1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahJerman

Bagaimana Hitler Mendefinisikan Ras Arya bagi Kaum Nazi?

6 Mei 2026

Menurut ideologi Nazi, seorang dengan ras Arya idealnya adalah seseorang yang berambut pirang, bermata biru, dan bertubuh atletis. Istilah yang kerap dikaitkan dengan Nazi ini sebenarnya berasal dari negara lain.

https://p.dw.com/p/5DJuu
Jerman 1933-1945 | Foto propaganda Nazi yang mengacu pada ras ideal Nordik
Foto propaganda Nazi yang mengacu pada ras ideal NordikFoto: Scherl/SZ Photo/picture alliance

Seperti banyak orang Jerman lainnya, Adolf Hitler tidak berambut pirang dan tidak terlalu tinggi. Gambaran ideal Nazi tentang ras Arya yang berakar dari Eropa Utara sebenarnya bukan hal umum, melainkan sebuah pengecualian.

Di era Nazi, silsilah keluarga menjadi penting: Mulai tahun 1935, semua warga negara Jerman harus menyerahkan"Ariernachweis” atau sertifikat asal usul ras Arya untuk membuktikan bahwa dalam silsilah keluarga mereka tidak ada keturunan Yahudi atau Romani setidaknya selama tiga generasi.

Pegawai negeri, dokter, dan pengacara wajib menyerahkan "Ariernachweis” lebih awal, di tahun 1933. Penelitian tentang asal usul ini kerap memakan waktu sebelum akhirnya warga dapat menyerahkan dokumen mereka kepada "Biro Penelitian Genealogi” untuk diverifikasi.

Nazi menyatakan bahwa orang Jerman adalah "ras penguasa yang unggul” dan orang Yahudi sebagai "ras inferior” yang kemudian dikucilkan secara sistematis dari masyarakat dan dibunuh.

Dalam film-film propaganda, Nazi mengklaim bahwa orang Yahudi ingin menghancurkan tatanan dunia dan merebut kendali dari "ras penguasa yang unggul”.

Jerman, 1938 | Kalender Propaganda Nazi mempromosikan "Bangsa Baru".
Kalender tahun 1938 yang mempromosikan "Bangsa Baru".Foto: akg-images/picture alliance

Dalam karikatur, terutama yang diterbitkan surat kabar Nazi "Der Stürmer,” orang Yahudi digambarkan secara konyol dengan hidung bengkok dan ekspresi wajah yang serakah.

Namun, ada kelompok-kelompok etnis lain yang dianggap oleh Nazi memiliki ciri-ciri Arya, yakni suku-suku Nordik dan Skandinavia. Ketika mereka menjumpai anak-anak berambut pirang dan bermata biru di negara-negara seperti Latvia atau Polandia, mereka tidak segan-segan menculik mereka dan mengirim mereka ke panti asuhan yang dikelola sebagai bagian dari program eugenika "Lebensborn” (program Nazi untuk peningkatan ras Arya).

Panti-panti asuhan tersebut bertujuan mendukung ‘Germanisasi', sebuah gagasan dari Heinrich Himmler, kepala SS, yang ingin mendorong pertumbuhan populasi yang bernilai secara rasial.

Istilah Arya juga menjadi dasar bagi ‘Aryanisasi', yang berarti penyitaan dan pengalihan kepemilikan usaha dan harta milik Yahudi kepada non-Yahudi.

Berlin, 1934 | Pameran dan pelajaran mengenai doktrin rasial Nazi.
Pameran dan pelajaran mengenai doktrin rasial Nazi merupakan hal yang lumrah di tahun 1934.Foto: Scherl/SZ Photo/picture alliance

Asal usul Arya yang sebenarnya

Meskipun istilah Arya umum digunakan dalam bahasa sehari-hari, para peneliti ras kaum Nazi tidak sering menggunakannya. Sebaliknya, mereka lebih suka menyebut "darah Jerman atau keturunan Jerman”. Mereka tahu bahwa istilah tersebut awalnya merujuk pada kesamaan linguistik, bukan ciri fisik yang diwariskan.

Penemuan arkeologis menunjukkan bahwa istilah Arya telah ada selama lebih dari dua milenium. Raja Persia Darius I memiliki makam batu dengan ukiran di Naqsh-e Rostam. Pada ukiran tersebut tersebut tertulis: "Aku adalah Darius, raja agung … seorang Persia, putra seorang Persia, seorang Arya, keturunan Arya.” Kata tersebut juga muncul dalam teks-teks suci India dalam bahasa Sanskerta.

