1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PM Inggris Boris Johnson dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Brussels
PM Inggris Boris Johnson dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Brussels, 9 Desember 2020Foto: Olivier Hoslet/AFP

Hari Minggu Jadi "Hari Penentuan" Brexit Akan Hard atau Soft

11 Desember 2020

Pembicaraan terakhir antara Inggris dan UE gagal menemukan kesepakatan. Hari Minggu (13/12), kedua pihak akan melanjutkan konsultasi, yang tampaknya jadi kesempatan terakhir menentukan nasib Brexit.

https://p.dw.com/p/3maNU

Setelah gagalnya konsultasi tingkat tinggi soal prosedur Brexit antara pimpinan Uni Eropa Ursula von der Leyen dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang khusus datang langsung ke Brussels Rabu lalu (9/12), semua pandangan kini diarahkan pada konsultasi lanjutan hari Minggu (13/12).

Namun belakangan para pejabat dari kedua belah pihak meragukan, kesepakatan akan masih bisa dicapai. Boris Johnson menerangkan, yang sangat mungkin terjadi adalah "Hard Brexit", yaitu proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan. Sedangkan Ursula von der Leyen juga menyatakan bahwa pembicarannya "sangat, sangat sulit".

Inggris menuntut Uni Eropa untuk membuat "konsesi yang signifikan" demi memecahkan kebuntuan perundingan Brexit, yang sudah berlangsung selama lima tahun tanpa penyelesaian perjanjian perdagangan yang bisa menyenangkan kedua pihak.

"Negosiasi memang masih berlangsung, tetapi akhir dari transisi sudah dekat," kata Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen dan menambahkan: "Tidak ada jaminan bahwa kalaupun kemudian kesepakatan ditemukan, itu dapat diberlakukan tepat waktu."

Uni Eropa menuntut agar Inggris tetap menaati standar perburuhan, sosial dan lingkungan Uni Eropa, jika ingin punya perjanjian perdagangan dengan blok itu. Namun Inggris menolak tuntutan tersebut. Selain itu, masih juga belum ada kesepakaran tentang hak menangkap ikan di perairan Inggris bagi kapal nelayan dari Uni Eropa.

Konsultasi 9 Desember di Brussels tidak bisa memecah kebuntuan perundingan Brexit
Konsultasi Jamuan Makan Malam 9 Desember di Brussels tidak bisa memecah kebuntuan perundingan BrexitFoto: Aaron Chown/AFP

Bersiap menghadapi Hard Brexit

Inggris secara resmi akan meninggalkan Uni Eropa 1 Januari 2021, dan akan dikeluarkan dari pasar tunggal Eropa dan serikat pabean, yang membebaskan anggota Uni Eropa dan bea dan pajak dalam lalu lintas perdagangan di kawasan itu.

Selama ini berlaku ketetapan "masa transisi", yang berarti Inggris masih dianggap anggota Uni Eropa, sekalipun secara resmi sudah menarik diri dari semua institusi Uni Eropa, termasuk dari Parlemen Eropa.

Masih belum jelas, apa yang akan terjadi pada tanggal 1 Januari 2021, misalnya dalam layanan penerbangan. Karena keluarnya Inggris dari Uni Eropa berarti maskapai penerbangan dari negara itu tidak memiliki izin lagi mendarat di Uni Eropa, kecuali mereka mengajukan permohonan izin khusus yang kemudian disetujui.

Lalu lintas manusia dan barang antara Uni Eropa dan Inggris juga akan terhenti sama sekali, karena warga Uni Eropa sejak 1 Januari 2021 harus memiliki visa untuk bisa berkunjung ke Inggris, dan sebaliknya warga Inggris perlu visa ke Uni Eropa. Bagaimana cara mendapatkan visa itu hingga saat ini belum diatur.

Yang sudah disepakati adalah, bahwa warga Inggris yang tinggal dan bekerja di Uni Eropa, dan sebaliknya warga Uni Eropa yang sudah tinggal dan bekerja di Inggris, akan mendapat perpanjangan izin selama enam bulan untuk memberikan mereka kesempatan mengurus izin tinggal maupun izin kerja baru, yang sebelumnya tidak dibutuhkan sama sekali.

hp/yp (rtr, afp)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait