1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Di Persimpangan Jalan. Menjelang Pemilu di Ethiopia

21 Mei 2010

32 juta warga yang berhak memilih diserukan untuk ikut dalam pemilu parlemen Minggu (23/05). Pemilu itu jadi ujian bagi demokrasi di Ethiopia, setelah pemilu 2005 diwarnai kerusuhan yang mengakibatkan 200 orang tewas.

https://p.dw.com/p/NUGI
Kampanye pemilu EthiopiaFoto: DW

Waktu di jam raksasa di Lapangan Meskel di pusat ibukota Addis Abeba menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh. Di jam yang tidak berfungsi itu tampak gambar sarang lebah dengan seekor ratu lebah di bagian tengah.

Itu adalah emblem Front Demokrasi Revolusioner Rakyat Ethiopia atau EPRDF di bawah pimpinan Perdana Menteri Meles Zenawi, yang memerintah sejak 1991. Lebah dianggap binatang yang rajin dan bekerja secara kolektif. Inilah kesan yang ingin disampaikan kepada rakyat. "Kami bekerja tanpa lelah bagi kalian, bagi kemajuan Ethiopia".

Investasi dalam Kampanye

Wahluhr der regierenden EPRDF auf dem Meskel Square in Addis Abeba
Jam dengan logo EPRDF di pusat kota Addis AbebaFoto: DW

Sebenarnya jam itu harus menunjukkan pukul dua belas kurang lima. Itulah waktu tatkala aksi protes tahun 2005 dibubarkan dengan brutal, dan oposisi serta wartawan ditangkap. Semua itu, ditambah serangkaian undang-undang yang represif menyebabkan negara yang dulunya mendapat banyak dana bantuan kini menjadi miskin.

Tidak ada yang ragu, bahwa EPRDF akan keluar sebagai pemenang. Persiapannya sekarang matang. Peristiwa tahun 2005 tidak boleh terulang lagi. Ketika itu dinas rahasia juga tidak mengantisipasi bahwa ada orang yang mengubah pendapat dan memberikan suara kepada oposisi.

Untuk pemilu kali ini sejumlah besar uang diinvestasikan dalam kampanye, di antaranya 2 juta Birr, atau sekitar 1,2 juta Euro dari sumbangan swasta bagi partai. "Kami memberikan banyak anak muda t-shirt dengan logo partai, agar mereka membantu kami mengiklankan partai.“ Demikian dikatakan seorang anggota partai EPRDF yang berkampanye di Addis Abeba.

Oposisi Tidak Berdaya

Innovative Fahrrad-Wahlrallye der regierenden EPRDF für die Parlamentswahl in Äthiopien am 23.Mai
Dengan mengenakan t-shirt berwarna kuning dan bergambar lebah yang menjadi emblem EPRDF, para remaja melancarkan kampanye (Mei 2010)Foto: DW

Dr. Negaso Gidada, wakil ketua Medrek atau Forum untuk Demokrasi dan Dialog, yang menjadi ikatan delapan partai oposisi memberikan tanggapan."Dalam lima tahun belakangan ini politisi oposisi ditangkap dan diintimidasi. Di banyak wilayah, oposisi tidak dapat membuka kantor. Oleh sebab itu kondisi kami sebelum pemilupun sudah tidak adil." Dr. Negaso Gidada pernah menjadi presiden Ethiopia. Ia juga menjadi rekan Meles Zenawi, sebelum ia pindah ke kubu lain.

Dengan logonya berupa gambar tangan yang diulurkan, Medrek adalah saingan terkuat EPRDF. Tetapi seperti halnya seluruh oposisi, dalam kampanyenya ikatan kelompok etnis terbesar Ethiopia itu memberikan kesan lemah dan terpecah belah.

Pekan ini seorang anggota parlemen dari Partai Medrek ditangkap. Jika dikonfrontasikan dengan sabotase dan tekanan seperti itu, oposisi hanya mengandalkan misi pengamat pemilu dari Uni Eropa. 190 pengamat akan memantau jalannya pemilu. Thijs Berman, pengamat dari Belanda yang terakhir bertugas di Afghanistan tahun 2009, akan memimpin misi tersebut.

