Tolak Australia Demi Dalami Virologi di Jerman | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 08.08.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

NEGERI ORANG

Tolak Australia Demi Dalami Virologi di Jerman

Dari Pekanbaru ke Malaysia, Singapura, Jepang dan akhirnya Jerman. Awalnya Timmy Richardo kuliah bioteknologi. Tapi kemudian menyadari virologi adalah panggilan utamanya.

Foto menunjukkan Timmy Richardo duduk di tepi danau

Timmy Richardo menekuni ilmu virologi

Cita-citanya: bisa berguna bagi orang lain. Ia tidak ingin jadi orang yang biasa-biasa saja. Kalau bisa berbuat yang berbeda, kenapa tidak? “Itu juga yang membuat aku tertarik virologi.“ Virus ada dua jenis, dijelaskan Timmy lebih lanjut. Yang pertama adalah virus RNA, seperti yang menyebabkan flu dan COVID-19. Virus RNA cepat menular, tapi juga cepat sembuh. Sedangkan virus DNA kebalikannya. Contohnya, virus yang menyebabkan kanker. Timmy mengatakan bahwa, walaupun tidak bisa dilihat mata telanjang, “virus itu bagaikan pedang bermata dua. Dia bisa berguna dan juga merugikan manusia.“

“Oncolitic virus” misalnya, yang sedang dikembangakan sebagai salah satu alternative pengobatan pasien  kanker. Jadi virus ini sudah diprogram untuk mencari sel kanker di tubuh manusia. Tepatnya, kode genetik virus telah diubah sehingga bisa mengenali bahwa sebuah sel adalah sel kanker dan bukan sel sehat Virus ini kemudian hanya dapat berkembang di sel kanker itu, dan akhirnya sel kanker itu mati.

Penelitian seperti ini tentu sangat menarik dan berguna kata Timmy, dan bercerita, dulu dia juga pernah merasa khawatir, apakah sebagai ahli virologi dia nanti akan mendapat pekerjaan. Timbulnya pandemi COVID-19 tentu juga membuat orang jadi sadar, bahwa virologi penting. Kalau penanggulangannya tidak cepat, akan lebih parah lagi. “Ini baru Corona, bagaimana dengan virus-virus yang lain.”

Pikiran naif seorang tamatan SMA

Timmy Richardo berasal dari kota Pekanbaru, di provinsi Riau. Setelah selesai SMA ia mendaftar untuk berkuliah di luar negeri. Tepatnya di Malaysia. “Karena cuma tetanggaan,” kata Timmy sambil menambahkan, “kalau naik pesawat lebih dekat ke Malaysia daripada ke Jakarta.” Di Malaysia ia berkuliah di UCSI University mulai tahun 2011, tepatnya di jurusan bioteknologi.

Ia memilih jurusan itu, karena berpikir biologi ditambah teknologi nantinya akan jadi sesuatu yang besar. “Itulah pikiran naif seseorang yang baru tamat SMA,” kata Timmy sambil senyum-senyum. Setelah dia mulai berkuliah, baru dia menyadari, ternyata bioteknologi aplikasinya bisa banyak sekali.

Di Malaysia ia berkuliah selama tiga setengah tahun. Di tahun terakhir kuliahnya, ia pergi ke Singapura untuk magang di National University of Singapore. Profesor Naoki Yamamoto menjadi pembimbingnya di Singapura yang berasal dari Jepang. Profesor Yamamoto, dulu pernah bekerja di Jerman bersama Harald zur Hausen, seorang dokter Jerman yang jadi salah seorang penerima Hadiah Nobel di bidang kedokteran tahun 2008 yang menemukan peran "human papilloma virus" (HPV) yang menyebabkan kanker serviks.

Timmy Ricardo bersama angkatan DAAD Research grants for Doctoral Candidate 2019/2020

Bersama angkatan DAAD Research grants for Doctoral Candidate 2019/2020

Berbekal email bertolak ke Jepang

“Jadi 'hard core research' lah di Singapur,” kata Timmy, karena Profesor Yamamoto memang meneliti virus. Tepatnya, saat itu yang diteliti HIV, atau virus penyebab AIDS. Ketika itu Profesor Naoki Yamamoto sudah akan kembali ke Jepang, jadi Timmy bertanya, apa di Jepang ada lowongan pekerjaan. Si profesor menjawab, “Daripada kamu bekerja, lebih baik ngambil master,” dan mengambilnya di Jepang. Profesor itu akhirnya juga mengurus semua masalah administrasi dan biaya, sehingga Timmy bisa melanjutkan kuliah di Jepang. “Cuma berbekal selembar email, aku terbang ke Jepang,” papar Timmy sambil tertawa.

