1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ilustrasi kapal pengungsi Rohingya
Ilustrasi kapal pengungsi RohingyaFoto: picture-alliance/AP/Malaysian Maritime Enforcement

Terapung 113 Hari, Perahu Rohingya Mendarat di Aceh

4 Juni 2021

Para pengungsi yang kebanyakan terdiri dari perempuan dan anak-anak meninggalkan Bangladesh sejak 11 Februari lalu. Namun mesin kapal mereka mati 4 hari kemudian.

https://www.dw.com/id/kapal-pengungsi-rohingya-kembali-mendarat-di-aceh/a-57778546

Kapal yang membawa puluhan pengungsi Rohingya kembali mendarat di sebuah pulau di Aceh setelah terkatung di lautan selama lebih dari 100 hari, ujar seorang pejabat organisasi hak asasi manusia, Jumat (04/06).

Kapal yang sedianya membawa 90 pengungsi Rohingya ini mulai berlayar pada 11 Februari dari Cox's Bazar, Bangladesh, tetapi kemudian terombang-ambing di Laut Andaman karena mesinnya rusak. Para pengungsi yang kebanyakan terdiri dari perempuan dan anak-anak berharap mencapai Malaysia. Namun mesin kapal mati hanya setelah empat hari berlayar.

"Kami mengetahui bahwa 81 (pengungsi) dalam keadaan baik, mereka mendarat di Pulau Idaman di Aceh," ujar Chris Lewa, direktur Arakan Project, organisasi nonpemerintah yang memantau krisis Rohingya. "Mereka belum 100% aman di sana. Kami berharap mereka tidak akan ditolak," kata Lewa kepada Reuters.

Seorang warga Pulau Idaman bernama Muhammad Upin mengatakan telah melihat perahu berisi para pengungsi pada Jumat pagi.

"Sekitar pukul 07.00 WIB mereka turun dari kapal dan turun ke darat," kata dia. "Mereka terdampar karena salah satu mesin perahu rusak. Mereka semua sehat dan sudah diberi makan oleh warga setempat," tambahnya sambil menggambarkan bahwa perahunya lebih mirip dengan kapal feri daripada kapal kayu reyot yang sering mengangkut pengungsi.

Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa UNHCR mengonfirmasi pendaratan kapal pengungsi ini tetapi menolak untuk membahas rinciannya.

Ditolak kembali ke Bangladesh

Dari 90 orang yang berangkat dalam pelayaran tersebut, delapan orang ditemukan tewas oleh Penjaga Pantai India yang melacak dan kemudian memperbaiki kapal rusak itu pada Februari lalu.

Pihak berwenang India memberikan makanan dan bahan-bahan kebutuhan pokok bagi para pengungsi yang selamat tetapi tidak mengizinkan mereka untuk mendarat di pantainya. Bangladesh juga menolak kembalinya 81 pengungsi yang selamat. 

Selama tiga bulan terakhir, badan-badan bantuan internasional dan anggota keluarga para pengungsi yang berada di dalam kapal telah berulang kali mengajukan permohonan ke India, Bangladesh, Myanmar, dan Malaysia untuk memberikan informasi tentang nasib para pengungsi di sana. Pihak berwenang di Indonesia belum memberikan komentar hingga berita ini diturunkan.

Iming-iming bekerja di Malaysia dan Indonesia

Rohingya adalah kelompok minoritas yang sebagian besar tidak diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar. Lebih dari 1 juta pengungsi Rohingya dari Myanmar kini tinggal di kamp-kamp yang padat di Bangladesh, termasuk puluhan ribu yang melarikan diri setelah militer Myanmar melakukan penumpasan besar-besaran terhadap Rohingya pada tahun 2017. 

Para penyelundup manusia sering menipu pengungsi Rohingya, membujuk mereka untuk melakukan perjalanan dengan kapal reyot dengan iming-iming untuk bekerja di negara-negara Asia Tenggara. Malaysia dan Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim memang menjadi tujuan bagi Rohingya yang mencoba melarikan diri dari Bangladesh.

Pada bulan September 2020, sekitar 300 etnis Rohingya mendarat di Indonesia setelah berbulan-bulan terombang-ambing di laut lepas. Mereka melaporkan telah dipukuli oleh pedagang manusia saat tengah berjuang melawan lapar dan haus, dan mayat mereka yang meninggal langsung dibuang ke laut.

Pada Juni 2020, hampir 100 etnis Rohingya tiba di wilayah yang sama di Indonesia. Masih belum jelas apakah kelompok yang baru mendarat ini akan diizinkan tinggal, tetapi para migran sebelumnya telah ditempatkan di kamp-kamp pengungsi.

ae/hp (Reuters, AFP)