″Kapal Hantu” Dalam Mitos dan Realita | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 20.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kapal Hantu

"Kapal Hantu” Dalam Mitos dan Realita

Sebuah kapal yang ditinggalkan terdampar di pantai Irlandia baru-baru ini jadi berita. Kisah "kapal hantu” memang ada dalam mitos-mitos rakyat maupun dalam dunia nyata.

Kapal hantu MV Alta di Irlandia (AFP/Irish Coast Guard)

Kapal hantu MV Alta

Fenomena kapal hantu, maksudnya kapal yang ditemukan tanpa awaknya, adalah fenomena yang sering digambarkan dalam cerita-cerita rakyat, tapi sering juga ditemukan dalam dunia nyata.

The Flying Dutchman, misalnya, adalah sebuah kapal mitos yang konon ditakdirkan untuk berlayar selamanya dan menjadi momok bagi para pelaut yang merasa pernah melihatnya.

Kapal Lady Lovibond kurang dikenal, tapi kapal itu diduga mengalami kerusakan di pantai Kent di Inggris pada Februari 1748. Kapal itu disebut-sebut selalu muncul kembali sebagai kapal hantu setiap 50 tahun. Tetapi tidak ada fakta yang mendukung peristiwa kecelakaan itu atau kemunculannya kembali.

Fenomena kapal yang ditinggalkan di masa kini "tidak seperti di masa lalu yang lebih sering terjadi ketika perompak menyerang kapal penumpang dan mengambil awaknya sebagai budak, atau mereka dibunuh dan dibuang ke laut," kata David Abulafia, Profesor Emeritus Sejarah Mediterania di Universitas Cambridge dan penulis buku The Boundless Sea: A Human History of the Oceans (Laut Tanpa Batas. Sebuah sejarah samudera-samudera).

Sekarang ada juga kapal angkutan dan kargo yang sering ditinggalkan di laut, karena ada insentif asuransi. Jadi kapal yang rusak lebih menguntungkan ditinggalkan daripada diperbaiki, tambahnya.

"Ini jadi masalah yang cukup besar di Samudera Hindia, ketika perompak Somalia masih sering beroperasi, dan kelihatannya beberapa perusahaan pelayaran sengaja menyingkirkan beberapa kapal tua mereka."

Kapal hantu Korea Utara

Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang mengalami gelombang datangnya kapal hantu yang hanyut ke pantai. Sebagian besar kapal itu diidentifikasi berasal dari Korea Utara. Beberapa kapal ditemukan dengan anggota awak kapal yang mati, sementara awak kapal yang lain ditemukan selamat. Beberapa orang yang ditemukan selamat adalah nelayan yang minta dikirim kembali ke Korea Utara. Yang lain dicurigai memang ingin membelot.

"Tidak diragukan lagi ada bahaya untuk lingkungan," kata David Abulafia. Kapal hantu bisa menimbulkan risiko tidak hanya bagi awak kapal yang meninggalkannya, baik secara paksa atau dengan sukarela, tetapi juga bagi kapal lain, manusia, dan lingkungan.

Kapal tak berawak juga berisiko menabrak anjungan pengeboran minyak lepas pantai atau kapal lain. Atau bahan bakarnya dan bahan kimia bocor ke laut.

"Jika sebuah kapal kontainer berkeliaran tanpa awak, mungkin akan tenggelam dan ribuan kontainer dapat tenggelam ke dasar laut dan mencemari air laut. Ini sangat tidak diinginkan," kata David Abulafia. (hp/vlz)