1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Presiden Rusia, Vladimir Putin, (ki.) dan Perdana Menteri India, Narendra Modi, (ka) di New Delhi, 2021.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, (ki.) disambut Perdana Menteri India, Narendra Modi, (ka) di New Delhi, 2021.Foto: Money Sharma/AFP/Getty Images
PolitikIndia

Inggris dan Rusia Bergantian Melobi India

1 April 2022

Pejabat kedua negara silih berganti sambangi New Delhi di tengah tarik ulur diplomasi seputar invasi Rusia ke Ukraina. Moskow ingin menjamin pertalian militer, sementara India berusaha kurangi kebergantungan dari Rusia

https://www.dw.com/id/inggris-dan-rusia-bergantian-melobi-india/a-61330221

Krisis diplomasi akibat Invasi Rusia terhadap Ukraina perlahan membuat India terdesak. New Delhi saat ini masih sangat bergantung dari impor senjata Rusia, namun juga berharap besar pada aliansi pertahanan The Quad bersama AS, Australia dan Jepang untuk melawan Cina. 

Setelah menemui rekan sejawatnya di Cina pekan lalu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, pada Jumat (1/4) melawat ke New Delhi untuk menemui Menlu Subrahmanyam Jasihankar.

"Kami sangat menghargai bahwa India melihat situasi ini dengan menimbang semua fakta, dan tidak hanya satu pihak,” katanya begitu tiba di India. "Kami akan terus melanjutkan kerjasama di bidang energi, sains dan teknologi, antariksa, serta industri farmasi,” imbuh Lavrov.

Jaishankar mengatakan, kedua negara selama ini memandang penting perluasan kerjasama bilateral, namun menimbang perlunya pembahasan lebih lanjut di tengah "situasi internasional yang sulit.”

"India, sebagaimana yang Anda tahu, selalu mendukung langkah mengatasi perbedaan dan sengketa melalui dialog dan diplomasi,” kata dia.

Lavrov dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Narendra Modi sebelum kembali ke Moskow pada Jumat (1/4) malam. 

Delegasi pejabat tinggi kedua negara antara lain diagendakan membahas mekanisme pembayaran minyak dengan mata uang Rubel dan Rupee. Pertalian dagang itu kini dipersulit oleh sanksi ekonomi terhadap Rusia, lapor Reuters.

Pendekatan barat

Di Washington, wakil penasehat keamanan nasional, Daleep Singh mengatakan, pemerintah Amerika Serikat tidak akan menetapkan "garis merah” bagi India untuk mengimpor minyak dari Rusia. Tapi dia mengakui pihaknya tidak ingin melihat adanya "akselerasi dramatis” dalam jumlah pembelian.

Hal serupa diungkapnya Menteri Luar Negeri Inggris, Liz Truss, saat berkunjung ke India untuk menemui rekan sejawatnya, Jasihankar, Kamis (31/1). Keduanya membahas kerjasama pertahanan, seiring upaya New Delhi mengurangi kebergantungan dari Rusia, kata seorang pejabat India kepada AP.

Liz Truss berusaha membujuk India agar menaati sanksi barat terhadap Rusia, dengan menutup akses Moskow terhadap cadangan emas, serta keuntungan dari perdagangan minyak dan gas. Dia mengatakan, hal yang sama akan dibahas pekan depan dalam KTT G7 yang mengagendakan kebergantungan energi terhadap Rusia.

Negara-negara barat sempat dibuat kecewa oleh keengganan India mengecam invasi Rusia terhadap Ukraina. Dalam sebuah pertemuan terpisah di New Delhi, Truss menegaskan pentingnya bagi negara-negara demokrasi di dunia untuk menentang agresi Presiden Vladimir Putin. 

"Jika dia berhasil menggulingkan sebuah negara berdaulat, lantas pesan seperti apa yang akan diterima oleh  agresor lain?” tukasnya di Forum Staregis India-Inggris. 

"Dampak krisis ini sangat luas. Hal ini menggarisbawahi pentingnya bagi negara-negara yang sepemikiran untuk saling memperkuat kooperasi, dan bagi kami untuk bekerjasama secara lebih erat dengan India.” 

rzn/as (ap, afp)