Memandang Pengamat dari Eropa

EU-Wahlbeobachtermission Äthiopien EUEOM Ethiopia 2010
Para pengamat dari Eropa yang tergabung dalam "EUEOM Ethiopia 2010"Foto: DW

Berman mengutarakan, "Sudah jelas, bahwa apa yang terjadi kali ini dan kekerasan tahun 2005 memegang peranan penting dalam proses pemilu. Yang jelas semua ingin pemilu yang berjalan dengan damai. Di lain pihak, sebagai pemimpin misi saya menghadapi pemerintah yang memandang misi kami dengan skeptis dan kekhawatiran“.

Karena badan pengamat AS, Carter Centre menolak undangan tahun ini, dan karena Uni Afrika yang bermarkas di Addis Abeba kemungkinan besar tidak akan memberikan penilaian negatif, setelah tempat pemberian suara ditutup hari Minggu mendatang, semua mata akan memandang pada tim pengamat yang dipimpin Berman.

Untungnya, warga Belanda itu mempunyai gelar akademis di bidang psikologi. Itu pasti dibutuhkannya, untuk dapat mengerti proses pemilu di negara, yang sekitar 50 tahun lalu masih hidup dalam kekuasaan feodal seperti di Abad Pertengahan. Dalam sejarahnya puluhan tahun belakangan ini, Ethiopia juga tidak pernah mengalami pergantian kekuasaan secara damai.

Hendak Menempuh Jalan Damai

Dr. Negasso Gidada
Mantan Presiden Dr. Negasso Gidada, yang sekarang menjadi wakil ketua MedrekFoto: DW

Jika tidak diganggu, lebah sebenarnya binatang yang tidak menyerang. Emblem partai-partai oposisi terbesar juga tidak menunjukkan keributan, misalnya gambar tangan bersalaman, acungan jempol atau gambar bunga. Tetapi ada juga partai-partai yang menggunakan logo perisai dan lembing, obor yang menyala atau macan yang mengincar mangsa. 80 juta rakyat Ethiopia dan sejumlah besar pengamat berharap, setelah pertumpahan darah tahun 2005 lalu, kali ini Ethiopia akan menempuh jalan yang damai.

Abdurrahman, juru bicara komisi pemilu Ethiopia NEBE, yang otonom tetapi mendapat kritik keras tahun 2005 lalu, percaya, tahun ini pemilu akan berjalan damai. Padahal empat pekan belakangan ini terjadi pembunuhan bermotif politik atas enam orang. Abdurrahmah mengemukakan, "Satu atau dua politisi yang tidak dapat mengubah diri tidak dapat menyebabkan mulainya gelombang kekerasan. Rakyat telah menarik pelajaran dari pemilu terakhir. Mereka tidak mau kekerasan lagi. Pemilu ini dari awal hingga akhir akan dilaksanakan dengan cara damai dan berdasarkan hukum.“

Peminat Kurang

Fußballspielende Kinder vor einem Wahklplakat der regierenden EPRDF in Addis Abeba
Anak-anak yang bermain sepak bola di depan poster kampanye EPRDF. Mereka lebih tertarik pada sepak bola daripada politikFoto: DW

Tahun ini, apa yang disebut "Generasi EPRDF“, yang lahir tahun 1991, untuk pertama kalinya ikut dalam pemilu. Tetapi tidak banyak orang yang berminat mendukung. Melalui sebuah surat kepada partai seseorang mengeluh, EPRDF terlalu apatis. Jawaban yang diterimanya: politisi kita sudah terlalu tua dan ideologinya diperindah.

Salomon, seorang pemuda berusia 24 tahun, mengenakan kaus seragam kesebelasan sepak bola. Pekan ini ia juga lebih tertarik pada pertandingan final Liga Champions Eropa daripada pemilu. Salomon berkata, "Kami sudah melihat apa yang dihasilkan pemilu lima tahun lalu. Saya tidak mau mengulang itu lagi. Saya menjaga jarak dari politik."

Ludger Schadomsky / Marjory Linardy

Editor: Asril Ridwan