Naqsh-e Rostam, Iran 2022 | Makam Artaxerxes I dan Darius Agung
Darius, Raja Persia yang mengaku dirinya sebagai seorang Arya, dimakamkan di Naqsh-e RostamFoto: Evaldas Mikoliunas/imageBROKER/picture alliance

Awalnya, masyarakat di India dan Iran menggunakan istilah Arya untuk kaum ‘bangsawan' atau ‘yang terhormat'. Arya diyakini merupakan keturunan dari suku-suku nomaden yang bermigrasi dari wilayah yang kini dikenal sebagai Ukraina, Kazakhstan, dan Rusia selatan.

Setelah menemukan kesamaan antara sebagian besar bahasa Eropa dan bahasa-bahasa Persia atau Sanskerta, para ilmuwan kemudian mengklasifikasikan Arya sebagai bagian dari bahasa Indo-Eropa.

Penafsiran rasis terhadap istilah tersebut

Penafsiran rasis terhadap istilah Arya dimulai pada pertengahan abad ke-19.

Dalam karya empat jilid berjudul "An Essay on the Inequality of the Human Races” yang ditulis seorang diplomat Prancis, Joseph Arthur de Gobineau. Gobineau membagi umat manusia menjadi ras kulit putih, kuning, dan hitam.

Gobineau pun menyimpulkan adalah bahwa ras asli kulit putih Arya lebih unggul daripada yang lain. Hal ini ditandai dengan kecerdasan yang tak terukur dan takdir untuk memerintah atas ras lainnya. Ia juga memperingatkan "percampuran ras” yang tak hanya membahayakan kualitas ras asli Arya tapi juga umat manusia secara keseluruhan.

Teori Gobineau sebagian besar diabaikan oleh rekan-rekannya pada masa itu, tetapi kemudian mendapat dukungan setelah diadopsi dan dimodifikasi untuk melayani tujuan nasionalis dan pendukung kelompok ekstrem kanan.

Setelah kematiannya, banyak ilmuwan dan akademisi menggunakan teori ras Gobineau sebagai dasar tulisan. Salah satunya adalah Houston Stewart Chamberlain, yang kemudian menjadi menantu komposer ternama Jerman Richard Wagner. Dalam bukunya tahun 1899 berjudul "The Foundations of the Nineteenth Century,” penulis Inggris ini membuat teori rasis Gobineau ‘naik level'.

Jerman 1925 | Foto Houston Stewart Chamberlain
Teori-teori antisemitisme Houston Stewart Chamberlain menguatkan ideologi HitlerFoto: Scherl/SZ Photo/picture alliance

Chamberlain begitu memuja ras Jermanik. Namun, ia menyadari bahwa tidak semua orang Jerman secara fisik sesuai dengan tipe Arya ideal yang digambarkan oleh Gobineau, ia pun mendasarkan kecintaannya pada kebaikan moral seorang Jerman yakni kejujuran, kesetiaan, dan ketekunan yang ia yakin hanya dapat diwariskan secara biologis (keturunan).

Chamberlain menggambarkan ras Yahudi sebagai ras yang kurang kreatif dan idealis, serta hanya didorong oleh kepentingan material, sehingga menjadi ancaman bagi ras Jermanik.

Meski Chamberlain mengakui bahwa beberapa orang Yahudi bisa juga memiliki watak mulia,  tetapi di saat yang bersamaan ia menekankan ketidakmampuan dan inferioritas kaum Yahudi jika dibandingkan dengan ras Arya. Karya Chamberlain diterima dengan baik di Jerman. Di antara pengagumnya adalah Kaisar Wilhelm II, yang berulang kali mengundangnya ke istana.

Buku Mein Kampf yang ditulis Hitler I Karya rasis yang sarat dengan ujaran kebencian.
Buku Mein Kampf karya Hitler, sebuah karya rasis yang sarat dengan ujaran kebencian dan fantasi kekerasan.Foto: Daniel Karmann/dpa/picture alliance

Teman seperjuangan: Chamberlain dan Hitler

Pada tahun 1917, Chamberlain bergabung dengan Partai Jerman yang berhaluan ekstrem kanan, nasionalis, dan antisemitisme. Pada 30 September 1923, kunjungan Adolf Hitler tampaknya meninggalkan kesan mendalam pada Chamberlain.

Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, Chamberlain menulis surat kepada calon pemimpin Jerman tersebut, "bahwa Jerman ‘melahirkan' Hitler di masa-masa sulit menunjukkan bahwa Jerman masih hidup (kuat).”

Hitler menganggap Chamberlain pun sebagai salah satu penyebar ideologi dan pendukungnya. Dalam bukunya "Mein Kampf,” Hitler berulang kali merujuk pada Chamberlain dan, seperti dirinya, memuji keunggulan yang diduga dimiliki "ras Arya.”

Secara ilmiah ras manusia tidak eksis secara biologis. Nazi menyalahgunakan istilah Arya untuk menyebarkan dan melegitimasi ideologi tidak manusiawi.

Hingga hari ini, para rasis di seluruh dunia masih menggunakan interpretasi keliru istilah tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha