Fesyen Jadi Solusi Tepat Masalah Daur Ulang Plastik? | Sosial&Budaya | DW | 14.06.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Penanggulangan Sampah

Fesyen Jadi Solusi Tepat Masalah Daur Ulang Plastik?

Perusahaan fesyen mulai memperhatikan kemarahan massa atas polusi plastik dengan menawarkan garmen cantik dari botol plastik dan sampah lain. Tapi apa itu akan ada pengaruhnya bagi lingkungan?

Jaring ikan, botol plastik dan ban mobil bekas biasanya mendarat di lingkungan hidup sebagai sampah, atau di lautan. Tapi sebuah perusahaan fesyen yang "eco-minded" bernama Ecoalf mengubah sampah plastik sampah menjadi jaket, sepatu olah raga dan sendal jepit warna-warni.

"Polusi plastik adalah topik besar saat ini — juga dalam industri garmen," demikian Carolina Álvarez-Ossorio, jurubicara Ecoalf, ketika berbicara di toko cabang barunya, di Berlin.

Di sana, peserta tur hijau Berlin duduk di sofa berbentuk setengah lingkaran, yang terbuat dari botol plastik bekas, saat mereka mendengarkan sejarah perusahaan dan filsafat lingkungan. Di sekitar mereka bergantungan t-shirt, mantel, yang juga dibuat dari botol plastik.

Materinya diperoleh dari 3.000 nelayan yang bekerja sepanjang pantai Spanyol di Mediterania sepanjang pantai Spanyol di Mediterania. Yang tertangkap jaring bukan hanya ikan melainkan sampah dalam jumlah besar. Kini mereka tidak membuangnya kembali ke lautan, melainkan disalurkan ke Ecoalf.

"Tantangannya bukan memperoleh sampah untuk diolah, karena sampah di mana-mana, melainkan memperoleh teknologi untuk mengubahnya," demikian dikatakan Álvarez-Ossorio kepada DW. Ia menambahkan, nelayan ikut serta secara sukarela karena mereka juga "prihatin dan khawatir" tentang polusi yang mereka lihat sehari-hari.

Model bisnis Ecoalf kini menawarkan cara mengatasi polusi, tapi dulu pendirinya, Javier Goyeneche, mendirikan perusahaan tahun 2009 karena ia terkejut akibat kuranganya garmen hasil daurulang di pasaran.

Mendaurulang sampah plastik jadi pakaian

Namun akibat maraknya berita mengenai lautan bumi yang lebih berisi plastik daripada ikan tahun 2050 nanti, dan ikat paus yang mati karena memakan kantung plastik, semakin banyak perusahaan serupa Ecoalf yang mengikutsertakan sampah dalam koleksinya.

Misalnya, duet desainer Vin dan Omi membuat kreasi futuristik dengan materi dari sampah plastik. Selain itu semakin banyak perusahaan besar seperti The North Face yang baru-baru ini mengubah botol plastik yang dikumpulkan dari semua taman nasional AS menjadi serangkaian tas dan t-shirt. Patagonia, juga perusahaan garmen dengan spesialisasi pakaian bagi udara terbuka, sudah mendaurulang sampah plastik menjadi jaket sejak 1993.

Mendaur ulang sampah plastik menjadi pakaian memang mengurangi sampah di dunia. Tapi ini tetap meninggalkan jejak ekologis, walaupun lebih kecil dari jejak perusahaan fesyen konvensional.

Tapi Vin dan Omi, misalnya, mengatakan, produksi tekstil hasil daur ulang dari plastik bekas butuh energi 50% lebih sedikit, dan menghasilkan CO2 sepertiga lebih sedikit.

Baca juga:

Indonesia Perluas Pembuatan Jalan Berbahan Sampah PlastikIngin Pulihkan Pamor Indonesia, LIPI Buat Studi Tandingan Soal Limbah Plastik di Laut

Plastik Mikro: Bahaya di dalam Air

Hanya trend atau perubahan mendasar?

Perusahaan fesyen besar seperti Target, Zara dan Primark, juga pembuat sepatu seperti Nike dan Adidas juga ikut dalam tren fesyen "hijau" ini. H&M katanya akan mendaurulang semua garmennya. Tetapi dalam wawancara, Anna Gedda yang menjabat kepala bagian kesinambungan pada H&M mengatakan, suksesnya tergantung perkembangan teknologi baru.

Lucy Norris, profesor di bidang penelitian desain dan pengembangan materi mengatakan konsorsium daur ulang sedang membuat sistem pemilahan infra merah untuk pakaian bekas. Sistem ini akan mampu memilah bahan-bahan berbeda untuk didaurulang. Mereka juga mengembangkan teknologi prosesi kimia yang akan mampu mengurai serat campuran untuk memisahkan poliester dan katun.

"Tapi semua teknologi ini masih dalam tahap prototipe," demikian dikatakan Norris dalam wawancara dengan DW. Ia memperkirakan, mungkin masih perlu 20 tahun sebelum teknologi daur ulang akan mampu melangkah cepat sesuai ambisi untuk membantu mengatasi masalah sampah di lingkungan hidup.

Laporan Pilihan