Izin Ekspor Senjata Jerman Kembali Catat Angka Tertinggi | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 08.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Bisnis senjata

Izin Ekspor Senjata Jerman Kembali Catat Angka Tertinggi

Ekspor senjata Jerman kembali mencatat rekor tertinggi, menurut persetujuan perdagangan senjata yang dikeluarkan pemerintah Jerman. Kebanyakan pembelinya dari Uni Eropa dan anggota NATO.

Bisnis ekspor senjata Jerman tahun 2019 yang mendapat izin hingga akhir bulan Oktober telah mencapai nilai 6,35 miliar euro, kata Kementerian Ekonomi dalam pernyataan yang dirilis hari Senin (7/10). Hingga akhir tahun ini, nilai ekspor senjata kemungkinan besar mencatat rekor tertinggi.

Angka tersebut dimuat dalam tanggapan Kementerian Ekonomi yang dikirim kepada Partai Hijau. Bisnis ekspor senjata mencatat peningkatan 75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rekor tertinggi ekspor senjata hingga saat ini tercatat senilai 7,86 miliar euro yang dicapai tahun 2015.

Ijin penjualan senjata selama ini dikeluarkan oleh Dewan Keamanan yang dipimpin oleh Kanselir Angela Merkel. Anggota komisi ini antara lain Kementerian Pertahanan, Kementerian Hukum, Kementerian Ekonomi, Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri.

Volume ijin penjualan senjata memang bukan memuat nilai pengiriman senjata, melainkan bisnis senjata yang sudah disetujui pemerintah. Volume bisnis senjata yang disetujui ini dianggap sebagai indikator kebijakan pemerintah Jerman soal penjualan senjata.

Symbolbild | Deutschland | Militär (picture-alliance/dpa/P. Schulze)

Kendaraan lapis baja Jerman tipe Leopard dan Puma

Isu yang kontroversial

Kebanyakan penjualan senjata yang diijinkan ditujukan kepada mitra-mitra Jerman yang termasuk anggota Uni Eropa dan anggota NATO. Salah satu bisnis terbesar senilai 1,77 miliar euro ditujukan ke Hongaria, yang anggota Uni Eropa maupun NATO. Hongaria tahun ini memang mencoba menggandakan anggaran militernya.

Yang terutama dikritik adalah ijin penjualan senjata ke Mesir senilai 802 juta euro dan ke Uni Emirat Arab senilai 206 juta euro, karena kedua negara terlibat dalam perang di Yaman.

Pemerintah Jerman sebenarnya memutuskan untuk meredam ekspor senjata ke kawasan konflik atau ke negara yang terlibat dalam konflik militer. Namun memang dalam "situasi kekecualian" ekspor senjata bisa diizinkan.

Ekspor senjata dari Jerman ke Arab Saudi juga sempat dibekukan setelah kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, namun kemudian dilanjutkan lagi.

Secara umum Jerman melakukan ekspor senjata ke negara-negara NATO, ke AS, Inggris dan Norwegia, dan ke Australia dan Korea Selatan, yang diperlakukan Jerman seperti anggota aliansi militer.

Deutschland Waffenproduktion & Waffenexport | Rheinmetall Defence (picture-alliance/dpa/H.C. Dittrich)

Panser pelindung tipe PUMA produksi perusahaan senjata Rheinmetall

Profit untuk perdamaian?

Meningkatnya izin bisnis senjata terutama dikritik oleh partai-partai oposisi di parlemen Jerman, terutama Partai Hijau dan Kiri.

Politisi Partai Hijau Omid Nouripour, yang pernah berkoalisi dengan Partai Sosialdemokrat SPD mengatakan "sangat pahit bahwa SPD hari ini menganggap profit bagi industri senjata lebih penting daripada perdamaian."

Sedangkan wakil ketua fraksi Partai Kiri, Sevim Dagdelen, menyebut kebijakan koalisi pemerintahan Uni Kristen-SPD sebagai "lelucon".

Seorang juru bicara Kementerian Ekonomi menerangkan, bagaimanapun persetujuan ekspor senjata bukanlah "ukuran yang tepat" mengenai kebijakan pemerintah secara keseluruhan. Karena ijin ekspor juga mencakup peralatan seperti kaca pengaman untuk gedung kedutaan dan kendaraan untuk misi PBB.

Tonton video 02:58

Saudi Arabia, UAE use German-made arms

hp/vlz (dpa, kna)

Audio dan Video Terkait