Keith Ellison, Muslim Pertama Kandidat Kongres AS | dunia | DW | 07.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Keith Ellison, Muslim Pertama Kandidat Kongres AS

Keith Ellison akan berlaga dalam pemilihan anggota Kongres Amerika 7 November ini. Pengacara ini akan bersaing di kota terbesar negara bagian Minnesota, kota Minneapolis, untuk Partai Demokrat.

Ruang Kongres AS

Ruang Kongres AS

Tiga perempat dari daerah tempat distrik pemilihannya ini terdiri dari masyarakat sederhana dan orang kulit putih. Ellison sendiri berkulit hitam dan beragama Islam. Yang menjadi tema kampanye adalah: menarik pulang tentara Amerika dari Irak, menaikan angka penerimaan asuransi kesehatan dan upah minimum.

Keith Ellison mengerahkan segala cara untuk mendorong partisipasi tinggi dari parapendukung Partai Demokrat. Bahkan dengan mengetuk pintu-pintu rumah, menelefon orang-orang, meyakinkan masyarakat akan masa depan yang lebih baik. Tentu bila ia duduk di Kongres AS, sebagai wakil Partai Demokrat.

Suasana santai meriah menyelimuti kampanye. Di sebuah taman di atas bukit di Minneapolis, sang kandidat melompat ke atas meja kayu, berteriak kepada massanya, tanpa mikrofon maupun pengeras suara.

"Kristen, Muslim, Yahudi, Hindu dan Budha, semua anak-anak Tuhan harus mengambil bagian dalam kampanye ini. Mereka yang di bagian utara maupun di selatan kita capai, kita merobohkan pembatasan, membangun jembatan.“

Keith Ellison masuk Islam di masa mudanya. Kini ia menjadi Muslim pertama yang pernah menjadi kandidat parlemen. Ia menjadi kebanggaan partainya, Partai Demokrat. Frank Horstein, anggota parlemen negara bagian Minnesota mengatakan:

“Ini merupakan isu yang sangat penting, kita akan dapat memilih Muslim pertama dalam pemilihan anggota kongres. Benar-benar isu penting. Saya sendiri sebagai anggota legislatif sangat berbangga hal ini terjadi di Minneapolis, distrik pemilihan saya.”

Pencalonan Keith Ellison di kongres merupakan langkah maju. Sebab parlemen mewakili semua kepentingan warga Amerika. Keith Ellison merupakan orang kulit hitam, yang daerah pemilihannya mayoritas berkulit putih. Rumah-rumah mewah di sekeliling taman, yang berdampingan dengan kemiskinan menjadi bagian pusat kota Minneapolis. Scott Dibble, Senator Negara Bagian Minnesota optimistis.

"Mineapolis memiliki walikota seorang perempuan Afro-Amerika. Di parlemen duduk orang dengan berbagai latar belakang. Bahkan meski daerah pemilihannya mayoritas berkulit putih, ini malah menjadi menarik untuk politik.

Fenomena Keith Ellison pun menyita perhatian media. ia muncul di berbagai halaman surat kabar. Ia menjadi bahan perbincangan di sela-sela orang menyantap makanan dan mendengarkan alunan musik. Sang kandidat disodori mikrofon dan diabadikan kamera. Kandidat Muslim pertama merupakan topik penting yang layak headline media.

Agama merupakan hal yang sangat pribadi, demikian katanya. Namun dalam pemilihan ini, agama justru menolongnya untuk maju. Ia mangakui hal ini.

"Jika saya bukan Muslim, mungkin kalian para reporter tak memburu saya untuk bicara. Kini saya dapat berbicara bebas tentang penarikan tentara kita keluar dari Irak, tentang asuransi kesehatan bagi semua orang dan upah yang tinggi. Agama saya membiarkan saya menjadi duta integrasi dan membawa toleransi.“

Deb Berg, juru kampanye untuk media berdiri di sampingnya, dengan stiker nama Ellison tertera di jaketnya. Berg berjalan dari pintu ke pintu, mengumpulkan uang untuk kampanye dan mempromosikan Ellison. Berkampanye di lingkungan kecil, tidak dengan cara yang mewah.

"Ini merupakan pesta hip-hop rumahan. Dan anda dapat menyumbang semampunya. Tak harus sampai 2.000 Dollar untuk sumbangan, melainkan cukup 20 , 25 Dollar saja.”

Tema terpenting dalam kampanyenya ini: Perang di Irak. Suasana di Minneapolis berlawanan dengan perang tersebut. Dan Keith Ellison menggunakannya sebagaimana yang juga digunakan para kandidat Partai Demokrat lainnya untuk mengalahkan kandidat Partai Republik.

"Kita harus membawa semua orang bekerjasama, dengan cara diplomatis dan mencari jalan keluar dari konflik secara damai. Ini tidak terjadi di Irak. Kebijakan politik di Irak sudah hancur. Kita harus keluar dari situ.“

Namun tak hanya perang Irak yang menjadi perhatiannya.

"Perang itu memang isu besar. Tetapi bagi orang-orang di distrik ini, mereka tidak terfokuskan hanya pada satu isu. Banyak isu penting lainnya bagi mereka, seperti masalah pembaruan energi, tentang kelas menengah, pajak, hak azasi manusia. Jadi tentunya bukan kampanye satu isu."

Demikian dikatakan Ellison seraya terburu-buru mengejar acara berikutnya di daerah pemilihannya. Jika menang, tak hanya sebagai Muslim pertama di Kongres, ia juga akan menjadi warga kulit hitam pertama dari Minnesota yang menduduki jabatan di tingkat federal.

Iklan