Piala Dunia 2034, Pengamat: ″Indonesia Jangan Memaksa Diri Jadi Tuan Rumah″ | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 26.06.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sepak Bola

Piala Dunia 2034, Pengamat: "Indonesia Jangan Memaksa Diri Jadi Tuan Rumah"

Sepuluh negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia ingin jadi tuan rumah Piala Dunia 2034. Mampukah negara-negara ASEAN ini gelar turnamen sepak bola terbesar sejagat ini? Apa saja yang harus dipersiapkan?

Dalam forum ASEAN Summit ke-34 yang dihelat di Bangkok, Thailand, sepuluh negara di Asia Tenggara sampaikan keinginan untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Awalnya hanya Indonesia, Thailand, dan Vietnam yang menyatakan tertarik untuk menjadi tuan rumah bersama.

Namun tujuh negara lainnya yakni Brunei Darussalam, Filipina, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, dan Singapura kini ikut menyatakan keinginan serupa. Rencananya mereka akan mencalonkan diri menyelenggarakan Piala Dunia secara bersama-sama.

Piala Dunia digelar kali pertama di kawasan Asia pada 2002, saat itu Jepang dan Korea Selatan menjadi tuan rumah. Qatar menyusul akan menjadi tuan rumah pada 2022 mendatang.

Lantas bagaimana kesanggupan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia, untuk menghelat turnamen sepak bola terbesar di dunia ini? Simak wawancara DW Indonesia dengan pengamat sepak bola, Yusuf Kurniawan, yang juga komentator sepak bola sekaligus Pemimpin Redaksi Harian TopSkor dan TopSkor.id. Selain itu dia juga menjabat sebagai Direktur Kompetisi Usia Muda Liga TopSkor U12, U13, U15, U16, dan U17.

Yusuf Kurniawan (privat)

Yusuf Kurniawan, komentator sepak bola.

 

Deutsche Welle : Dalam ASEAN Summit ke-34 yang dihelat di Bangkok, disebutkan bahwa sepuluh negara ASEAN termasuk Indonesia  berencana mencalonkan diri sebagai tuan rumah piala dunia 2034. Apakah negara-negara ini siap?

Yusuf Kurniawan: ASEAN secara umum sebenarnya belum siap. Perspektif kita sekarang lihat dari infrastruktur, cuma saya tidak tahu kalau 10 tahun ke depan bagaimana. Tapi untuk Indonesia saja agak sulit, karena prioritas negara kita bukan pada olahraga, termasuk sepak bola sebagai olahraga terpopuler. Jangan mencari jalan pintas untuk tampil di Piala Dunia dengan memaksakan diri jadi tuan rumah. Sering sekali kita memaksakan lolos di acara tertentu dengan menjadi tuan rumah, seperti piala asia 2007. Seperti membohongi diri sendiri, kita belum siap, akhirnya jadi bulan-bulanan.

Meskipun nantinya ada opsi pencalonan sebagai tuan rumah bersama seperti Jepang-Korea Selatan tahun 2002?

Itu untuk terobosan Asia Tenggara sebagai satu kawasan ingin menunjukkan mereka punya harga diri, sah-sah saja. Apa prioritasnya? Ini prestasi atau mau mercusuar? Kalau kita latah cuma mau ikut-ikutan, sama seperti kita bangun infrastruktur saat PON di Riau,  sekarang tengok ke sana, stadionnya jadi hutan belantara. 

Apa saja Infrastruktur yang harus dipersiapkan sebuah negara jika ingin mencalonkan diri sebagai tuan rumah piala dunia?

Pertama tentu lapangan, lalu infrastruktur pendukung seperti rumah sakit, hotel, airport, tidak boleh lebih dari 100 km jaraknya dengan lapangan udara dan stadion. Kedua, transportasi publik. Karena menyangkut pariwisata, ada wartawan, ada juga para pendukung. Lalu ada masalah keamanan. Harus dipilih daerah-daerah yang bisa dikontrol oleh aparat keamanan, harus lihat indeks kriminalnya. Banyak aspek untuk Piala Dunia, kalau Asian Games sih kita sudah bisa. Piala Dunia itu pengamanan World Cup itu quality controlnya tinggi sekali.

