1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialHong Kong

Hong Kong Menurut Dua Bekas Narapidana Politik Berusia Muda

S. Ripley | May James Kontribusi foto di Hong Kong
26 November 2025

Lima tahun setelah diberlakukan Beijing, UU keamanan nasional sepenuhnya mengubah wajah Hong Kong. Dua mantan narapidana muda mengisahkan hidup dalam kebebasan yang mereka definisikan oleh kesunyian yang mengusik.

https://p.dw.com/p/54Hrz
Hongkong 2025
Pada usia 18 tahun, Kelly dipenjara berdasarkan undang-undang keamanan nasional — empat tahun kemudian, ia kembali ke kota yang hampir tidak dikenalnyaFoto: May James/DW

"Aku tahu dulu aku masuk bui karena mencoba membuat perubahan — tapi ongkosnya jauh lebih besar dari yang kubayangkan,” ungkap Kelly, yang enggan menyebutkan nama belakangnya.

Ia masih berusia 18 tahun ketika ia ditangkap pada tahun 2021 atas tuduhan "konspirasi menghasut subversi” dan "konspirasi membuat bahan peledak.”

Ia adalah salah satu terdakwa termuda yang terhubung dengan kelompok anak muda yang menamakan diri mereka "Returning Valiant,” kasus pertama di mana anak di bawah umur dijatuhi hukuman berdasarkan undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan Cina atas Hong Kong pada tahun 2020.

Beijing mengatakan undang-undang itu ditujukan untuk meredam perbedaan pendapat setelah gelombang protes prodemokrasi yang masif—dan kadang disertai kekerasan—mengguncang kota semiotonom di selatan Cina itu sepanjang tahun 2019–2020.

Hongkong 2024
Suara-suara kota yang ia kunjungi kembali seperti sebuah kenangan yang tidak bisa ia hindari, kata KellyFoto: May James/DW

Setelah hampir empat tahun ditahan, Kelly kembali menghirup udara bebas pada April lalu, memasuki sebuah kota yang terasa tak lagi dikenalnya.

"Segalanya terasa asing,” tuturnya. Kafe-kafe kecil, toko-toko setempat, sudut-sudut yang dulu terasa akrab— lenyap atau tergantikan oleh yang baru. Terasa asing baginya. "Hong Kong yang kukenal sudah pergi.”

Hari-harinya kini mengikuti ritme yang lebih sunyi. Ia bekerja paruh waktu di sebuah kafe, mengunjungi psikiater sebulan sekali, dan berusaha tidur semalam penuh tanpa terbangun dengan tubuh basah oleh keringat. "Kadang aku bermimpi orang-orang mengejarku, menembak dari atap. Saat terbangun, aku mengecek pintu, jendela—sekadar memastikan mereka tak berada di sana.”

Suara-suara kota yang ia datangi kembali menghantam seperti kenangan yang enggan melepaskannya. "Aku tak bisa bernapas kalau ada terlalu banyak orang.”

Hongkong 2025
'Hong Kong yang saya kenal sudah hilang,' kata KellyFoto: May James/DW

Kendali Beijing atas Hong Kong semakin mencengkeram

Banyak teman lamanya telah pergi; sebagian lainnya menjauh. "Ada yang tak tahu harus berkata apa. Ada juga yang hanya takut.”

Kelly menundukkan kepala—menghindari slogan, sahabat-sahabat lama, atau apa pun yang mungkin mengusik pikirannya. Ia belajar untuk lebih sedikit bicara, menimbang kata dengan hati-hati. "Bahkan tawa kini terdengar berbeda.”

Kesendirian yang telah ia pelajari untuk hidup bersamanya kini juga dirasakan oleh kota itu.

Pada tahun 2025, ketika pemerintah menandai lima tahun diberlakukannya undang-undang keamanan nasional, jumlah penangkapan memang melambat, tetapi cengkeraman kendali justru semakin mendalam.

