Jerman Desak Solidaritas Global Lawan Corona, Bukan ′Nasionalisme Vaksin′ | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 26.10.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Jerman Desak Solidaritas Global Lawan Corona, Bukan 'Nasionalisme Vaksin'

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier meminta dunia bekerja sama dalam memerangi virus corona, dan tidak memikirkan kepentingan negaranya sendiri dengan mengamankan vaksin. WHO mendukung desakan tersebut.

Bundespräsident Frank-Walter Steinmeier

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier pada Minggu (25/10) meminta agar negara-negara bekerja sama dan tidak egois dalam melawan virus corona, khususnya dalam pengembangan vaksin.

Pesan Steinmeier yang merujuk pada "nasionalisme vaksin", muncul dalam video yang diputar pada pembukaan KTT Kesehatan Dunia di Berlin. Nasionalisme vaksin adalah kondisi ketika satu negara ingin mengamankan stok vaksin pertama demi kepentingan negaranya sendiri.

"Tidak ada yang aman dari COVID-19; tidak ada yang aman sampai kita semua selamat dari virus itu. Bahkan mereka yang menaklukkan virus di dalam perbatasan negara mereka sendiri tetap menjadi ‘tahanan’ di dalam perbatasannya, hingga virus ditaklukkan di mana-mana,” kata Steinmeier.

Steinmeier mengatakan tren negara-negara yang menyimpan vaksin dalam jumlah besar untuk kebutuhan populasinya sendiri tidak akan membantu. Sebaliknya, Steinmeier mendesak negara-negara untuk bekerja sama mengatasi pandemi dengan lebih efektif.

“COVID-19 menantang kita semua. Virus tidak mengenal batas. Tidak peduli dengan kewarganegaraan para korbannya. Virus akan terus mengalahkan setiap pembatas di masa depan jika kita tidak menghadapinya bersama. Dalam menghadapi virus, tidak diragukan lagi bahwa kita adalah komunitas global. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: apakah kita bisa bertindak seperti itu? " ujarnya.

Steinmeier merujuk ke Amerika Serikat (AS) sebagai negara yang paling parah terkena dampak pandemi virus corona, dengan lebih dari 225.000 kematian dan lebih dari 8,6 juta kasus. Dia mendesak AS untuk bergabung dengan aliansi vaksin global COVAX untuk membantu mengembangkan dan mendistribusikan vaksinasi, guna melawan virus corona secara internasional.

"Tidak ada negara yang kurang sukses dalam upayanya (mengatasi virus corona) yang telah dilakukan sejauh ini seperti Amerika Serikat," katanya. "Oleh karena itu, saya mengimbau pemerintah AS berikutnya, siapa pun itu mulai 20 Januari, untuk bergabung dengan inisiatif COVAX,” sebutnya. 

WHO dukung pernyataan Presiden Jerman

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memberikan komentar senada.

"Negara-negara maju harus mendukung sistem kesehatan di negara-negara yang kekurangan sumber daya," kata Guterres. "Pandemi COVID-19 adalah krisis terbesar di zaman kita," tambahnya.

Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghenreyesus mengatakan satu-satunya cara untuk pulih dari pandemi adalah dengan memastikan negara-negara miskin memiliki akses yang adil ke vaksin. Dia juga mendukung pesan Steinmeier lewat Twitternya.

"Saya berharap dunia mendengar seruan Presiden Frank-Walter Steinmeier untuk solidaritas global guna mengakhiri pandemi COVID-19," tulis Tedros.

Sementara, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan dia yakin Uni Eropa mempunyai tugas memainkan peran utama mengatasi pandemi.

"Saya yakin ini bisa menjadi contoh kasus untuk kesepakatan kesehatan global yang sebenarnya. Kebutuhan akan kepemimpinan begitu jelas dan saya yakin Uni Eropa harus memikul tanggung jawab ini,” katanya.

Secara global, pandemi virus corona telah mengakibatkan lebih dari 42 juta orang terinfeksi dan lebih dari satu juta orang meninggal. Sepuluh kandidat vaksin potensial saat ini sedang dalam uji klinis Tahap 3. Uni Eropa, AS, Inggris, Jepang, dan sejumlah negara lain telah melakukan pemesanan dalam jumlah besar dengan perusahaan pengembang vaksin yang terlibat. (pkp/rap)

 

*Untuk mendapatkan liputan terbaru, dalam bahasa Inggris, tentang wabah virus corona di Asia, Anda bisa berlangganan Newsletter spesial berikut: 

Laporan Pilihan