Pertamina Diminta Buka Informasi Terkait Data Tumpahan Minyak Karawang ke Publik | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 12.08.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Tumpahan Minyak

Pertamina Diminta Buka Informasi Terkait Data Tumpahan Minyak Karawang ke Publik

Keterbukaan informasi ini dinilai penting untuk dapat mengetahui secara transparan, apa penyebab tumpahnya minyak dan tindakan yang telah dilakukan untuk mencegah tumpahan meluas.

Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Dwi Sawung, mengatakan kepada Deutsche Welle bahwa pihaknya telah meminta Pertamina untuk membuka data-data terkait pengeboran, pascapengeboran dan rencana penanganan dalam kondisi darurat melalui surat permintaan resmi.

"Data terkait pengeboran, pascapengeboran, usaha apa saja yang telah dilakukan begitu ada tumpahan ini perlu dibuka kepada publik," ujar Sawung kepada Deutsche Welle, Senin (12/08) melalui sambungan telepon.

Ia mengatakan surat permintaan resmi telah dikirimkan pada Rabu (07/08) namun hingga saat ini belum ada tanggapan dari pihak Pertamina.

Menurut Sawung, informasi ini penting agar publik dapat mengetahui dengan transparan, langkah-langkah yang telah dilakukan Pertamina selama pengeboran, juga daftar skenario, hingga opsi-opsi yang muncul, saat diketahui adanya semburan minyak mentah pada 12 Juni 2019. Selain itu juga alasan pengambilan keputusan dan prosesnya.

"Agar bisa diketahui apakah tindakan telah sesuai prosedur. Ini 'kan kesannya ada yang ditutup-tutupi terkait penyebab kebocoran dan tindakan yang diambil setelahnya," ujar Sawung. Ia pun menyayangkan langkah perusahaan yang dinilai lamban, dalam menutup sumur yang bocor, sehingga tumpahan minyak menyebar luas.

Sawung pun berharap Pertamina dapat memperbaiki sistem manajemen mereka agar bisa mencegah bencana serupa di masa mendatang, juga agar dapat bereaksi lebih cepat ketika terjadi kebocoran.

"Sebelumnya memang pernah terjadi kebocoran minyak seperti di Balikpapan, tetapi dampaknya tidak sebesar ini," Sawung menegaskan.

Insiden tumpahnya minyak di perairan kabupaten Karawang bermula tanggal 12 Juli lalu, ketika terjadi kebocoran gas pada salah satu sumur milik Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Dua hari setelahnya, operasi kerja PHE ONWJ terpaksa dihentikan untuk mengevakuasi para pegawai. Tanggal 18 Juli tumpahan minyak telah terlihat di perairan kabupaten Karawang, 2 km dari bibir pantai. 

BdTD Indonesien Ölverschmutzung in Karawang (Reuters/W. Kurniawan)

Sebuah balon Doraemon tertambat di pagar yang terkena dampak tumpahan minyak di Karawang, Jawa Barat.

Prediksi kerusakan lingkungan ratusan milyar rupiah

Berdasarkan pantauan Antara, tumpahan minyak terlihat di Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa. Total tumpahan minyak yang berhasil dikumpulkan pada tanggal 9 Agustus 2019 mencapai sekitar 4.800 barel.

Lebih lanjut Sawung mengatakan kerugian lingkungan akibat tumpahan minyak ini diperkirakan bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Kerugian ini termasuk rusaknya ekosistem seperti padang lamur dan terumbu karang, juga hilangnya satwa dan pencemaran lingkungan.

"Dari citra satelit kami dapat melihat bahwa tumpahan minyak sudah mencapai dasar laut, jadi tidak hanya di permukaan. Ini justru lebih mematikan karena terdapat ekosistem seperti terumbu karang. Kalau itu rusak, hewan-hewan yang hidup di sana tidak ada lagi dan tidak ada lagi ikan besar," ujar Sawung. Namun untuk lebih dapat memastikan, Walhi berencana mengirimkan tim untuk mengambil sampel dasar laut dari area yang terkena dampak.

Ia mengatakan, tumpahan minyak kali ini terbilang besar dan usaha memulihkan kerusakan lingkungan akibat bencana ini, bisa memakan waktu lebih dari satu tahun.

Upaya hentikan tumpahan minyak

Hingga saat ini pihak Pertamina masih berupaya untuk menghentikan kebocoran minyak dan gelembung gas yang dihasilkan dari sumur YYA-1.

Dalam siaran pers Senin (12/08) Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ) menyatakan masih terus mengintensifkan pengeboran sumur YYA-1 RW agar dapat menghentikan gelembung gas di sekitar sumur YYA-1.

Hingga hari Senin, pengeboran telah mencapai kedalaman 1.464 meter atau lebih dari 4.000 kaki, dari target 2.765 meter, atau sekitar 9.000 kaki. VP Relation PHE ONWJ, Ifki Sukarya mengatakan pengeboran telah dilakukan sejak 1 Agustus 2019 dengan menggunakan rig Soehanah untuk mengatasi kebocoran.

"Pengeboran relief well alias sumur baru (YYA-1RW) untuk menginjeksikan fluida berupa lumpur berat agar sumur YYA-1 bisa ditutup permanen,” tegas Ifki.

Seperti diketahui, Pertamina mempercepat pengeboran relief well YYA-1RW guna menghentikan gelembung gas. Keputusan ini dilakukan setelah dilakukan survei selama satu minggu untuk menentukan titik sumur dan penempatan rig.

Rig ini berdiri sekitar 1 kilometer dari anjungan YY, tempat sumur YYA-1 berada. Pengeboran sumur telah dimulai jam 14.00 WIB pada Kamis (1/8), atau 2 hari lebih cepat dari jadwal.

Pertamina juga berupaya menahan tumpahan minyak agar tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan proteksi berlapis di sekitar anjungan dan mengejar, melokalisir, serta menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom, atau sabuk penahan penyebaran minyak, di sekitar anjungan.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Perhubungan Laut Kementrian Perhubungan, Ahmad, mengatakan pada Minggu (12/08) bahwa pihaknya menurunkan kapal KN Alugara milik Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok, Jakarta, guna mengamankan dan mengawasi tumpahan minyak di lokasi.

Penanganan tumpahan minyak lepas pantai, ujar Ahmad, telah melibatkan 46 kapal dan 937 personel untuk mengatasi tumpahan minyak. Oil boom yang digunakan panjangnya 5.700 meter. Sementara pada area di dekat pantai, oil boom yang sudah dipasang, panjangnya 2.070 meter dan pemasangannya melibatkan 2.856 personel.

ae/ml (pertamina.com, antara)

Laporan Pilihan