Jenazah-jenazah Kesepian di Jerman | Sosial | DW | 08.12.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Jerman

Jenazah-jenazah Kesepian di Jerman

Tidak ada keluarga, teman-teman atau rekan-rekan kerja yang hadir di pemakaman. Di Jerman semakin banyak orang dikuburkan oleh dinas pemakaman, terutama di kota-kota besar.

Tampaknya tidak ada yang merindukannya. Mayat dari lelaki berusia 46 tahun ini ditemukan lebih dari delapan bulan setelah ia meninggal di apartemennya di kota Gelsenkirchen, di wilayah industri terbesar di Jerman.

"Saya syok karena tetangganya tidak sadar apa-apa, atau bahkan mereka tidak peduli. Semakin banyak orang menghilang begitu saja dan tidak ada yang peduli. Bukan hanya kematian mereka yang tidak disadari, tetapi juga hidup mereka," ujar Zuzanna Hanussek, seorang pendeta Protestan.

Perpisahan yang sepi

Hanya dua hal yang Hanussek ketahui tentang lelaki ini: nama dan alamatnya. Tidak ditemukan teman atau saudara seorang pun. Tetangganya juga tidak bisa atau tidak bersedia memberi informasi lebih lanjut.

Bersama seorang pastor Katolik, Hanussek memakamkan abunya di sebuah pemakaman di Gelsenkirchen. Tidak ada keluarga atau teman-teman yang menghadiri. Dinas pemakaman kota membayar semua biayanya.

Pemakaman semacam ini jumlahnya semakin tinggi di kota-kota yang padat penduduk, seperti di Hamburg, Berlin dan Köln. Pada tahun 2016, 2300 orang dimakamkan di Berlin tanpa dihadiri keluarga atau kerabat.

Isolasi dan kemiskinan

"Jumlah ini naik antara lain karena penduduk Jerman mencapai usia yang semakin tinggi dan mereka sering hidup sendiri ketika meninggal," papar Stephan Neuser, pimpinan Ikatan Pengurus Pemakaman Jerman kepada DW.

Ia juga mengatakan, masalah keuangan juga semakin mendesak sejak tahun 2004, ketika asuransi kesehatan pemerintah berhenti memberi sokongan untuk pemakaman. Keluarga bertanggung jawab untuk membayar biaya pemakaman di Jerman.

Pemakaman yang dibiayai oleh dinas pemakaman kota dilakukan untuk menguburkan atau mengkremasi jenazah yang meninggal dalam keadaan sendiri dan diklaim oleh keluarga dalam jangka waktu tertentu atau jika keluarga tidak bersedia mengatur pemakamannya.

"Kadang orang tidak bisa mengatasi semua ini," kata Hanussek. Ia menjelaskan, sanak keluarga yang sangat miskin kadang malu untuk mengajukan permohonan bantuan dari departemen sosial, karena dibutuhkan banyak waktu dan semua bukti keuangan harus diperiksa."

'Bantulah orang lain'

Pendeta Hanussek mendirikan sebuah organisasi bernama Ruhesteine, yang ingin agar orang-orang yang meninggal dalam keadaan seperti ini tidak dilupakan begitu saja. Organisasinya juga menyumbang agar nama yang meninggal diukir di batu nisan mereka.

"Kami menyerukan kepada semua untuk ikut mengurus orang-orang lain di lingkungannya," kata Hanussek. Semua orang bisa turut membantu menghancurkan tembok isolasi dan menghindarkan tragedi seperti kematian lelaki di Gelsenkirchen ini, lanjutnya. Ini dimulai dari hal-hal sederhana seperti menyapa dan berbincang dengan tetangga.

Proyek lain dari Zuzanna Hanussek adalah sebuah cafe gratis bagi orang-orang yang tidak punya cukup uang untuk pergi ke cafe biasa. Warga setempat bisa mengunjungi cafe ini dua kali seminggu.

"Ini tidak akan menyelamatkan dunia, tetapi ini sebuah upaya untuk membantu orang-orang untuk keluar dari kesendirian mereka."

DW - Dana Alexandra Scherle (ag/na)

Laporan Pilihan