Di Jepang, Timmy berkuliah di bidang virologi untuk mencapai gelar Master. Ia dibimbing profesor lain, Profesor Yoshiyama, mengingat Profesor Yamamoto ketika itu sudah hampir pensiun. Projek yang dilakukan saat itu berhubungan dengan mekanisme kerja virus Epstein-Barr (EBV) dan hubungannya dengan kanker lambung. “Di Jepang, Korea dan Cina, prevalensi terkena kanker perut tinggi banget.” Selain yang disebabkan bakteri yang disebut “helicobacter pylori,” ada juga kanker lambung atau perut yang disebabkan virus.

Di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia, virus ini menyebabkan kanker nasofaring, atau bagian hulu kerongkongan yang berhubungan dengan hidung. Jadi di tempat berbeda, virus ini bisa menyebabkan kanker yang berbeda pula tergantung dengan pola hidup dan latar belakang genetik populasinya. “Karena kita semua tidak sempurna, pasti ada saja kelemahan kita,” begitu ditambahkan Timmy.

Meneliti virus penyebab kanker nasofaring

Ia menjelaskan pula, di Asia Tenggara termasuk Indonesia, banyak orang yang, contohnya, suka makan ikan asin, atau makanan kalengan yang tentu mengandung pengawet. Semua makanan ini dapat menyebabkan mutasi pada gen kita, dan membuat virus lebih cepat berkembang atau aktive kembali. Fakta unik mengenai EBV adalah hampir 90% populasi manusia di dunia memiliki virus ini dalam keadaan pasif.  Salah satu yang diserang adalah nasofaring. Kemungkinan lain adalah, virus menemukan reseptor paling banyak di organ nasofaring. Timmy menambahkan, untuk bisa masuk tubuh manusia, virus butuh reseptor yang jadi pintu masuknya.

Ketika berkuliah di Jepang dari 2015-2017, Timmy harus mendaftarkan diri untuk dapat beasiswa setiap tahun. Saat di Jepang dia berhasil mendapatkan beasiswa dari beberapa perusahan makanan seperti Hashiya, Otsuka, dan Itoen. Dia menambahkan bahwa profesornya juga turut aktif membantu pengajuan beasiswa-beasiswa tersebut.

Bersama sahabat karib saat liburan tahun 2020 di München

Bersama sahabat karib saat liburan tahun 2020 di München. Foto diambil sebelum terjadi PPKM di Jerman

Belajar dari mahasiswanya

Setelah mendapat gelar master di Jepang, ia kembali ke Indonesia dan mendapat pekerjaan sebagai dosen biomedis di Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L) di Jakarta. Di sana, ia bekerja selama setahun, dan bertemu dengan para mahasiswa yang akan melanjutkan kuliah ke S2. Mengingat Timmy ingin melanjutkan ke S3, akhirnya ia bersama teman-teman yang juga mahasiswanya, saling bantu untuk memperbaiki surat lamaran. “Intinya aku juga belajar dari mereka, seperti apa mereka menulis ‘letter of motivation’ dan yang paling seru adalah apa yang menjadi latar belakang mereka untuk melanjutkan studi.

Untuk S3, Timmy mendaftar ke tiga universitas, yaitu: Zürich, Melbourne dan Hannover. Sebetulnya Hannover adalah universitas terakhir, di mana ia mendaftarkan diri. Tapi ia mendapat panggilan datang ke Hannover untuk memberikan presentasi dan wawancara, atau tepatnya bernegosiasi. Ketika tinggal menunggu hasil wawancara, ia mendapat jawaban dari Melbourne. "Aplikasi untuk dapat beasiswa di Mebourne juga tembus," kata Timmy.

Lebih baik ke Jerman daripada ke Australia

Di situlah ia galau, mau ke Australia atau ke Jerman. Ia kemudian “curhat” dengan calon profesornya di Melbourne, yang berasal dari Spanyol. Dia bercerita tentang kebimbangannya. Profesornya pertama-tama memberikan jawaban, bagi dirinya, lebih baik jika Timmy ke Melbourne, karena si profesor itu perlu mahasiswa.

