Apakah Jaringan 5G Ada Hubungannya Dengan Covid-19? | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 10.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Apakah Jaringan 5G Ada Hubungannya Dengan Covid-19?

Topik panas dan liar seputar wabah virus corona SARS-CoV-2 makin banyak dan terus bergulir. Pertanyaan yang belakangan mencuat adalah, apakah jaringan mobil 5G ada kaitannya dengan wabah Covid-19?

Sistem jaringan 5G (imago images/J. Schwarz)

Foto ilustrasi: lelang lisensi sistem jejaring mobil terbaru 5G

Pertanyaan yang dilontarkan kepada DW lewat Facebook dan Twitter tentang virus corona SARS-CoV-2 dan wabah COVID-19 amat banyak dan beragam. Salah satu pertanyaan yang belakangan ini kerap dilontarkan adalah: Apakah ada kaitan antara jaringan mobil 5G dengan wabah virus corona?

Jawabannya sebetulnya pendek: Tidak Ada! Mengkait-kaitan sistem jejaring nirkabel paling anyar 5G dengan virus corona adalah bagian dari teori konspirasi terkait wabah Covid-19, yang awalnya dilaporkan muncul di Wuhan, Cina.

Memang dapat dipahami, jika orang berusaha mencari pemahaman terkait pandemi penyakit infeksi virus jenis baru, yang tiba-tiba muncul dari lokasi yang tidak dikenal, dan dalam waktu singkat menjungkir balikkan dunia yang mereka kenal.

Akan tetapi klaim keliru atau bahkan “fake news“ yang dibuat dan disebarkan menyangkut peranan jaringan mobil 5G dalam penularan dan penyebaran SARS-CoV-2, sangat tidak membantu atau bahkan sangat berbahaya.

Salah satu versi teori konspirasi adalah berupa hoax yang mengatakan; “gejala virus corona adalah akibat dari radiasi jejaring 5G“. Hoax lainnya menyebutkan: “Virus adalah infeksi alamiah tetapi diperburuk oleh jaringan 5G“. Semua fake news alias hoax itu didesain untuk membingungkan dan mengalihkan perhatian orang dari instalasi jejaring 5G.

Ada standar internasional radiasi aman jejaring mobil

Terkait batasan radiasi aman dari jaringan nirkabel, International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection, sebuah lembaga pengawas internasional sudah merilis petunjuk acuan terkait output radisi dari menara pemancar sinyal teknologi nirkabell. Komisi internasional ini sudah mengkonfirmasi, “Tidak ada bukti ilmiah yang bisa menguatkan klaim tersebut.“

Tonton video 01:14

Korsel Mulai Operasikan Layanan Network 5G

World Health Organisation (WHO) dan badan federal Jerman  untuk Proteksi Radiasi (BfS) juga mendukung pernyataan “watchdog“ internasional itu. Disebutkan lebih jauh, tidak ada riset yang mengkaitkan paparan radiasi terknologi nirkabel denga efek kesehatan semacam itu.

Radiasi dari teknologi nirkabel untuk smartphone dan virus penyakit adalah dua entitas yang berbeda yang tidak saling berinteraksi. Yang satu adalah spektrum elektro magnetik dan yang lainnya adalah mikro organisme biologis.

Virus menular lewat cairan tubuh bukan radiasi nirkabel

Virus corona jenis baru SARS-CoV-2 menular lewat cairan tubuh pasien , baik dari hidung, mulut atau mata bukannya lewat radiasi smartphone atau jejaring nirkabel. 

Satu-satunya kemungkinan smartphone menularkan virus corona, adalah jika cairan dari orang yang terinfeksi mendarat di permukaan smartphone yang kita gunakan. Artinya, orang sehat kontak langsung dengan virus di permukaan smartphone milikya.

Untuk menghindari penularan semacam ini, di saat pandemi virus corona, jangan pinjamkan smartphone milik kita kepada orang lain. Bersihkan secara teratur smartphone milik kita dengan disinfektan. Dan yang juga sangat penting, cuci tangan dengan sabun sesuai standar arahan WHO, untuk mengurangi risiko penularan virus corona. (as/yf )

Laporan Pilihan