporan tentang meningkatnya jumlah umat Hindu yang bermigrasi ke negara tetangga India dalam beberapa tahun terakhir.

Umat Kristen Pakistan, dan minoritas agama lainnya, juga sering mengeluhkan diskriminasi hukum dan sosial di negara mereka.

Satu contoh kasus yang cukup mencuat di media internasional yaitu Asia Bibi, seorang wanita Kristen yang menghabiskan bertahun-tahun di penjara dengan hukuman mati di Pakistan atas tuduhan penistaan agama.

Asia Bibi akhirnya berangkat ke Kanada untuk bergabung dengan keluarganya pada bulan Mei. Bibi dan keluarganya harus tetap bersembunyi bahkan setelah dibebaskan oleh Mahkamah Agung Pakistan pada Oktober 2018.

Baru-baru ini, Baldev Kumar, mantan legislator dari partai Perdana Menteri Imran Khan, Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), mencari suaka di India untuk dirinya dan keluarganya. Politisi berusia 43 tahun itu menuduh Pakistan sebagai "negara yang tidak aman" dan bahwa pemerintah yang dipimpin Imran Khan telah menganiaya minoritas di sana.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang Kristen dan Hindu telah dibunuh secara brutal atas tuduhan penistaan yang tidak terbukti.

Dalam satu kasus, pada bulan Agustus 2012, seorang perempuan muda beragama Kristen yang menderita down syndrome dituduh membakar lembaran kertas yang terdapat tulisan ayat-ayat Al-Quran.

Perempuan muda bernama Rimsha Masih ini kemudian ditahan polisi dan baru dibebaskan beberapa bulan kemudian ketika dakwaan dibatalkan. Kasus ini menyebabkan keributan di kota kelahirannya dan sekitarnya, serta memicu kerusuhan dan kekerasan terhadap orang-orang Kristen di wilayah tersebut. Pada 2013, ia dan keluarganya pindah ke Kanada.

Pada 2014, pasangan Kristen dipukuli sampai mati karena diduga menodai salinan Al-Quran. Tubuh mereka dibakar di tempat pembakaran bata.

Pada September tahun lalu, seorang pria Kristen di Pakistan dijatuhi hukuman mati karena berbagi materi "melecehkan" lewat aplikasi WhatsApp. (ae/vlz)

Laporan Pilihan