1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hasil Pemilu di Rusia

8 Desember 2003
https://p.dw.com/p/CPTQ

Hasil Pemilu di Rusia dikomentari berbagai suratkabar internasional, yang juga merupakan tema dalam Sari Pers DW. Harian Prancis Libération dalam komentarnya menyebut Putin sebagai tsar baru Rusia.......

Di Rusia selama ini seorang presiden memerintah dengan tangan besi. Kini parlemen juga berada di bawah kekuasaannya. Apa yang di parlemen bisa disebut sebagai oposisi yang malu-malu, makin berkurang demi kepentingan partainya Putin. Partai yang menarik simpati dengan gaya nasionalis-populis. Pemilu ini mengajarkan, demokratisasi tidak dapat dibatalkan lagi , tidak dapat ditolak, dan juga bukan soal konstitusi, juga bukan soal invasi militer. Demokratisasi adalah soal mentalitas. Bila negara makin makmur, ia akan kembali bagaikan virus yang nekad.

Harian ekonomi Prancis La Tribune juga memandang Putin sebagai tsar. Komentarnya.........

Setelah Pemilu ini, Putin memiliki segalanya untuk merasa diri sebagai tsar. Presiden dan partainya dalam kampanye Pemilu mengumandangkan pembrantasan kekerasan, korupsi dan menampilkan tokoh-tokoh yang menjadi kaya karena sisa-sisa perusahaan monopoli di bekas Uni Soviet. Kini mereka harus menunjukkan tekadnya untuk mereformasi negaranya. Kini tidak ada yang bisa menghalanginya lagi. Mereka juga harus mampu menghadapi banyak godaan yang biasanya tumbuh di balik kekuasaan, jauh dari pengawasan. Kini pertanyaannya, apakah Putin reformator yang tanpa pamrih, yang akan membawa Rusia menjadi negara maju.

Mengenai hasil Pemilu di Rusia, harian Italia Corriere della Sera berkomentar...

Setelah pemenang dalam pemilihan presiden bulan Maret mendatang sudah dapat dipastikan dengan parlemen yang pro-Putin , Putin juga akan berhasil mengubah konstitusi , agar ia pada tahun 2008 dapat kembali mencalonkan diri sebagai presiden. Dilihat dari sudut pandang ini, Pemilu di Rusia mengundang pertanyaan, apakah kita sedang menyaksikan tumbuhnya demokrasi muda , ataukah pengkokohan sebuah rejim? Melihat sistim Partai politik yang tidak memadai , pengawasan media oleh pihak yang berkuasa maupun aparat kehakiman yang selektif, maka yang benar adalah kemungkinan yang kedua.

Mengenai kemenangan Partai Kesatuan Rusia, harian Istwestija di Moskow, juga berpendapat bahwa panggung politik di Rusia kini sepenuhnya dikuasai oleh partai pemerintah............

Kemungkinan besar Partai Kesatuan Rusia akan meraih dua-pertiga suara mayoritas dengan kemungkinan mengubah konstitusi, yang diperolehnya dengan bantuan para wakil yang dipilih langsung , dan perutusan lain yang setia pada pemerintah dan presiden. Dengan demikian terbentuklah Sistim Satu Setengah Partai. Seluruh panggung politik dkuasai partai yang memerintah. Semua partai lainnya hanya berperan sebagai figuran.

Dan akhirnya komentar harian Jerman Saarbrücker Zeitung mengenai pemilihan parlemen di Rusia... Di dunia barat ada peraturan main yang jelas, dan hasil Pemilu tidak dapat diketahui sebelumnya. Sebaliknya di Rusia tidak ada peraturan main dan hasilnya telah diketahui sebelumnya, demikian suara ironis para analis yang kritis di Moskow. Dalam keadaan seperti itu tidak mengherankan, bahwa Pemilu-nya sendiri berlangsung tanpa skandal besar. Sebab tidak ada gunanya , untuk memalsukan hasil yang telah direncanakan sebelumnya. Pemilunya relatif bersih, namun apakah akan membantu Rusia menuju ke demokrasi, itu masalah lain.