Dua Bulan Bocor, Pertamina Akhirnya Tutup Sumur Minyak YYA-1 di Karawang | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 23.09.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Lingkungan

Dua Bulan Bocor, Pertamina Akhirnya Tutup Sumur Minyak YYA-1 di Karawang

Perusahaan minyak dan gas negara, PT Pertamina, mengatakan bahwa pihaknya berhasil menghentikan tumpahan minyak bawah laut dari sumur minyak di Karawang, Jawa Barat, yang bocor selama dua bulan terakhir.

Tumpahan, dari sumur YYA-1 di lepas pantai utara di Blok Jawa Barat (ONWJ), terjadi pada 12 Juli dan dinyatakan sebagai situasi darurat tiga hari kemudian. Aktivis lingkungan mengatakan tumpahan telah mempengaruhi setidaknya 13 desa, mengancam kesehatan dan mata pencarian ribuan orang.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu mengatakan kepada wartawan pada hari Senin (23/09) bahwa pihaknya menargetkan akan secara permanen menutup kebocoran pada 1 Oktober 2019.

"Dengan penyelesaian ini, kami dapat segera berfokus pada upaya pemulihan daerah yang terkena dampak," ujar Dharmawan. "Kami akan merenovasi infrastruktur publik dan membersihkan lingkungan guna memulihkan ekosistem."

Pertamina telah menghubungkan sumur Relief Well dengan Sumur YYA -1. Taufik Aditiyawarman, Ketua Tim Penanganan menyampaikan bahwa koneksi antarsumur ini penting untuk menghentikan aliran minyak dari sumur YYA-1. "Dengan terkoneksinya dua sumur ini, maka saat ini kami dalam posisi telah dapat mengendalikan sumur YYA-1,” seperti dikutip dari siaran pers Pertamina, Senin.

Taufik menambahkan, langkah selanjutnya adalah melakukan proses "Dynamic Killing” yaitu dengan cara memompakan lumpur berat untuk melawan tekanan dalam sumur YYA-1, sehingga tercapai keseimbangan dan bisa menghentikan aliran minyak dan gas dari sumur itu. 

Namun ia mengatakan beberapa waktu ke depan masih merupakan masa kritis, karena itu, masih perlu pengawasan untuk memastikan kestabilan sumur dan memastikan tidak ada cairan yang keluar dari sumur YYA-1.

Pengawasan dilakukan melalui aerial survey, kamera thermal dan untuk di dalam laut menggunakan Remotedly Operated Vehicles (ROV). Bila kondisi dinyatakan stabil akan dilakukan tahap selanjutnya yaitu pemompaan semen untuk menutup sumur YYA-1 secara permanen. 

Pemulihan lingkungan bisa lebih lama

Pertamina memperkirakan upaya pembersihan pantai-pantai terdekat diperkirakan akan berlangsung hingga setidaknya Maret tahun depan.

Menanggapi hal ini, Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Dwi Sawung, mengatakan langkah selanjutnya yang mesti dilakukan adalah membersihkan dan memulihkan lingkungan yang rusak akibat tumpahan minyak.

Ia mengatakan bahwa waktu pemulihan lingkungan dapat lebih lama daripada yang diperkirakan.

"Bisa lebih lama sampai pulih total semua populasi satwa dan kehidupan yang ada disana kembali seperti semula," ujar Sawung kepada Deutshce Welle Indonesia, Senin.

Lebih lanjut Sawung menganjurkan Pertamina untuk menghentikan pengeboran di blok tersebut karena risiko kebocoran yang sama dapat terulang. "Sumurnya sendiri harus ditutup dan daerah tersebut tidak memungkinkan dilakukan pengeboran lagi karena ada kompaksi dan amblesan," ujarnya sambil menambahkan bahwa untuk itu perlu dibuka data terkait dokumentasi seputar kebocoran.

Sawung menyayangkan sikap Pertamina yang hingga kini tidak membuka bukti dan data terkait kebocoran kepada publik.

Pertamina berjanji akan memberikan kompensasi kepada warga yang dirugikan akibat tumpahan minyak, sebagian besar dari mereka bermata pencarian sebagai nelayan dan tinggal di desa-desa dekat sumur pengeboran.

ae/vlz (Reuters, Pertamina)

Laporan Pilihan