Euro 2020 dan Frustrasinya Penggemar Sepak Bola karena Pembatasan COVID-19 | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 05.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Euro 2020

Euro 2020 dan Frustrasinya Penggemar Sepak Bola karena Pembatasan COVID-19

Penggemar sepak bola di seluruh Eropa sungguh menantikan kejuaraan Euro 2020. Namun dengan adanya pembatasan perjalanan, kapasitas stadion, dan alokasi tiket yang belum jelas, keseruan pun jadi terbatas.

EURO 2008, pertandingan Rusia lawan Swedia

Masih belum jelas apakah para fans bisa menonton langsung pertandingan favorit mereka

Turnamen kejuaraan sepak bola Eropa, Piala Euro, yang akan berlangsung di 11 kota di benua biru ini selalu jadi hal yang luar biasa bagi para penggemar sepak bola. Penggemar rela bepergian dari satu negara ke negara lain demi bisa menonton langsung tim jagoannya berlaga. Tapi sekarang, pandemi memaksa turnamen ini ditunda selama 12 bulan dan banyak komplikasi lainnya.

Sudah 15 bulan berlalu sejak infeksi virus corona pertama kali dilaporkan di Eropa, dan sebagian besar liga sepak bola di Eropa harus menyelesaikan pertandingan pada musim laga nyaris tanpa penonton sama sekali.

Tidak ada fans yang hadir untuk menyaksikan Atletico Madrid mengungguli Barcelona dan Real Madrid di Liga Spanyol untuk kedua kalinya dalam 17 tahun. Tidak ada juga fans Lille yang dapat melihat gelar Ligue 1 yang pertama kali diraih klub Prancis ini selama satu dekade.

Namun keadaan berangsur membaik. Setidaknya pada hari Sabtu (29/05), sekitar 250 fans FC Bayern München bisa secara langsung melihat tim kesayangan mereka mengangkat trofi Bundesliga di Stadion Allianz Arena di München.

Boleh nonton di stadion? Tergantung!

Dalam tiga minggu mendatang, stadion yang sama berharap bisa menyambut 14.500 penggemar bola untuk pertandingan Euro 2020 Jerman melawan Prancis (15 Juni), Portugal (19 Juni) dan Hongaria (23 Juni), ditambah potensi berlaga di perempat final pada 2 Juli jika angka infeksi virus corona cukup rendah dan memungkinkan.

Pada akhir April, kota München hampir saja mengalami nasib yang sama seperti Bilbao dan Dublin, yang dilarang mengadakan pertandingan oleh UEFA setelah otoritas lokal tidak bisa menjamin pertandingan dengan penonton di dalam stadion.

Dalam kasus München, UEFA mengatakan telah "diberitahu bahwa otoritas yang bertanggung jawab telah mengizinkan empat pertandingan dengan setidaknya 14.500 penonton." 

Pertandingan FC Bayern München vs. FC Augsburg

Stadion Allianz Arena di München kosong selama musim Bundesliga, tapi UEFA berharap bisa ada 14.500 penggemar di Euro 2020.

Namun Walikota München Dieter Reiter tetap mengingatkan: "Apakah pertandingan berlangsung dengan  penonton, atau berapa banyaknya, tidak ada yang bisa mengatakannya. Belum ada jaminan adanya penonton."

Senada dengan Reiter, juru bicara otoritas Jerman yang bertanggung jawab di bidang olahraga mengatakan bahwa izin adanya penonton atau tidak sangat bergantung pada tingkat infeksi.

Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) hanya bisa mengonfirmasi bahwa skenario kapasitas minimal 14.500 di München bisa dianggap realistis, tetapi "penyesuaian mungkin diperlukan jika otoritas lokal melihat adanya bahaya bagi kesehatan masyarakat akibat COVID-19. "

Singkat kata, semuanya belum pasti.

Dan bagi sebagian penggemar sepak bola yang ingin menonton langsung di stadion, turnamen ini jadi tidak lagi asyik.

Pembatalan tiket dan pembatasan perjalanan

Pekan lalu, UEFA mulai membatalkan ribuan tiket yang telah dibeli pada tahun 2019 dengan alasan adanya pembatasan kapasitas penonton. Sepuluh dari sebelas stadion tuan rumah hanya boleh beroperasi dengan jumlah penonton dibatasi, dan hanya Stadion Puskas Arena di ibu kota Hongaria, Budapest, yang boleh diisi penuh.

Tapi UEFA terus mengiklankan kursi penonton dengan harga mahal, pada saat yang sama para sponsor memberikan tiket gratis untuk promosi. Ini membuat para fans sepakbola frustrasi.

"Ini hanya menunjukkan bahwa bukan penggemar yang utama bagi mereka, tapi uang," kata John, seorang penggemar tim Inggris yang secara teratur mengikuti pertandingan tim di seluruh Eropa. Tapi kali ini John memutuskan untuk tidak menonton langsung karena adanya pembatasan perjalanan antara Inggris dan tempat tinggalnya di Jerman.

John tidak sendirian. Para pelancong yang tiba di Inggris Raya dan di Belanda, saat ini masih wajib dikarantina selama sepuluh hari. Sedangkan Denmark sama sekali tidak mengizinkan pelancong dari luar negeri untuk masuk.

Di München sendiri, aturan karantina tergantung dari mana asal penggemar tersebut. Sedangkan Azerbaijan mencabut larangan bepergian bagi warga negara dari negara-negara yang bertanding di Baku. Aturan berbeda diterapkan Hongaria. Di sana, pemegang tiket penonton tidak diharuskan menjalani karantina. Demikian pula di Rumania, asalkan mereka hanya tinggal di Rumania tidak lebih dari tiga hari.

Penggemar bingung dan frustrasi

Tim Jerman akan memainkan tiga pertandingan grup ditambah potensi pertandingan perempat final di München. Ini berarti para penggemar yang tinggal di Jerman dan tiketnya belum dibatalkan tidak perlu bepergian ke luar negeri.

Tapi bagaimana kalau tim jagoan mereka harus bepergian ke luar negeri? Bagi penggemar seperti Lars yang secara teratur mengikuti dan menonton tim nasionalnya di luar negeri ini sangat menjengkelkan.

"Menjengkelkan karena pertandingan terjadi di begitu banyak negara berbeda dan tidak di satu negara tuan rumah yang kemudian bisa kita kunjungi," gerutu Lars. Baginya, tim Jerman bermain di Münich itu membosankan. "… Itu sudah biasa, saya pernah ke sana sebelumnya."

"Kalaupun kau punya tiket, duduk sendiri memakai masker sepanjang pertandingan bukanlah bayangan saya tentang sepak bola," kata Lars.

Penggemar tim Inggris bernama John juga sependapat. "Lagi pula itu tidak akan terlalu menyenangkan; saya hanya akan menonton di pub. Mudah-mudahan saya bisa melakukan perjalanan ke kualifikasi Piala Dunia di Polandia dan Hongaria di bulan September."

(ae/hp)

Laporan Pilihan