1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sistem pertahanan udara Iron Dome diluncurkan untuk mencegat roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza, di Ashkelon, Israel selatan, Minggu (07/08)
Sistem pertahanan Iron Dome Israel yang meluncur untuk menangkis roket PalestinaFoto: Ariel Schalit/AP Photo/picture alliance
KonflikTimur Tengah

Dibantu Mesir, Israel dan Palestina Setujui Gencatan Senjata

8 Agustus 2022

Israel dan kelompok Jihad Islam Palestina mengumumkan bahwa gencatan senjata mulai berlaku pada Minggu (07/08) malam. Mesir telah memainkan peran penting dalam proses mediasi.

https://www.dw.com/id/dibantu-mesir-israel-dan-palestina-setujui-gencatan-senjata/a-62737562

Perdana Menteri Israel Yair Lapid mengonfirmasi pada hari Minggu (07/08) bahwa gencatan senjata dengan militan Palestina mulai berlaku pada pukul 11:30 malam waktu setempat. 

Kelompok Jihad Islam Palestina menyetujui gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir.

Bagaimana serangan terbaru bermula?

Israel memulai operasi militernya, yang diberi nama "Breaking Dawn" pada hari Jumat (05/08). Sejauh ini, serangan udara Israel telah menewaskan beberapa anggota senior kelompok Jihad Islam, termasuk komandan tertinggi Khaled Mansour dan Tayseer al-Jabari. Militer Israel mengklaim bahwa baik Mansour dan al-Jabari telah merencanakan serangan teror.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan sejauh ini sebanyak 41 orang tewas akibat operasi Israel tersebut, termasuk di antaranya anak-anak. Israel menyebut bahwa anak-anak itu tewas akibat roket salah sasaran yang ditembak oleh kelompok Jihad Islam.

Warga Palestina menulusuri puing-puing bangunan tempat tinggal di kamp pengungsi Rafah di Jalur Gaza selatan, Minggu (07/08)
Setidaknya puluhan warga Palestina tewas dan ratusan terluka akibat serangan fajar IsraelFoto: Ismael Mohamad/UPI/IMAGO

Menurut pihak berwenang Gaza, setidaknya 311 orang terluka akibat kejadian ini. Militan Palestina juga telah meluncurkan ratusan roket yang mengarah ke kota-kota Israel, termasuk Tel Aviv dan Ashkelon. Sejauh ini, dua warga Israel terluka saat para warga sipil tengah bergegas berlari ke tempat perlindungan karena serangan tembakan roket tersebut.

Israel juga mengatakan bahwa mortir Palestina telah merusak batas perbatasan Israel-Gaza di Erez. Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), dan anggota komunitas internasional lainnya juga telah menyerukan deeskalasi konflik.

Hamas, kelompok otoritas Islam yang berkuasa di Gaza, sebagian besar mencoba untuk menghindari konflik. Hamas dan Jihad Islam keduanya telah dianggap sebagai organisasi teroris oleh UE dan AS.

Mesir telah memainkan peran kuncinya dalam upaya mediasi antar dua negara berkonflik, Israel-Palestina. Tahun lalu, Mesir juga menengahi gencatan senjata yang mengakhiri perang 11 hari antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza.

Presiden AS Joe Biden pun menyambut baik gencatan senjata yang dimulai kemarin (07/08) malam. Biden menambahkan bahwa dia mendukung penyelidikan atas laporan para korban sipil.

Biden juga merilis sebuah pernyataan yang menyerukan "pada semua pihak untuk sepenuhnya menerapkan gencatan senjata, dan untuk memastikan bahan bakar dan pasokan kemanusiaan terus mengalir ke Gaza saat pertempuran mereda."

Krisis kemanusiaan di Gaza yang semakin memburuk

Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk setelah gejolak serangan terbaru terjadi di wilayah tersebut. Kepala Rumah Sakit Shifa di kota Gaza mengatakan bahwa warga yang terluka terus berdatangan "setiap menitnya”. Akibatnya, terjadi krisis kekurangan obat-obatan di Gaza, bersamaan dengan adanya pemadaman listrik yang sering terjadi.

Israel menutup penyeberangannya dengan Gaza di awal pekan minggu lalu karena masalah keamanan. Pembangkit listrik satu-satunya Gaza terpaksa ditutup karena kekurangan bahan bakar pada hari Sabtu (06/08) lalu.

Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan bahwa layanan medis akan dapat dihentikan pada Selasa (09/08) karena kekurangan pasokan arus listrik. PBB mengatakan bahwa dampak dari pemadaman listrik itu juga akan menyebabkan pasokan air di Gaza terganggu. Hal tersebut akan semakin memperburuk krisis kemanusiaan di jalur Gaza.

kp/ha (AFP, Reuters)