Ketegangan Memuncak Jelang Parade Yahudi Ekstrem Kanan di Yerusalem | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 15.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Israel

Ketegangan Memuncak Jelang Parade Yahudi Ekstrem Kanan di Yerusalem

Kelompok ultranasionalis Yahudi siap lakukan long march di Yerusalem Timur, Selasa (15/6). Rencana itu dikhawatirkan kembali picu pertumpahan darah, dan sekaligus jadi ujian pertama bagi pemerintahan baru Israel

Perayaan Hari Yerusalem di Tembok Ratapan, situs suci umat Yahudi di Yerusalem, Israel, 9 Mei 2021.

Peringatan Hari Yerusalem di Tembok Ratapan, situs suci umat Yahudi di Yerusalem, Israel, 9 Mei 2021. Pada hari ini warga merayakan reunifikasi Yerusalem di bawah kekuasaan Israel pasca Perang Enam Hari, 1947.

Demonstrasi kelompok ultranasionalis Yahudi siap digelar pada Selasa (15/6) sore waktu setempat. Aksi ini dikecam oleh Hamas sebagai sebuah "provokasi”, yang sebagai balasan menyerukan "hari kemarahan” di Gaza dan Tepi Barat Yordan. 

"Kami memperingatkan reaksi berbahaya yang bisa muncul dari niat rezim pendudukan untuk mengizinkan pemukim ekstremis untuk melakukan Parade Bendera di Yerusalem,” tulis Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh, lewat akun Twitternya.

Seperti dikutip media Israel, Haaretz , Senin (14/6) harian Lebanon, al-Akhbar, melaporkan Hamas telah mengabarkan kepada Mesir bahwa reaksi terhadap demonstrasi di Yerusalem akan "identik” dengan apa yang terhadi pada Mei silam, ketika roket berterbangan dari Gaza ke arah Yerusalem.

Bentrokan antara warga Palestina dan kepolisian Israel di Masjid al-Aqsa, Yerusalem, 21 Mei 2021.

Bentrokan antara warga Palestina dan kepolisian Israel di Masjid al-Aqsa, Yerusalem, 21 Mei 2021.

Laporan itu menyebut Hamas sudah "menyiagakan” kekuatan militernya, namun perkembangan konflik akan bergantung pada "tindakan Israel.”

Jumat (11/6) silam, kepolisian Yerusalem bersepakat dengan koordinator aksi demonstrasi untuk menggeser rencana parade dari Kamis ke Selasa (16/6). Pembatalan dipicu kegagalan kedua pihak menyepakati rute demonstrasi, yang dikhawatirkan akan memicu pecahnya kerusuhan baru dengan warga Arab.

Parade kaum Yahudi ultranasionalis itu sedianya direncanakan pada 10 Mei silam, dan melintasi kawasan kota tua di Yerusalem. Namun rencana itu dibatalkan menyusul bentrokan etnis dan serangan roket oleh Hamas, yang menyulut perang selama 11 hari.

Aksi demonstrasi tandingan Palestina 

Kelompok kanan sempat menuduh pemerintah Israel tunduk pada Hamas saat mengubah rute parade. "Waktu sudah datang bagi Israel untuk mengancam Hamas, bukan Hamas yang mengancam Israel,” tulis politisi kanan garis keras, Itamar Ben-Gvir, via Twitter.

Parade Bendera di Yerusalem sekaligus menjadi ujian pertama bagi pemerintahan baru Israel di bawah Perdana Menteri Naftali Bennett yang resmi menjabat sejak Minggu (13/6). 

Omar Bar-Lev, politisi Partai Buruh yang ditunjuk Bennett sebagai menteri dalam negeri, Senin (14/6) memberikan izin bagi penyelenggaraan aksi demonstrasi di Yerusalem.

Sejauh ini polisi belum memublikasikan rute resmi Parade Bendera. Namun media-media Israel melaporkan, para demonstran akan diizinkan berkumpul di luar Gerbang Damaskus, tapi dilarang melintasi pemukiman warga Arab.

Rencananya, penduduk Jalur Gaza akan menggelar protes tandingan pada hari yang sama. Sementara Hamas dan faksi Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas menyerukan warga Palestina menyemuti Kota Tua Yerusalem untuk menghadang parade.

"Ketegangan kembali meningkat di Yerusalem, di tengah situasi politik dan keamanan yang sangat rapuh, ketika PBB dan Mesir masih berusaha mengukuhkan gencatan senjata,” tulis Utusan Khusus Timur Tengah untuk PBB, Tor Wennesland, di Twitter.

"Saya mengimbau semua pihak untuk bertindak secara bertanggungjawab, dan menghindari semua bentuk provokasi yang bisa mengarah pada konfrontasi.”

Sejauh ini militer Israel telah menyiagakan sistem penghalau rudal, Iron Dome, ke sejumlah titik di luar Yerusalem, lapor harian Haaretz. Kepolisian juga sudah berjaga-jaga di sekitar Kota Tua. Sementara Kedutaan Amerika Serikat di Yerusalem melarang pegawai dan keluarganya memasuki Kota Tua pada hari Selasa.

rzn/as (rtr,afp)

Peta sebaran pemukiman Yahudi dan Arab di Yerusalem Timur

Peta sebaran pemukiman Yahudi dan Arab di Yerusalem Timur

 

Laporan Pilihan