Kawasan Asia mana yang menurut Anda paling berpotensi untuk menghelat turnamen sepak bola empat tahunan ini?

Asia Timur: Jepang, Korea Selatan, Cina. Cina tidak cuma bicara, dia buktikan. Pembinaan sepak bolanya jauh lebih maju daripada Jepang, bahkan Korea. Terutama infrastruktur, itu sangat penting untuk jangka panjang. Mereka lakukan itu total. Saya lihat sendiri sih mereka banyak kompetisi usia muda, mereka kerahkan semua pemerintah daerah untuk bangun infrastruktur, seperti  bangun 40 lapangan sintetis, belum lagi akademinya. Kalau di ASEAN bisa berpotensi asal ada komitmen, dipantau secara reguler kemajuannya. FIFA harus lebih ketat, setiap tahun ditinjau ulang. Kalau tidak kita repot.

Bagaimana dengan  Asia Tenggara?

Yang paling prospek? Ya seperti tuan rumah Piala Asia 2007 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam).

Kota mana di Indonesia yang paling siap menjadi tuan rumah?

Jakarta yang paling siap, karena ibu kota. Semua sarana tersedia di sini, pusat pemerintahan  akomodasi, bandar udara, rumah sakit. Palembang belum.

Bila ini berhasil digelar di Asia Tenggara, bahkan di Indonesia, bagaimana tingkat antusiasme para pecinta sepak bola akan keputusan ini? 

Pasti tinggi, kita populasi paling besar di Asia Tenggara sebagai penggemar sepak bola. Di Asia itu Cina dan ASEAN yang paling banyak pendukung sepak bolanya. Kalau Cina karena jumlah penduduknya besar sekali, itu dia mengapa banyak siaran-siara bola di Eropa disesuaikan jamnya dengan Asia supaya dia bisa dapat pasar Asia. Sudah pastilah nanti untuk Piala Dunia luar biasa (ramai) sekali itu, keuntungan komersialnya untuk FIFA. Banyak aspek mereka bisa ambil. 

Apa saja rekomendasi yang bisa Anda sampaikan jika kita benar-benar serius ingin mencalonkan diri sebagai tuan rumah piala dunia? 

Pertama aspek fisik, stadion seperti GBK. Saya dengar ada stadion baru dibangun oleh gubernur, kalau benar jadi oke lah. Misal dari 10 negara ASEAN kita dapat satu grup saja, bisalah kita (jadi tuan rumah). Bagaimana infrastruktur itu terkoneksi atau terintegrasi dengan transportasinya. Kalau di Eropa setiap stadion itu punya terminal sendiri, MRT sendiri, jadi langsung terkoneksi dengan pusat kota, penginapan, dan bandara. Aspek sepak bola kita harus siapkan generasi untuk 2034. Harus serius, karena yang main nanti bukan orang-orang yang sekarang. Pembinaan usia muda harus diperhatikan, pemerintah tidak bisa lepas tangan, pemerintah daerah harus buat lapangan yang representatif untuk usia muda. Jangan prioritas untuk komersil. Bagaimana pun lapangan yang bagus akan menghasilkan atlet yang bagus berkualitas. Kepelatihan, pelatih kita yang punya lisensi A pro cuma segelintir. Karena kualitas pelatih yang bagus akan menghasilkan pemain yang bagus. Pemain banyak tapi pelatih tidak berkualitas sama saja bohong. Pekerjaan rumahnya banyak sekali.

Optimis bahwa pekerjaan rumah tersebut bisa selesai dalam waktu 15 tahun mendatang?

Kalau kita menganggap bahwa olahraga ini bisa mengangkat harkat dan martabat negara, bukan lagi sebagai rekreasi, tentu bisa. Harus jadi perhatian nasional, tapi aku pesimis karena DPR tidak melihat olahraga sebagai alat pembentuk karakter bangsa. Hampir semua APBN kita untuk pendidikan, cuma berapa persen untuk olahraga. Tolong jangan mimpi dulu sekarang, sebelum ada perubahan cara berpikir.

Wawancara untuk DW dilakukan oleh Rizki Akbar Putra dan telah diedit sesuai konteks.

ae/hp

Laporan Pilihan