Bangladesh Relokasi Pengungsi Rohingya ke Pulau Tak Berpenghuni | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 04.12.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Rohingya

Bangladesh Relokasi Pengungsi Rohingya ke Pulau Tak Berpenghuni

Pihak berwenang mengatakan bahwa para pengungsi pergi atas kehendak mereka. Relokasi dapat mengurangi kepadatan di kamp-kamp pengungsian yang telah menampung lebih dari 1 juta kaum Rohingya asal Myanmar ini.

Pengungsi Rohingnya di kamp pengungsian Ukhia, Cox's Bazar, Bangladesh

Pengungsi Rohingnya di kamp pengungsian Ukhia, Cox's Bazar, Bangladesh

Jumat (04/12), pihak berwenang di Bangladesh mulai merelokasi kloter pertama pengungsi Rohingya yang berjumlah lebih dari 1.500 orang. Ini merupakan bagian dari rencana Bangladesh untuk merelokasi pengungsi Rohingya ke sebuah pulau terpencil, meski mendapat kecaman dari sejumlah kelompok hak asasi manusia.

Pihak berwenang mengatakan bahwa hanya akan merelokasi pengungsi yang bersedia pergi. Langkah ini dinilai dapat mengurangi kepadatan kronis di kamp-kamp pengungsian di negara Asia Selatan itu yang telah menampung lebih dari 1 juta kaum Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar.

“Pemerintah tidak membawa siapa pun ke Bhashan Char secara paksa. Kami mempertahankan posisi ini,” kata Menteri Luar Negeri Bangladesh Abdul Momen pada Kamis (03/12) malam waktu setempat.

Pejabat angkatan laut mengatakan sebanyak tujuh kapal dikerahkan untuk mengangkut kaum minoritas Muslim Myanmar ini dan dua kapal lainnya untuk mengangkut logistik.

Sebelumnya, lebih dari 300 pengungsi Rohingya dibawa ke Bhashan Char pada awal tahun ini setelah ratusan pengungsi tersebut ditemukan terombang-ambing di tengah laut saat hendak melarikan diri dari Bangladesh.

Apakah relokasi ke pulau tak berpenghuni dipaksakan?

Para pengungsi dan relawan di kamp-kamp pengungsian mengatakan bahwa beberapa orang dipaksa pergi ke Bashan Char, pulau yang rawan terendam air laut. Dua puluh tahun lalu, hanya ada air pada titik di Teluk Benggala ini.

Refugees International mengatakan langkah tersebut merupakan “penahanan massal yang berbahaya bagi orang-orang Rohingya yang melanggar ketentuan hak asasi manusia internasional.“

Para relawan mengatakan pengungsi mendapat tekanan dari para pejabat pemerintahan. Mereka diancam dan ditawari uang agar mau pergi ke pulau itu.

Sementara PBB mengatakan bahwa mereka memiliki “informasi terbatas“ tentang rencana relokasi ini dan tidak terlibat dalam persiapannya.

Dua pengungsi mengaku nama mereka muncul di daftar nama pengungsi yang akan direlokasi tanpa persetujuan mereka. Daftar tersebut disusun oleh pejabat pemerintah setempat.

“Mereka membawa kami ke sini dengan paksa,“ ujar salah seorang pengungsi pria yang berusia 31 tahun kepada kantor berita Reuters melalui sambungan telepon saat dalam perjalanan dari kamp di dekat Cox’s Bazar.

“Tiga hari lalu, ketika saya mendengar keluarga saya masuk daftar, saya kabur dari blok itu, tapi kemarin saya ditangkap dan dibawa ke sini,“ lanjutnya.

Pengungsi lainnya, seorang perempuan yang berusia 18 tahun mengatakan bahwa suaminya memasukkan nama mereka ke dalam daftar karena salah mengira bahwa itu adalah daftar jatah makan. Suaminya kemudian melarikan diri ketika diberitahu akan dibawa ke Bhasan Char, sementara ia bersembunyi di kamp.

Mengapa Rohingya mengungsi?

Tiga tahun lalu, operasi militer di Myanmar menghancurkan seluruh desa Muslim Rohingya. Penyelidik PBB mengatakan bahwa sebanyak 100 ribu orang tewas dalam operasi tersebut dan lebih dari 730 ribu orang melarikan diri ke Bangladesh dari pembantaian tersebut. Penyelidik PBB menyebut bahwa itu merupakan “pembersihan etnis terencana.“

Namun, Myanmar membantah melakukan genosida dan mengatakan bahwa pasukannya menargetkan militan Rohingya yang menyerang pos-pos kepolisian.

rap/vlz (AP, Reuters)