Israel Kembali Setujui Pembangunan Permukiman di Tepi Barat | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 28.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Tepi Barat

Israel Kembali Setujui Pembangunan Permukiman di Tepi Barat

Kritikus berpendapat langkah ini akan memecah Tepi Barat menjadi dua dan semakin merusak prospek negara Palestina di masa depan.

Israel umumkan pembangunan ratusan permukiman baru di wilayah pendudukan di Tepi Barat. Ini adalah langkah terbaru dari serangkaian janji untuk memperluas permukiman ilegal jelang pemilu Israel.

Pada Kamis (27/02) Israel menyetujui hampir 1.800 rumah permukiman baru di wilayah Tepi Barat yang didudukinya.

Kementerian Pertahanan Israel mengatakan bahwa komite perencanaan telah "menyetujui pembangunan 1.800 unit rumah berdasarkan proposal Menteri Pertahanan Naftali Bennett."

"Kami tidak menunggu, kami bertindak," kata Bennett, yang adalah anggota partai sayap kanan New Right. "Kami tidak akan memberikan satu inci pun tanah Israel kepada orang-orang Arab, tetapi untuk itu, kami harus membangun di sana."

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Selasa (25/02) mengatakan bahwa 3.500 rumah permukiman ilegal baru akan dibangun di wilayah E1 yang sensitif namun strategis di wilayah pendudukan Israel di Tepi Barat.

Pemerintah Israel, yang perdana menterinya saat ini sedang menghadapi pengadilan korupsi, telah membuat serangkaian janji untuk memperluas permukiman ilegal Yahudi sebelum pemilu 2 Maret mendatang.

Tuai kemarahan dan dukungan

Pengumuman ini dipuji oleh Dewan Yesha, demikian lapor kantor berita AFP. Dewan tersebut mewakili pemukim Yahudi di seluruh Tepi Barat.

"Keputusan ini memperkuat kehadiran Israel di Yudea dan Samaria dan kami merasa senang," kata Ketua Dewan, David Elhayani, dalam sebuah pernyataan. Elhayani merujuk Tepi Barat dengan nama yang tertulis di Alkitab.

Kritikus dan anggota komunitas internasional mengecam pembangunan permukiman baru di kawasan E1 tersebut. Mereka mengatakan langkah ini akan memecah Tepi Barat menjadi dua dan semakin merusak prospek negara Palestina di masa depan.

Akan dibangun lebih banyak hunian

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan organisasinya mendukung dua negara tersebut untuk hidup aman dan damai dengan perbatasan yang diakui sebelum tahun jalur 1967. Israel merebut Tepi Barat dan Yerusalem Timur dalam Perang Enam Hari tahun 1967.

Organisasi nirlaba yang berbasis di Yerusalem dan menentang permukiman, Peace Now, mengonfirmasi bahwa ada total 1.739 rumah dalam rencana pembangunan, dan 92 persen di antaranya berada jauh di pedalaman Tepi Barat.

Masih menurut Peace Now, sebuah wilayah industri baru juga telah disetujui untuk dibangun di dekat kota Palestina, Qalqilya, di Tepi Barat.

Sebelumnya, pada 28 Januari 2020 Presiden Amerika Serikat Donald Trump meresmikan rencana perdamaian Timur Tengah yang menuntut warga Palestina untuk menerima permukiman di Tepi Barat. Langkah ini menyebabkan kemarahan meluas di seluruh wilayah serta Uni Eropa.

ae/vlz (AFP, AP)