1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sistem rudal S-400 dan radar A96L6 buatan Rusia
Sistem rudal S-400 dan radar A96L6 buatan Rusia Foto: Vitaliy Ankov/Sputnik/dpa/picture alliance
KonflikIndia

Terancam Sanksi AS, India Kaji Ulang Sistem Alutsista Rusia

14 Maret 2022

India, yang mengandalkan persenjataan Rusia untuk melawan Cina, menghadapi misi pelik menghindari sanksi Amerika Serikat menyusul invasi Ukraina. Hal itu mendorong New Delhi mengkaji ulang sistem pertahanannya.

https://www.dw.com/id/terancam-sanksi-as-india-kaji-ulang-sistem-alutsista-rusia/a-61121633

Sanksi Amerika Serikat dan Eropa terhadap Rusia dikhawatirkan bisa menganggu suplai suku cadang dan sistem persenjataan bagi militer India. Saat ini, hampir 60 persen alutsista yang digunakan India diimpor dari Rusia.

Presiden AS, Joe Biden, sempat menyebut adanya perbedaan tak terjembatani dengan New Delhi ketika India bersikap abstain terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam Rusia. Perdana Menteri Narendra Modi sejauh ini juga menolak mengritik Rusia soal invasi terhadap Ukraina.

Sikap gamang New Delhi bisa dipahami, mengingat antara 2016 hingga 2019, Rusia bertanggungjawab atas hampir 49% impor senjata oleh India, lapor lembaga penelitian konflik, SIPRI. 

Kebergantungan India sedemikian besar, ia tidak hanya mengandalkan Rusia untuk memasok suku cadang, tetapi juga untuk memodernisasi sistem alutsista dan transfer teknologi untuk memperkuat kapasitas industri senjata di dalam negeri.

"Rusia adalah satu-satunya negara yang mau menjual teknologi kapal selam nuklirnya kepada India. Apakah ada negara lain yang mau berbuat serupa?” tanya Letnan Jendral D.S. Hooda, bekas kepala staf gabungan militer India.

"Angkatan Laut India punya satu kapal induk, buatan Rusia. Sejumlah besar pesawat tempur dan sekitar 90 persen tank yang digunakan India juga buatan Rusia,” kata Sushant Singh, pengamat militer di Center for Policy Research.

Terhadang keruwetan geopolitik

India sejak lama berusaha mengurangi kebergantungan dari Rusia dengan membeli senjata dari Prancis dan Israel. Namun begitu kedua negara hanya menyumbang 18 dan 13 persen pada postur belanja alutsista India. 

Hubungan dengan AS yang pasang surut membuat New Delhi cendrung mengutamakan Rusia dalam pengadaan senjata. Namun sejak invasi terhadap Ukraina, kebijakan tersebut terancam menjadi bumerang, terutama menyangkut kesepakatan pembelian sistem rudal S-400 yang dibuat pada 2018 silam.

AS sebelumnya sudah berulangkali memperingatkan India agar membatalkan kesepakatan tersebut agar terhindar dari sanksi AS. Embargo yang awalnya dijatuhkan untuk menghukum invasi Rusia terhadap Krimea itu kini diperluas menyusul eskalasi di Ukraina. 

India berdalih, sistem rudal darat-udara milik Rusia merupakan komponen utama untuk menangkal agresi Cina. Permusuhan dengan jiran di utara itu perlahan memanas seputar perbatasan di kawasan kaya sumber daya air di Himalaya. 

Ancaman sanksi AS dirasa pelik, terutama ketika Cina menggandakan keberadaan militernya di perbatasan Himalaya, dengan ribuan serdadu dari kedua negara berada dalam jarak tembak. Saat bentrokan meletus 2020 silam, sebanyak 20 serdadu India dikabarkan tewas.

Apakah Cina bakal memetik pelajaran dari Ukraina untuk menduduki kawasan timur Ladakh atau bahkan Taiwan? "Mungkin saja mereka melakukannya,” kata Jitendra Nath Misra, bekas diplomat India yang kini mengajar untuk Jindal School of International Affairs.

Dalam hal ini, AS dan India menjalin kwartet keamanan dengan Australia dan Jepang yang dikenal dengan nama "the quad”. Namun kedekatan itu tidak lantas memuluskan kerjasama pertahanan antara kedua negara.

 "Saya ingin bertanya kepada kawan-kawan di Amerika, teknologi pertahanan seperti apa yang sudah kalian berikan untuk kami,” imbuhnya lagi.

rzn/hp (ap,rtr)