″Kapal Kami Sudah Penuh″ | dunia | DW | 25.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

"Kapal Kami Sudah Penuh"

Hasil Referendum di Swiss yang memperketat UU suaka dan hak-hak orang asing ibarat ledakan amarah Eropa atas keberadaan pencari suaka. Komentar dari Daniela Kahls

Sebuah isyarat jelas muncul dari Swiss pada hari minggu kemarin. 68 persen penduduk negeri itu memilih memperketat undang-undang pemberian suaka, meskipun jumlah pencari suaka di Eropa telah turun ke titik terendah sejak 20 tahun lalu. Dengan tarikan nafas yang sama, Swiss juga semakin memperkecil kemungkinan bekerja bagi orang asing yang tidak berasal dari Uni Eropa.

‘Kapal kami sudah penuh’, begitulah kira-kira sinyal yang datang dari Swiss. Memang latar belakang dari inisiatif tersebut adalah manuver politik milik kelompok mayoritas sayap kanan di pemerintahan. Namun harus pula diakui, bahwa Kalkulasi yang dibuat Menteri Kehakiman, Christoph Blocher bisa mengenai sasaran, hanya karena Blocher mengelus kekhawatiran sebagian besar masyarakat Swiss. 77 persen orang Swiss merasa takut terhadap pengaruh asing yang terlalu besar. Hampir sebanyak itu pula yang memilih pengetatan undang-undang orang asing.

Siapapun yang selama ini melihat Swiss sebagai contoh dari keterbukaan dan pluralisme, maka dia setidaknya harus menyesuaikan lagi gambarannya itu. Perekonomian Swiss selalu mengalami pertumbuhan yang signifikan karena 20 persen penduduk negeri ini adalah orang asing. Dan kekuatan utama di belakang perekonomian Swiss adalah pekerja-pekerja asing. Dari pembuat jam hingga para pekerja di hotel-hotel. Angka pengangguran di tingkat 3 persen pun seakan membuat moto bahwa orang menrampas pekerjaan, tidak lagi berarti.

Akan tetapi secara emosional, situasi yang harus dihadapi masyarakat Swiss memang tampak sangat berbeda. Pengesahan Undang-undang yang menjamin kebebasan berpindah negara bagi warga Uni Eropa, ternyata dianggap terlalu berlebihan. ‘Sekarang cukup sudah, kami harus memfokuskan diri untuk Maslaah kami sendiri supaya Segalanya tetap berjalan dengan baik.’ Kira-kira begitulah terjemahan bebas dari hasil referendum yang digelar pada hari minggu lalu.

Padahal situasi seperti ini bukan lagi hal baru di Swiss. Tahun lalu, dalam referendum yang sama, Jumlah orang yang mendukung pengetatan Undang-undang orang asing tetap sebesar 70 persen. Meskipun demikian, hasil referendum tersebut tetap menggelisahkan. Karena terutama isyarat dari Swiss itu bukannya tidak akan didengar di seluruh Eropa.

Bahkan terdapat kekhawatiran, bahwa hasil referendum tersebut akan membawa perubahan besar-besaran di Eropa. Peluangnya tetap akan ada jika para politikus di Brussel, Berlin, Paris ataupun Madrid mau bangun lebih pagi. Lebih penting lagi, jika seluruh negara anggota Uni Eropa mau berkumpul pada satu meja untuk mempertemukan kebijakan bersama dalam hal pemberian suaka dan hak-hak orang asing.

Karena bila satu negara sudah memasak supnya sendiri seperti Swiss, dan setiap negara saling berlomba-lomba untuk memperketat kebijakan orang asingnya, maka bisa dikatakan, bahwa masa depan kemanusiaan di Eropa akan tampak suram.

Daniela Kahls

Iklan