Facebook Perangi Berita Palsu Virus Corona | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 17.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Berita Palsu

Facebook Perangi Berita Palsu Virus Corona

Berita palsu mengenai teori konspirasi COVID-19 serta obat ampuh yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut, membanjiri laman media sosial Facebook. Fitur baru “Cek Fakta” memperingatkan pengguna atas berita palsu.

Kamis (16/04), Facebook mengumumkan akan menerapkan taktik baru untuk memerangi informasi menyesatkan mengenai COVID-19 pada platform mereka.

Taktik tersebut akan menjadi salah satu upaya yang belum pernah diterapkan oleh banyak platform populer asal Sillicon Valley lainnya dalam menghadapi gelombang berita palsu mengenai virus corona yang menyasar para penggunanya. Salah satu berita palsu yang mengheboohkan yakni klaim penyakit COVID-19 adalah sebuah kebohongan.

Facebook akan memberikan notifikasi pemberitahuan jika para penggunanya menyukai, bereaksi, atau memberikan komentar terhadap postingan berita palsu tentang virus corona. Mereka akan diarahkan menuju informasi terkait mitos-mitos virus corona yang sudah dibantah Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Para penguna akan melihat pesan peringatan dalam beberapa pekan mendatang, bersama dengan fitur baru yang disebut “Cek Fakta.“ Fitur ini berada di pusat informasi COVID-19 yang tersedia di beranda utama laman Facebook dan akan mencakup artikel yang telah diverifikasi faktanya oleh organisasi mitra yang bernama Lead Stories, yang akan menyanggah segala informasi menyesatkan tentang virus corona.

Facebook mengklaim telah memberikan peringatan pada sekitar 40 juta postingan yang berkaitan dengan virus corona sepanjang bulan Maret lalu, merujuk hasil pengecekan tim pemeriksa fakta independen.

“Ketika orang melihat label peringatan tersebut, 95 persen dari mereka tidak melanjutkan untuk melihat konten aslinya,“ jelas CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Facebook menuai kecaman karena dinilai memungkinkan para penggunanya untuk membagikan berita palsu dan semakin jauh dari pengawasan pemerintah dan regulator.

Iklan palsu

Berita mengenai konspirasi COVID-19 serta obat palsu merupakan informasi yang dilawan Facebook di antara informasi menyesatkan lainnya yang membanjiri platform mereka.

Klaim bahwa virus corona bisa “mati karena klorin dioksida“ dilaporkan telah dilihat para penguna hampir 200.000 kali. Hal ini diungkapkan dalam sebuah studi baru yang dikeluakan Avaaz, sebuah komunitas advokasi asal Amerika, di mana mereka melacak sekaligus meneliti informasi yang menyesatkan secara online.

Postingan lain mengklaim bahwa bawang putih adalah obat yang ampuh untuk COVID-19. Beredar juga bahwa jaringan telekomunikasi 5G berperan dalam penularan dan penyebaran virus corona, yang kemudian viral ketika rapper Wiz Khalifa dan presenter TV Inggris Eamonn Holmes mempertanyakan hal tersebut melalui akun Twitter mereka.

Avaaz juga menemukan lebih dari 100 postingan informasi menyesatkan tentang virus corona yang telah dilihat jutaan kali, bahkan setelah postingan tersebut ditandai sebagai berita palsu oleh tim pemeriksa fakta independen Facebook.

Wakil Presiden Komisi Eropa Vera Jourova, menyambut baik langkah Facebook tesebut, namun mengatakan bahwa raksasa media sosial asal Amerika tersebut masih harus melakukan upaya lebih.

“Kami akan membutuhkan lebih banyak transparansi dan akses yang lebih baik ke data yang ada untuk para peneliti untuk memverifikasi cakupan dan dampak berita palsu dan untuk dapat memberikan penilaian kepada Facebook dari perspektif kesehatan publik dan hak-hak dasar,“ ujar Jourova dikutip dari Reuters, Selasa (16/04).

rap/pkp (AFP, AP, Reuters)