1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Masker dan sampah di masa pandemi mengalir hingga ke laut
Gambar ilustrasi: Barang-barang bekas yang dibuang selama masa pandemiFoto: DW/S. Hossain

Inovasi Atasi Sampah Plastik di Masa Pandemi COVID-19

3 Agustus 2021

Pandemi COVID-19 menyisakan problem timbunan sampah medis yang mencemari sungai dan laut. Beberapa inovasi dilakukan untuk menghindari lebih banyak cemaran.

https://www.dw.com/id/inovasi-atasi-sampah-plastik-di-masa-pandemi-covid-19/a-58738445

Pandemi COVID-19 menciptakan gunungan sampah medis plastik, mulai dari masker bedah, sarung tangan hingga pakaian alat pelindung medis yang mencemari darat dan laut. Situasi yang muncul, mengkhawatirkan para dokter dan pemerhati lingkungan.

Seorang pengusaha muda di Meksiko, Tamara Chayo menciptakan berbagai APD (alat pelindung diri) yang dapat digunakan berulang kali. Ia berharap bisa membantu menghentikan mengalirnya berton-ton sampah APD medis sekali pakai ke tempat pembuangan sampah, insinerator (pembakaran limbah) dan saluran air. Chayo mengatakan APD sekali pakai tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat menyebarkan virus yang bisa bertahan hingga tiga hari. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran khususnya di negara-negara di mana pengelolaan limbah medisnya buruk.

"Sebagian besar keluarga saya berprofesi sebagai dokter dan perawat. Mereka berpikir, oke, saya menyelamatkan manusia, tapi saya tidak menyelamatkan planet ini," kata Chayo kepada kantor berita Reuters.

"Dan jika semuanya dibuang ke tempat penampungan sampah, hal itu akan menciptakan lebih banyak penyakit, sehingga menjadi siklus yang tidak pernah berakhir."

Chayo, seorang mahasiswa teknik kimia berusia 21 tahun, ikut mendirikan MEDU Protection pada pertengahan 2020 untuk mengembangkan pakaian pelindung diri berkelanjutan, guna melindungi para profesional kesehatan yang merawat pasien COVID-19 pada saat persediaan APD terbatas. Pakaian itu terbuat dari kain yang mirip dengan pelapis yang digunakan di laboratorium penelitian virus.

Chayo mengatakan seorang dokter dapat menggunakan APD buatannya, yang bisa dicuci 50 kali tanpa kehilangan sifat pelindungnya. Ini berarti setiap pakaian menghemat 200 produk medis dari plastik yang dibuang tempat pembuangan sampah dan insinerator.

"Saya sangat senang dengan temuan ini," kata Chayo, yang banyak dari anggota keluarganya bekerja di garis terdepan penanggulangan COVID-19. "Kami tidak hanya membuat pakaian medis; kami ingin menciptakan gerakan untuk industri medis yang lebih hijau."

"APD Penyelamat Planet"

Pakaian dari perusahaan MEDU dilengkapi dengan teknologi QR yang memberi tahu petugas kesehatan, melalui aplikasi smartphone, berapa kali produknya telah dicuci.

Setelah 50 kali pemakaian, APD dikembalikan ke MEDU yang mendisinfeksi dan mengolahnya menjadi kain kapas dan tas untuk mengemas produknya.

Chayo, yang berencana berekspansi ke Amerika Serikat dan Prancis memperkirakan, pakaian medis yang dapat digunakan kembali bisaa memangkas pengeluaran APD rumah sakit hingga 90%. Sekitar 129 miliar masker sekali pakai, sebagian besar terbuat dari serat mikro plastik dan 65 miliar sarung tangan sekali pakai telah digunakan setiap bulan selama pandemi, demikian menurut sebuah studi di jurnal Environmental Science and Technology.

PBB memperkirakan sekitar 75% sampah plastik yang dihasilkan di masa pandemi – termasuk limbah medis dan kemasan dari pengiriman pesanan online ke rumah-rumah selama masa 'lockdown'– kemungkinan besar berakhir di tempat pembuangan sampah atau di laut.

Produksi plastik yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai bahan dasarnya — dan dibakar di incenerator, juga merupakan faktor pendorong perubahan iklim yang signifikan. Tom Dawson, pendiri Revolution-ZERO, yang telah mengembangkan berbagai "APD penyelamat planet" di Inggris, mengatakan, pandemi telah membalikkan lagi kemajuan yang tercapai baru-baru ini dalam mengurangi penggunaan plastik.

Meskipun ada minat "fenomenal" untuk membuat APD yang dapat digunakan kembali, Dawson mengatakan ada hambatan dalam penerapannya.

Ketika pandemi melanda, banyak pemerintah menimbun APD sekali pakai yang mereka suplai secara gratis ke berbagai rumah sakit, yang berarti rumah sakit tidak memiliki insentif ekonomi untuk membeli produk yang dapat digunakan kembali.

Masker Menjadi Batu Bata

Dari Inggris hingga India, para pengusaha juga mencari cara untuk mendaur ulang APD plastik — mengubahnya menjadi produk berguna, mulai dari kotak peralatan hingga batu bata.

Thermal Compaction Group (TCG) di Wales, membuat mesin seukuran kulkas besar yang melelehkan hazmat, masker, hairnet, pembungkus baki dan tirai kamar menjadi batu bata plastik.

Plastik produknya dapat digunakan untuk membuat beragama barang, mulai dari kursi sekolah hingga benang untuk pakaian. "Benar-benar mengubahnya menjadi produk multiguna," kata Direktur Pelaksana TCG, Mat Rapson.

Manusia Daur Ulang

Di India, pengusaha Binish Desai mengubah APD menjadi bata dan panel konstruksi untuk membangun perumahan dan gedung sekolah berbiaya murah.

Desai, 27 tahun, mulai membuat batu bata dari limbah sejak remaja. Inovasinya adalah bata baru yang terbuat dari masker yang didesinfeksi dan dipotong kecil-kecil serta APD lainnya yang dicampur dengan limbah pabrik kertas dan bahan pengikat.

Pengusaha yang dijuluki "Manusia Daur Ulang dari India" itu mengatakan,  bata prduk perusahaanya itu tiga kali lebih kuat dari bata bebahan dasar tanah, dua kali lebih besar ukurannya, dan harganya hanya setengah dari bata pada umumnya.

Masker biasanya dikumpulkan dari "tempat sampah ekologis" yang dipasang di rumah sakit, restoran, dan tempat umum lainnya.

Desai, yang kisah hidupnya sedang difilmkan oleh sebuah perusahaan produksi besar India, ingin memperluas produknya ke Inggris, Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil. Pengusaha yang mendirikan Eco-Eclectic Technologies pada tahun 2016 ini, awalnya berencana untuk mengekspor bata produksinya ke Brasil, tetapi akhirnya diputuskan membangun pabrik di negara itu untuk memproses limbah lokal.

"Kami percaya pada usaha sosial mikro, jadi alih-alih memiliki satu pabrik besar, kami memiliki beberapa pabrik kecil di seluruh India sehingga kami menciptakan lapangan kerja lokal serta mendaur ulang limbah lokal," katanya. Desai meyakini India - dapat menjadi pemimpin global dalam teknologi zero waste.

"Mengubah perilaku - tentu saja," katanya. "Pandemi telah membuat kami jauh lebih sadar tentang berapa banyak limbah yang kami hasilkan dan hal itu tidak berkelanjutan."

ap/as(reuters)