1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kondisi MV X-Press setelah api berhasil dipadamkan
Kondisi MV X-Press setelah api berhasil dipadamkanFoto: Sri Lanka Air Force/AFP

Karamnya MV X-Press Ciptakan Bencana Ekologi di Sri Lanka

3 Juni 2021

Otoritas Sri Lanka bersiap menghadapi bencana lingkungan menyusul terbakarnya kapal kargo pembawa bahan kimia di lepas pantai Colombo. Pencemaran laut memaksa pemerintah melarang kegiatan perikanan.

https://www.dw.com/id/karamnya-mv-x-press-ciptakan-bencana-ekologi-di-sri-lanka/a-57766161

Kapal MV X-Press Pearl yang terbakar selama 13 hari di pesisir barat Sri Lanka, selain mengangkut 25 ton bahan kimia asam nitrat juga membawa 350 ton minyak yang kini dikhawatirkan bakal mencemari perairan sekitar. Otoritas Perlindungan Lingkungan Laut mengaku sudah menyiapkan dispersan, dan sejumlah perlengkapan lain untuk mengantisipasi kebocoran.

Insiden tersebut terancam menjadi bencana lingkungan bagi negeri kepulauan di Asia Selatan tersebut. Sebelumnya pemerintah melaporkan kebakaran pada kapal kargo sudah memicu polusi plastik berskala besar di kawasan sekitar.

Kapal kargo yang kini terancam karam dikhawatirkan akan menambah bencana ekologi lewat pencemaran minyak. 

"Sejauh ini belum ada kebocoran, tapi kami sudah mempersiapkan skenario terburuk,” kata juru bicara angkatan laut Sri Lanka, Indika de Silva. Kapal milik satuan penjaga pantai India juga sudah disiagakan untuk menghadang tumpahan minyak.

Operator MV X-Press asal Singapura mengatakan, kapalnya tenggelam pelan-pelan usai gagal diderek dari kawasan pesisir pada Rabu (2/6). "Kami bisa mengkonfirmasikan bahwa bagian buritan kapal saat ini berada di dasar laut di kedalaman 21 meter, dan haluannya juga tenggelam pelan-pelan,” tulis perusahaan dalam keterangan persnya.

Adapun angkatan laut Sri Lanka mengatakan haluan kapal kargo itu masih berada di atas permukaan air pada Kamis (3/6) pagi. "Bahkan jika haluannya tenggelam ke dasar laut, geladak dan anjungan kapal masih berada di atas permukaan,” kata Indika kepada AFP.

Dia mengklaim pihaknya belum melihat adanya indikasi kebocoran dari tangki bahan bakar kapal. Meski begitu, saksi mata mengatakan melihat gumpalan minyak mengapung di atas permukaan laut, sekitar 40 kilometer dari lokasi insiden.

Anggota angkatan laut Sri Lanka diterjunkan untuk membersihkan pantai dari pencemaran, 28 Mei 2021.
Anggota angkatan laut Sri Lanka diterjunkan untuk membersihkan pantai dari pencemaran, 28 Mei 2021.Foto: Dinuka Liyanawatte/REUTERS

Petaka bagi ekosistem laut

Karamnya MV X-Press ikut menumpahkan biji mikroplastik ke perairan sekitar. Akibatnya otoritas Sri Lanka melarang aktivitas penangkapan ikan sejauh 50 mil laut dari bibir pantai. Dikhawatirkan, pencemaran plastik akan melumpuhkan ekosistem yang menjadi tumpuan hidup nelayan tersebut.

Sebelum tenggelam, kapal dihempas ledakan yang membakar sekitar 1.500 kontainer di atas geladak. Manifes kapal menunjukkan, selain membawa 81 kontainer berisi "muatan berbahaya,” MV X-Press juga membawa sejumlah besar minyak pelumas.

Otoritas meyakini api menjalar dari kebocoran cairan asam nitrat yang dikabarkan sudah dideteksi awak kapal pada 11 Mei, semblan hari sebelum kebakaran. Asam nitrat kebanyakan digunakan untuk membuat pupuk kimia. Kapal itu berangkat dari pelabuhan di Hazira, India, dengan tujuan Colombo.

Api dipadamkan berkat bantuan pasukan penjaga pantai India dan perusahaan Belanda, SMIT

Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, meminta bantuan Australia untuk mengevaluasi kerusakan ekologis akibat insiden tersebut. Sri Lanka tergolong negara dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di Asia Selatan.

Pemerintah juga mengumumkan sedang melakukan investigasi terkait dugaan tindak kriminal.  Saat ini ketiga perwira kapal, dua warga negara Rusia dan seorang warga India, sudah dimintai keterangan dan belum diizinkan pergi ke luar negeri. 

rzn/as (rtr,afp)