Inisiatif pendidikan baru memantau ujaran siswa di dunia maya, sementara calon anggota dewan distrik harus lulus pemeriksaan loyalitas, dan mantan narapidana—meski secara teknis bebas—menggambarkan hidup dalam bayang pengawasan yang tak terlihat.

Sementara itu, awal bulan ini, pemerintah mengumumkan rencana memasang puluhan ribu kamera berteknologi kecerdasan buatan AI di seluruh kota pada 2028—bagian dari jaringan "SmartView” yang diklaim pejabat akan meningkatkan keamanan publik. Bagi banyak warga Hong Kong, ini terasa seperti perpanjangan dari sistem yang sama, tandas Kelly.

Hongkong 2025 | Joker
Joker Chan menjalani hukuman lima bulan penjara karena postingan online yang menghasut.Foto: May James/DW

Tekanan itu lebih kentara bagi Joker Chan

Joker Chan menjalani lima bulan hidup di penjara karena unggahan daring yang dianggap menghasut—frase dan slogan yang dibagikan pada masa ketika ekspresi masih terasa mungkin.

Sejak dibebaskan dari bui pada tahun 2022, polisi telah menahan dan menggeledahnya ratusan kali. ‘Kamu keluar penjara dengan berpikir bahwa kamu sudah menebus kesalahanmu,' katanya, ‘tapi masyarakat terus menagih bunga. Rasanya seperti mereka mengingatkanku setiap hari — bahwa kamu tidak pernah benar-benar bebas.'”

Tato-tatonya, yang dulu simbol keyakinan, kini membuatnya mencolok di jalan. "Kadang mereka hanya menatap,” ujarnya. "Kadang mereka menanyakan hal-hal yang tak ada hubungannya dengan apa pun.”

Bebas dari penjara bukanlah akhir cerita bagi para pengunjuk rasa Hong Kong

Kisah Kelly dan Joker berbeda, tetapi hidup mereka mengikuti pola yang sama. Yang satu hidup dengan beban ingatan, yang lain di bawah tatapan kecurigaan. Bagi keduanya, kebebasan bukanlah penutup bab, melainkan perpanjangan—kebebasan yang dijalani dengan rasa was-was, dalam keheningan, dalam ruang samar antara mengawasi dan diawasi.

Ketika hakim menjatuhkan hukuman kepada para terdakwa Returning Valiant, ia menulis: "Bahkan jika hanya satu orang yang dihasut oleh mereka, stabilitas sosial Hong Kong dan keselamatan penduduk dapat terancam secara serius.”

Ia mengakui tidak ada bukti langsung bahwa siapa pun telah terhasut, namun menyebut "risiko nyata” cukup untuk menjatuhkan hukuman.

Dalam penalaran itulah tersimpan inti tatanan baru kota ini: Gagasan tentang bahaya itu sendiri telah dianggap menjadi kejahatan. Penindakan tak berakhir di penjara; melainkan hanya berganti rupa.

Hongkong 2025 | Joker
Tubuhku adalah catatanku — tak seorang pun dapat menghapusnya. Masa lalu Joker terukir di kulitnya sebagai beban dan kenanganFoto: May James/DW

Beberapa orang memilih memulai hidup baru di tempat lain—tetapi bagi Kelly dan Joker, bertahan menjadi sebuah tindakan kesaksian kecil.

"Pergi rasanya seperti menghapus segala yang telah kami lalui,” tutur Kelly. Ia tetap tinggal demi keluarganya, demi mereka yang masih dipenjara, dan demi serpihan kota yang dulu jadi bagian dari sejarah hidupnya yang tak bisa terhapus bergitu saja.

Joker pun tetap tinggal, masa lalunya terukir di kulitnya sebagai luka dan kenangan—sebuah catatan tentang apa yang tak lagi bisa diucapkan lantang: "Ini rumahku, jalanku, kisahku.”

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Rizki Nugraha