Tetapi ia juga memberikan jawaban jujur, yaitu: sebaiknya ke Uni Eropa. Karena Australia hanya berdiri sendiri. Jika ada kerja sama, hanya bisa ke Selandia Baru. Sedangkan Jerman berada di jantung Eropa. Jadi ke mana-mana bisa. Bagi Timmy ini suatu pencerahan. Ia dulu berpikir, yang penting hanya nama universitas saja. “Melbourne University memang universitas bagus tapi ‘secluded’. Hannover Medical School aku sebenarnya ga pernah dengar. Baru setelah sampai di sini aku tahu, bahwa mereka terkenal banget dengan bagian imunologinya.”

Akhirnya Oktober 2018 Timmy pindah ke Jerman. Waktu itu masih dengan beasiswa dari Medizinische Hochschule Hannover. Setelah setahun, ia beralih ke beasiswa DAAD. Topik penelitian untuk gelar S3-nya berhubungan dengan virus herpes simpleks pada kulit.

Rupa herpes simplex virus 1 di dalam sebuah jaringan dengan menggunakan electron microscope

Ini salah satu penampakan herpes simplex virus 1 di dalam sebuah jaringan dengan menggunakan "electron microscope". Untuk menghasilkan gambar yang bagus kadang memerlukan optimasi yang cukup lama sebab alur persiapan sampai sample siap untuk dilihat kadang memakan waktu hingga 2 minggu

Bahasa Jerman ternyata penting

Timmy agak menyesal karena merasa membuang-buang waktu, karena tidak segera mulai belajar bahasa Jerman. Sekarang ia baru merasakan pentingnya bahasa Jerman, apalagi jika ingin mendapatkan pekerjaan di Jerman. Di lain pihak ia juga merasa terbiasa menghadapi kendala bahasa. Karena ketika harus melewati transisi dari Singapur ke Jepang, ia juga tidak sempat belajar bahasa Jepang. Mengingat dulu dia pernah belajar mandarin, jadi satu-persatu kata yang penting bisa  ia kenali, sebab kanji Jepang dan Mandarin hampir sama. “Tapi memang bahasa jadi kendala. Kalau mau ke Jerman, lumrahnya belajar bahasa Jerman dulu.”

Satu pesan yang berguna jika sebagai orang asing tidak bisa berbicara bahasa di negara tempat bermukim, tunjukkanlah bahwa kita itu menghargai budaya mereka dan sopan kepada mereka. “Jadi merekapun segan dengan kita.” Tentu kita juga jangan melanggar apa yang menjadi norma di negara asing tempat kita bermukim.

"Oh, begitu!" 

Kalau soal bahasa, ia juga punya cerita lucu. Di Jepang ada kata “a so” yang artinya begitu atau begitulah. Ketika ia mulai tinggal di Jerman, ia kerap mendengar orang mengatakan “ach so!” Itu juga ia dengar ketika orang berbicara dengan dia. Awalnya dia merasa orang-orang itu, termasuk teknisi yang bekerja bersama dia, sedang mengejek dia, karena tahu dia pernah tinggal di Jepang. Sampai akhirnya dia menanyakan hal itu kepada si teknisi.

Payahnya, si teknisi kurang mahir berbahasa Inggris, sehingga terheran-heran dan awalnya tidak mengerti pertanyaan Timmy. Ibu teknisi yang baik hati itu akhirnya mencarikan buku kecil yang menjelaskan, bagaimana menggunakan kata “ach so!” dalam bahasa Jerman. Akhirnya Timmy mengerti bahwa “ach so!” dalam bahasa Jerman artinya: oh, begitu! Jadi mirip dengan “aso” dalam bahasa Jepang.

Perlu keahlian dan kegigihan

Untuk langkah berikutnya setelah selesai S3 nanti, Timmy ingin berusaha mendapat pekerjaan di Jerman atau Swiss, karena di kedua negara ini banyak perusahaan farmasi. Selain itu, ia ingin belajar tentang perusahaan dan mendirikan perusahaan. Karena termasuk generasi milenial, ia merasa satu “skill” saja tidak cukup. Karena nantinya mungkin kemahirannya bisa digantikan oleh robot atau komputer. Jadi harus punya keahlian lain juga, agar bisa terus bersaing. “Kalau ga bisa ‘compete’ akan jadi apa? Jadi benalu!” Begitu tandas Timmy, sementara ia bercita-cita untuk berguna bagi orang lain.

Tantangan terbesar dalam pekerjaannya adalah di bidang penelitian. Karena tidak selalu berjalan mulus, ada saja rintangannya. Orang juga harus gigih, harus bisa “trouble shooting,” kata Timmy, kalau tidak akan sangat mudah stres. Karena kerap pekerjaan harus diulang berkali-kali untuk mendapat hasil yang maksimal. Dia bercerita, pernah untuk mendapatkan hasil yang bagus dia mulai bekerja di laboratorium dari jam 6 pagi hingga jam 11 malam. “Aku ga tenang kalau ga tau apa yang salah.”

Misalnya jika melakukan PCR (Polimerse Chain Reaction, atau reaksi berantai polimerase) yang merupakan metode untuk menciptakan jutaan atau milyaran salinan segmen DNA. Sebagai analogi, ia mengambil mesin fotokopi. Tentu mesin itu perlu tinta, kertas untuk mencetak hasil pemindaian, alat pemindai dan kertas yang akan difotokopi. Berbeda dengan proses fotokopi, satu kali proses PCR, lamanya dua jam, tergantung pada sample kita.

Di akhir proses, bisa saja tidak ada hasil, dan penyebabnya bisa saja, “Template DNAnya ga ada, atau bahan baku untuk memperbanyak DNAnya itu rusak, atau enzimnya ga ada. Itu faktornya banyak, dan kita ga tau salahnya di mana. Jadi terpaksa dicek satu-satu.”

Foto diambil sebelum terjadi pandemi tahun 2019 di Bonn

Foto diambil sebelum terjadi pandemi tahun 2019 di Bonn

Itu masih sederhana, kata Timmy. Dengan menggunakan analogi mesin fotokopi, ia menjelaskan lagi, yang lebih kompleks misalnya, kalau ternyata kertas fotokopinya terlalu tipis, waktu pemindaian terlalu lama, atau tintanya terlalu tebal. Untuk optimasi tentu perlu waktu lagi. Contoh eksperimen kompleks lainnya adalah: purifikasi protein. Kalau sudah ada yang pernah menulis tentang protein itu, dan kita tinggal mencoba, biasanya hanya perlu satu jam.

Tapi kala proteinnya baru, proses purifikasi bisa bertahun-tahun, karena harus diulang-ulang. Jadi kadang riset yang tampaknya seolah mudah bisa perlu waktu sangat lama. Timmy juga mengambil analogi membuat kue. Setiap bahan perlu dicampurkan dalam dosis tertentu supaya hasilnya kue yang tampak menarik dan lezat.

Tempat lain mengajarkan hal lain pula

Pelajaran terpenting bagi hidupnya didapat dari Profesor Yamamoto, yang dulu juga pernah bekerja di Jerman. Profesor Yamamoto menyarankan, kalau sudah kenal Jepang, pergilah ke Jerman. Hidup ini terlalu pendek, kalau kita cuma berada di satu tempat untuk belajar. “Pergilah ke tempat lain, di mana tempat itu bisa mengajarkan hal lain kepada kamu.”

Lucunya setelah sampai di Jerman, dia tidak merasakan terlalu banyak perbedaan antara Jepang dan Jerman. Ketika Perang Dunia II, Jepang dan Jerman sama-sama bertindak sebagai penyerang dan menduduki negara lain. Walaupun demikian, ia merasa Jepang lebih kaku daripada Jerman. Jerman dan Jepang sama-sama teratur. “Jerman tuh teraturnya, semua orang sudah mandiri, kalau Jepang tuh enggak, kurang.” Contohnya, di Jerman kalau hendak naik kereta, orang bisa langsung naik. Kalau dicek dan ternyata tidak punya karcis, pasti penumpangnya dikenakan sanksi. Kalau di Jepang, sebelum naik kereta, orang harus beli karcis, “karena mereka ga percaya,” kata Timmy.

"Jangan malu-maluin Indonesia"

Saran Timmy untuk orang Indonesia yang ingin berkuliah atau bekerja di Jerman tentu belajar bahasa Jerman. Selain itu, terserah apa nantinya orang itu akan mengganti kewarganegaraan atau tidak, tapi “selama pakai paspor hijau, tolong jangan malu-maluin Indonesia, dong.” Kalau datang ke “first world country” harus bisa menyesuaikan diri dan kelakuannya. Contohnya, jangan datang terlambat. Juga sebagai mahasiswa yang di Jerman bisa naik kendaraan umum gratis jika menunjukkan kartu mahasiswa, jangan sampai kartu itu tertinggal. “Sampai ada yang bilang, ‘peraturan dibuat untuk dilanggar’. Itu Indonesia banget, tuh.”

Jadi kalau di Jerman, harus bisa berbaur dengan kebudayaan Jerman. Itu akan membuat hidup kita sebagai orang asing, lebih nyaman, pesannya. (ml/hp)