Meski Izin Ekspor Senjata Jerman Tahun 2020 Turun, Pemerintah Tetap Dikritik | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 12.10.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Jerman

Meski Izin Ekspor Senjata Jerman Tahun 2020 Turun, Pemerintah Tetap Dikritik

Volume izin ekspor senjata yang dikeluarkan pemerintah Jerman tahun 2020 turun tajam dibanding tahun sebelumnya. Tapi pemerintah dikritik karena tujuan utama ekspor senjata adalah Mesir, yang punya catatan HAM buruk.

Produk persenjataan Jerman

Produk persenjataan Jerman

Pemerintah Jerman dari Januari sampai September 2020 menyetujui ekspor senjata senilaii 4,13 miliar euro (78,4 triliun rupiah), sekitar sepertiga lebih sedikit dari periode yang sama tahun lalu, menurut data-data Kementerian Ekonomi.

Izin ekspor senjata selama 2019 secara keseluruhan mencapai nilai total 8,02 miliar euro (128 triliun rupiah) dan mencatat rekor baru.

Tahun ini, penerima utama persenjataan dan perlengkapan militer buatan Jerman adalah Mesir, dengan total ekspor 585,9 juta euro (9,4 miliar rupiah), kata Kementerian Ekonomi ketika menjawab pertanyaan dari anggota parlemen Sevim Dagdele dari partai kiri, Die Linke.

Pengiriman senjata ke Mesir kontroversial di Jerman karena catatan hak asasi manusia yang buruk di negara Afrika Utara itu. Mesir juga dituduh terlibat dalam perang di Yaman dan mengirim senjata ke Libya.

Model kapal selam dari Thyssen Krupp Marine Systems di pameran di Jerman, 2009

Model kapal selam kelas 214 dari Thyssen Krupp Marine Systems di pameran di Jerman, 2009

Mesir pembeli senjata Jerman "yang paling problematis"

Menurut surat jawaban yang dikirim Kementerian Ekeonomi kepada Sevim Dagdele, Mesir tahun 2020 menerima beberapa kapal selam dari produsen senjata dan perlengkapan angkatan laut ThyssenKrupp Marine Systems.

Dua minggu lalu, kapal selam ke-empat "dimandikan" dengan air dari Sungai Nil dalam acara pelepasan secara resmi dari galangan kapal di Kiel. Acara itu dihadiri juga oleh komandan Angkatan Laut Mesir.

"Dengan menjadikan Mesir sebagai penerima utama peralatan perang, pemerintah (Jerman) ikut memicu konflik bersenjata di Yaman dan Libya," kata Sevim Dagdelen dari Die Linke.

Kapal selam Thyssen Krupp Marine Systems di Kiel yang siap dikirim ke Israel, 2014g

Kapal selam ThyssenKrupp Marine Systems di Kiel yang siap dikirim ke Israel, 2014

Menurut Divisi Perdagangan Senjata di Komisi Gereja dan Pembangunan, GKKE, Mesir termasuk negara penerima senjata "yang paling problematis", karena situasi hak asasi manusia di negara itu "sangat buruk"dan ada ancaman negara itu dilanda konflik kekerasan. GKKE setiap tahun merilis laporan tentang ekspor senjata Jerman.

hp/rap (dpa, epd)

Laporan Pilihan