1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialAsia

Warga Suriah Protes Pembatasan Penjualan Miras di Damaskus

23 Maret 2026

Aksi protes di Damaskus pecah pada hari Minggu (23/03), dilatari kegelisahan bahwa otoritas islamis kian membatasi ruang kebebasan pribadi, terutama dalam hal penjualan dan konsumsi alkohol.

https://p.dw.com/p/5AukD
Protes pembatasan penjualan minuman beralkohol di Damaskaus, Suriah, 22 Maret 2026
Pihak berwenang Damaskus mengatakan keputusan itu dibuat 'atas permintaan masyarakat setempat'Foto: Omar Sanadiki/AP Photo/picture alliance

Gubernur ibu kota Suriah , Damaskus, pekan lalu melarang penjualan minuman beralkohol di restoran dan bar di seluruh kota. Mereka diberi waktu tiga bulan untuk mematuhi perintah tersebut.

Pihak berwenang mengatakan keputusan itu diambil atas "permintaan komunitas lokal". Mereka memberikan pengecualian bagi toko-toko di tiga distrik yang mayoritas penduduknya Kristen, dengan mengizinkan penjualan alkohol dalam botol tertutup untuk dibawa pulang.

Namun, toko-toko tersebut tidak diizinkan menyajikan alkohol di tempat. Mereka juga harus berjarak setidaknya 75 meter dari masjid dan sekolah, serta 20 meter dari kantor polisi dan kantor pemerintah.

‘Ini tentang kebebasan pribadi'

Dalam demonstrasi pada hari Minggu (23/03), pasukan keamanan bersenjata lengkap mengepung dan memantau para pengunjuk rasa. Aksi tersebut berlangsung tanpa insiden.

"Ini bukan tentang apakah kami ingin minum alkohol, ini tentang kebebasan pribadi,” ujar Isa Qazah, seorang pematung berusia 45 tahun, kepada kantor berita AP di lokasi protes. "Kami datang ke sini untuk memperjuangkan gagasan.”

Pekerja televisi Rami Koussa, yang berusia 37 tahun, mengatakan kepada AFP bahwa "keputusan seperti ini tidak akan bertahan.”

Aksi protes ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa otoritas islamis dapat semakin membatasi kebebasan pribadi, setelah mereka menetapkan aturan pakaian renang "sopan” di pantai di seluruh negeri dan melarang penggunaan riasan bagi pegawai perempuan sektor publik di Provinsi Latakia.

Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa belum memberikan komentar publik mengenai perdebatan tentang alkohol.Foto: Khalil Ashawi/REUTERS

Tekanan yang meningkat dari kelompok garis keras religius

Presiden Ahmed al-Sharaa, mantan pemberontak islamis yang kini memimpin pemerintahan sementara negara yang dilanda perang tersebut, belum memberikan komentar publik mengenai perdebatan soal alkohol.

Sejauh ini, ia masih berhati-hati dalam menerapkan pembatasan sosial. Namun, pemerintahannya menghadapi tekanan yang semakin besar dari kelompok garis keras untuk menerapkan nilai-nilai Islam yang lebih konservatif.

Suriah juga diguncang oleh beberapa insiden kekerasan sektarian yang mematikan, meskipun al-Sharaa berjanji untuk menyatukan negara, menghormati pluralisme, dan melindungi kelompok minoritas.

Di tengah kritik tajam, otoritas Damaskus mengeluarkan pernyataan pada Sabtu malam yang berisi permintaan maaf kepada penduduk Kristen di kota itu "atas setiap kesalahpahaman atau salah penafsiran terhadap keputusan tersebut.”

Mereka juga menegaskan bahwa hotel tidak akan terkena pembatasan alkohol. "Keputusan ini tidak mengganggu kebebasan pribadi warga,” demikian bunyi pernyataan tersebut. "Pengaturan penjualan alkohol ada di semua negara, dengan perbedaan dalam cara penerapan dan penegakannya.”

 

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait