DW Goes to Campus 2025: Cek Fakta AI bareng Universitas Brawijaya Malang
DW Indonesia berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya Malang menggelar workshop Cek Fakta, membekali generasi muda dengan keterampilan memverifikasi informasi dan melawan hoaks. Seperti apa keseruannya?

Diskusi dan pelatihan cek fakta
DW Indonesia menyelenggarakan #DWGoesToCampus 2025 di Universitas Brawijaya, Malang. Pelatihan dan diskusi ini mengusung tema “Fact Checking: How to Tackle AI Disinformation?”, sebuah bagian dari inisiatif global untuk mempromosikan pentingnya cek fakta untuk menangkal disinformasi di era kecanggihan AI.
Apa manfaat cek fakta?
Fact-checking bukan sekadar memeriksa informasi, tetapi membantu publik memilah kebenaran di tengah banjir konten digital. Dari melawan misinformasi, mengklarifikasi mitos, hingga mengungkap manipulasi visual, cek fakta memperkuat literasi media dan daya kritis. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bagaimana verifikasi informasi menjaga ruang digital tetap sehat di era AI.
Mendukung kelompok dengan keterbatasan sensorik
Ni Komang Yuni Lestari, mahasiswi Sosiologi Universitas Brawijaya yang memiliki keterbatasan penglihatan, berbagi pandangannya tentang pentingnya akses informasi yang adil bagi semua. ”Saya sering terpapar konten deepfake di media sosial,” ujarnya. DWGC 2025 memastikan jalannya workshop tetap inklusif dengan memberikan pendampingan ekstra bagi peserta dengan kebutuhan sensorik.
Kolaborasi jurnalis DW dan akademisi
Jurnalis DW bersama dosen Universitas Brawijaya berkolaborasi dalam sesi workshop Cek Fakta, memadukan pengalaman praktis dari dunia jurnalistik dengan wawasan akademik. Kolaborasi ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan memverifikasi informasi secara kritis di tengah maraknya hoaks dan tantangan teknologi AI.
Cek fakta dan tantangan AI
Pemimpin Redaksi DW Indonesia, Vidi Legowo Zipperer, memaparkan alasan pemilihan tema DWGC 2025: “Fact-checking: How to Tackle AI Disinformation.” Menurutnya, generasi muda kini dihadapkan pada banjir informasi yang membingungkan, diperkuat oleh konten imitasi. DW Indonesia ingin memastikan jurnalisme tetap relevan, kredibel, dan adaptif di era AI.
Gotong royong digital
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya, Ahmad Imorn Rozuli, menyoroti pentingnya kerja sama lintas bidang dalam memerangi disinformasi. "Gotong royong digital itu menjadi satu skema untuk bisa bersama-sama antara dosen, pers, mahasiswa, dan masyarakat untuk mengisi hal-hal yang benar dalam dunia digital," ujarnya.
Campus Dialogue: Diskusi lintas perspektif
Sebagai bagian dari rangkaian DWGC 2025, Campus Dialogue menjadi wadah pertemuan bagi mahasiswa, akademisi, dan jurnalis untuk mengupas lanskap kecanggihan AI. Melalui diskusi terbuka, peserta saling bertukar pandangan tentang tantangan, peluang, serta pentingnya literasi digital dalam menghadapi era teknologi yang terus berkembang. (ha)