Juncker: Uni Eropa ″Telah Melakukan Segalanya″ Untuk Brexit Yang Teratur | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 22.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Brexit

Juncker: Uni Eropa "Telah Melakukan Segalanya" Untuk Brexit Yang Teratur

Tema Brexit sudah menguras waktu dan energi selama tiga tahun, kata Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker. Banyak hal jadi terbengkalai hanya karena proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa tidak selesai.

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menjelang akhir masa jabatannya mengatakan hari Selasa (22/10), Uni Eropa telah mengerahkan "segala daya yang dimilikinya" untuk membuat proses Brexit berjalan teratur.

Juncker mengatakan kepada anggota majelis Eropa di Strasbourg, isu Brexit telah mendominasi mandat tugasnya selama lima tahun dan merugikan Uni Eropa (UE) secara keseluruhan.

Sehubungan dengan proses Brexit di parlemen Inggris di bawah pemerintahan Boris Johnson, dia mengatakan bahwa kompromi Brexit terbaru, yang dibuat dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson minggu lalu, hanya dapat disetujui UE setelah dokumen itu disetujui oleh parlemen Inggris.

Brüssel | Zweiter Tag des EU Gipfel | Jean-Claude Juncker und Donald Tusk (Reuters/P. van de Wouw)

jean-Calude Juncker (kiri) dan Donald Tusk (kanan) di Brussels

"Kita sekarang perlu menyimak tindakan di Westminster dengan cermat, tetapi tidak mungkin, tidak bisa dibayangkan, bahwa parlemen (Eropa) meratifikasi perjanjian itu sebelum Westminster meratifikasinya. Pertama London, kemudian Brussels dan Strasbourg," tegas Juncker.

Presiden Dewan Eropa Donald Tusk mengatakan, dia sedang mendiskusikan permintaan London untuk perpanjangan waktu lagi. "Hal itu harus disetujui oleh semua pemimpin 27 negara anggota, yang akan membuat keputusan dalam beberapa hari mendatang. Brexit tanpa kesepakatan tidak akan pernah menjadi keputusan kami," kata Donald Tusk di Strasbourg, disambut dengan tepukan meriah para anggota parlemen Uni Eropa.

Ambisi Boris Johnson dijegal parlemen

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson menghadapi dua agenda pemungutan suara yang penting di parlemen pada hari Selasa (22/10) yang akan menentukan, apakah ia bisa memenuhi janjinya untuk memimpin Inggris keluar dari Uni Eropa sampai akhir Oktober.

Belgien Brüssel EU Gipfel | Boris Johnson und Jean-Claude Juncker (Reuters/F. Lenoir)

PM Inggris Boris Johnson dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker

Proses Brexit saat ini memang menggantung, karena di parlemen Inggris tidak ada lagi kekuatan mayoritas untuk opsi tertentu. Sehingga semua kemungkinan bisa terjadi, baik proses Brexit yang cepat, yang tertunda, bahkan mungkin juga dibatalkan.

"Saya berharap parlemen hari ini memilih untuk mengambil kembali kontrol untuk dirinya sendiri," kata Boris Johnson. "Publik tidak menginginkan penundaan lagi, begitu pula para pemimpin Eropa lainnya, dan juga saya. Mari kita selesaikan Brexit pada tanggal 31 Oktober dan melangkah maju", ujar PM Inggris itu menambahkan.

Jika mengalami kekalahan di parlemen dalam pemungutan suara hari Selasa, hal itu akan mengacaukan rencana Boris Johnson untuk membawa Inggris keluar dari Uni Eropa sampai 31 Oktober, sesuai janjinya kepada warga Inggris.

hp/as  (rtr, afp, ap, dpa)

Laporan Pilihan