Apakah Dosis Kedua Vaksin Corona Bisa Diberikan Lebih Lambat? | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 07.01.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

wabah corona

Apakah Dosis Kedua Vaksin Corona Bisa Diberikan Lebih Lambat?

Menimbang keterbatasan pasokan vaksin dan agar lebih banyak orang mendapat imunisasi, ada wacana mengundurkan interval pemberian dosis kedua. Para ilmuwan kini terbagi dua kubu menanggapi wacana ini.

Vaksinas massal di Jerman dengan prioritas manula di atas 80 tahun dan nakes

Ilustrasi: vaksinasi pertama dilakukan secara massal di Jerman, dengan prioritas manula di atas 80 tahun dan nakes

Sejatinya vaksin Covid-19 harus diberikan dua dosis, dengan interval minimal tiga minggu. Tapi menimbang terbatasnya pasokan dan tingginya animo, Inggris akan menunda hingga beberapa minggu pemberian dosis kedua. Tujuannya, agar lebih banyak orang mendapat vaksinasi lebih awal. Pejabat kesehatan di London berpendapat, penangguhan pemberian dosis kedua hingga 12 minggu, tidak akan mempengaruhi keampuhan vaksin.

Wacana dari Inggris ini, juga memicu diskusi panas di Uni Eropa. Kini para pakar medis terpecah pada dua kubu, pro dan kontra. Pandangan mereka juga sangat bertolak belakang, yang membuat kepercayaan pada vaksin baru corona tidak makin positif. Tapi yang jelas, vaksinasi dosis kedua sangat diperlukan, karena ini ibarat "booster" roket pendorong yang memicu jawaban imunitas tubuh lebih kuat.

Berpegang pada data yang sudah ada

Lembaga pengawas obat-obatan Eropa-EMA, yang setelah Brexit tidak lagi bertanggung jawab pada regulasi obat-obatan di Inggris, menanggapi skeptis wacana kerajaan itu. Pasalnya, walau batas waktu paling lambat antara pemberian dua dosis vaksin BioNTech-Pfizer tidak didefinisikan ketat, tapi pembuktian keampuhannya didasarkan pada sebuah riset, yang menyebut pemberian dosis hendaknya diberikan dengan jeda antara 19 hingga 42 hari.

Artinya, pemberian dosis vaksin susulan setelah enam bulan, tidak selaras dengan regulasi yang sudah diterbitkan, dan menuntut perubahan izin serta data klinis lebih banyak.

Pfizer mendasarkan pada data uji klinis fase tiga yang hanya meneliti seefektif apa vaksin setelah memberikan dua dosis dalam jarak waktu terpaut tiga minggu. Walau diketahui, sebagian sudah membangun reaksi pertahanan tubuh setelah 12 hari pemberian dosis pertama, tapi tidak ada data mengenai jangka waktu setelah tiga minggu.

President Paul-Ehrlich-Instituts (PEI), Professor Dr. Klaus Cichutek, juga menyatakan tetap akan bertahan pada lampiran data yang sudah ada, terkait keampuhan dan keamanan vaksin bersangkutan.

Interval pemberian vaksin yang fleksibel

Thomas Mertens, ketua komisi tetap vaksinasi Jerman (STIKO) pada Robert-Koch-Institut (RKI), sebaliknya menanggapi positif wacana dari Inggris itu. "Karena interval antara kedua vaksinasi, kemungkinan besar bisa variabel dalam batasan lebih panjang, dan perlindungan setelah dosis pertama juga sudah cukup bagus, sangat patut dipertimbangkan, pada saat kelangkaan pasokan vaksin, prioritas ditekankan pada pemberian vaksin dosis pertama", tegas Mertens.

Pakar virologi Hendrik Streeck, juga mendukung wacana Inggris itu. "Data menunjukkan, setelah pemberian vaksin pertama, separuh dari orang yang divaksinasi sudah mendapat perlindungan dari gejala sakit berat. Jika dosis kedua vaksin diberikan dengan interval lebih panjang, artinya kontingen dosis pertama vaksin bisa mencapai kapasitas dua kali lipatnya", tegas Streeck.

Prof. Dr. Peter Kremsner, direktur Institut Kedokteran Tropis di Universität Tübingen juga melihat adanya ruang gerak terkait interval pemberian dosis kedua ini. "Pada dasarnya, wacana dari Inggris itu sangat logis. Seperti pada vaksinasi lainnya, pemberian dosis kedua kemungkinan masih bagus, jika diberikan dua sampai tiga bulan sesudah dosis pertama, yang menunjukkan keampuhan tinggi. Jika efek vaksinasi pertama tidak cepat menghilang, vaksinasi kedua bisa diberikan dengan interval lebih panjang, misalnya setelah enam bulan. Ini yang belum kita ketahui. Pada vaksin lainnya, hal semacam itu juga sudah dilakukan", ujar Kremsner.

Leif Erik Sander, ketua kelompok peneliti imunologi infeksi dan riset vaksin di rumah sakit Charité Berlin, menurut "Science Media Center" mendukung "fleksibilitas interval vaksinasi". Pada vaksin BioNTech-Pfizer, interval tiga minggu, secara imunologi dipandang sebagai batas minimal. "Kita punya ruang gerak lebih luas", papar Sander. "Vaksinasi kedua bisa dengan mudah dan tanpa masalah agak diundur waktunya. Kami tidak melihat ada penurunan signifikan keampuhannya".

Pakar imunologi itu juga menegaskan, ini merupakan strategi sementara waktu. Dan sangat penting diperhatikan, semua yang mendapat dosis pertama vaksin, harus mendapat dosis kedua.

Sander juga menunjukkan, dosis kedua vaksin buatan Astra Zeneca/Oxford akan diberikan setelah enam minggu. "Data dari Astra Zeneca/Oxford menunjukkan, booster yang diberikan lebih lambat justru memperkuat jawaban antibodi. Fenomena ini dikenal dari riset lainnya, misalnya vaksin Ebola", pungkas Sander daam wawancara dengan surat kabar Jerman Die Welt.

Alexander Freund  (as/pkp)

 

Laporan Pilihan