1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kenapa Proyek Militer Terbesar Eropa Bermasalah?

Shristi Mangal Pan
25 Mei 2026

Perselisihan soal prioritas, kepemimpinan, dan kendali industri mengancam proyek pengembangan jet tempur generasi keenam milik Eropa. Kini ketegangan merambat ke proyek tank Jerman-Prancis.

https://p.dw.com/p/5EHLd
Model pesawat tempur generasi keenam FCAS Eropa
Model pesawat tempur generasi keenam FCAS EropaFoto: VDWI Aviation/Visually/picture alliance

Eropa awalnya berambisi bersama-sama membangun jet tempur generasi keenam masa depan. Namun proyek pertahanan terbesar itu kini justru terancam melahirkan dua pesawat tempur berbeda. Penyebabnya adalah perseteruan antara dua perusahaan dirgantara dari dua negara terbesar Eropa, Jerman dan Prancis.

Airbus, yang mewakili kepentingan Jerman dan Spanyol dalam proyek Future Combat Air System (FCAS), menyatakan terbuka terhadap restrukturisasi program setelah bertahun-tahun dibayangi sengketa politik dan industri.

Salah satu opsi yang kini mengemuka adalah "solusi dua jet tempur". Dalam skema ini, Prancis dan Jerman dapat mengembangkan pesawat tempur masing-masing, sambil tetap bekerja sama dalam pengembangan drone, sensor, dan sistem digital penghubung medan perang secara real time.

Ironisnya, pesawat tempur itu sendiri kini justru bukan lagi elemen terpenting proyek tersebut.

Usulan itu menandai perubahan besar dalam FCAS, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai simbol persatuan militer Prancis dan Jerman.

"Pekerjaan FCAS bersama pemerintah Prancis, Jerman, dan Spanyol masih terus berjalan untuk menentukan arah proyek ke depan," kata juru bicara Airbus kepada DW.

"Layak dipertahankan"

Kepala Eksekutif Airbus Guillaume Faury menilai proyek ini secara keseluruhan masih layak dipertahankan, meski pengembangan jet tempurnya tersendat. 

Europe's massive defense gamble

"Kebuntuan dalam satu pilar tidak boleh menggagalkan seluruh kemampuan teknologi tinggi Eropa di masa depan," ujar Faury. Dia menambahkan Airbus siap mendukung opsi dua jet tempur bila diminta pemerintah terkait.

Perdebatan FCAS kini memunculkan pertanyaan lebih besar: Masih mampukah negara-negara utama Eropa membangun sistem persenjataan besar secara bersama-sama?

FCAS diluncurkan Prancis dan Jerman pada 2017, sebelum kemudian diikuti Spanyol. Proyek bernilai sekitar 100 miliar euro atau sekitar Rp2 kuadriliun itu ditargetkan memproduksi sistem tempur udara generasi keenam pada 2040.

Program tersebut tak sekadar mencakup jet tempur baru, tetapi juga drone, pesawat tanpa awak pendamping, mesin, hingga combat cloud, yaitu jaringan digital yang menghubungkan pesawat, sensor, dan data pertempuran secara langsung.

Dua kutub pertahanan

Namun justru jet tempur yang menjadi sumber utama perselisihan.

Prancis menginginkan pesawat masa depan yang mampu beroperasi dari kapal induk sekaligus membawa senjata nuklir. Jerman, yang bukan negara pemilik senjata nuklir, tidak memiliki kebutuhan serupa. Berlin bahkan sudah memutuskan membeli jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat untuk misi berbagi senjata nuklir NATO.

Kanselir Jerman Friedrich Merz baru-baru ini mengakui perbedaan itu secara terbuka. Menurut dia, Prancis membutuhkan pesawat generasi baru yang mampu membawa senjata nuklir, sementara Jerman tidak memerlukan kemampuan serupa untuk Bundeswehr, angkatan bersenjatanya. 

"Jika perbedaan itu tak bisa diselesaikan, maka proyek ini tak bisa dipertahankan,” ujar Merz.

Perselisihan politik tersebut juga dipicu benturan kepentingan industri. Dassault Aviation, produsen jet tempur Rafale asal Prancis, ingin memegang kendali utama atas pengembangan pesawat baru itu. Sementara Airbus Defence and Space, yang mewakili kepentingan Jerman dan Spanyol, menuntut peran lebih besar.

Akibatnya, sengketa berkepanjangan soal kepemimpinan proyek, pembagian kerja, dan transfer teknologi terus menghambat kemajuan FCAS. Berbagai upaya mediasi gagal menghasilkan terobosan.

Kompromi dua pesawat

Kini Airbus memberi sinyal bahwa solusi terbaik mungkin bukan lagi memaksakan satu pesawat untuk memenuhi seluruh kebutuhan.

Bagi banyak analis, bagian paling penting FCAS saat ini justru bukan pesawat tempurnya, melainkan combat cloud

Drone Portugal Paduan Teknologi Canggih dan AI

Pakar pertahanan Christian Mölling mengatakan kepada DW bahwa sistem tersebut krusial karena Eropa masih sangat bergantung pada Amerika Serikat. Sejumlah pengamat lain menilai pengembangan drone, perangkat lunak, dan jaringan pertempuran masih bisa diteruskan meski proyek jet tempur dipisah atau diperkecil.

Namun masalah FCAS kini merembet ke proyek besar Prancis-Jerman lainnya: Main Ground Combat System (MGCS), calon "super tank" Eropa masa depan.

MGCS dirancang untuk menggantikan tank Leopard 2 milik Jerman dan Leclerc milik Prancis. Proyek itu diluncurkan bersamaan dengan FCAS pada 2017 sebagai bagian kompromi politik Paris-Berlin.

Pembagian perannya jelas: Prancis memimpin proyek jet tempur melalui Dassault, sedangkan Jerman memimpin proyek tank berkat kekuatan industrinya di bidang kendaraan lapis baja.

Tujuannya bukan sekadar membangun senjata, melainkan juga mengikat dua kekuatan militer terbesar Eropa dalam satu kepentingan strategis.

Misi elusif Eropa

Namun kompromi itu kini tampak rapuh. Jika FCAS dipecah, direstrukturisasi, atau dilemahkan, keseimbangan yang menopang MGCS juga bisa terguncang.

MGCS sendiri sudah mengalami berbagai penundaan. Prancis dan Jerman baru menyepakati kelanjutan fase berikutnya pada 2024, sementara sistem itu diperkirakan baru siap digunakan sekitar 2040.

Invasi penuh Rusia ke Ukraina mendorong negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat. Uni Eropa sejak itu menyerukan lebih banyak pengadaan senjata bersama dan penguatan industri pertahanan Eropa.

Namun kekacauan di sekitar FCAS menunjukkan betapa sulitnya ambisi Eropa terwujud.

Analis pertahanan dari Carnegie Endowment for International Peace menilai nasib FCAS akan menentukan masa depan kerja sama pertahanan Eropa selama bertahun-tahun ke depan. Jika proyek ini gagal, pemerintah negara-negara Eropa kemungkinan akan jauh lebih berhati-hati meluncurkan proyek persenjataan multinasional berskala besar serupa di masa depan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Arti Ekawati

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait