1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahJerman

Nueva Germania, ‘Proyek Arya’ yang Gagal di Paraguay

22 April 2026

Imigran Jerman mendirikan Nueva Germania di Paraguay pada tahun 1886 sebagai tempat tinggal baru bagi 'ras Arya'. Proyek tersebut gagal namun versi lainnya masih eksis hingga kini.

https://p.dw.com/p/5CbFg
Foto pers Klassik Stiftung Weimar | Nueva Germania, Paraguay
Kehidupan para pendatang dari Jerman di Paraguay saat itu sangat berat (Foto tahun 1888).Foto: Klassik Stiftung Weimar

Di akhir abad ke-19, seorang guru sekolah di Berlin bernama Bernhard Föster mengatakan bahwa budaya dan nilai-nilai Jerman sedang terancam dan menyebut kaum Yahudi sebagai biang keladinya. Sebagai seorang penganut antisemitisme fanatik, ia berulang kali diadili Kekaisaran Jerman saat itu atas hasutan rasial.

Föster menghadapi hukuman disipliner di sekolah, bahkan masuk ke dalam daftar buronan. Ia tak lagi melihat masa depan bagi dirinya di tanah airnya, Jerman. Ia pun memimpikan sebuah Germania yang "bebas dari orang Yahudi” yang akan berkembang dengan semangat baru dan penuh kekuatan di bawah kepemimpinannya.

Sebuah utopia di Amerika Selatan

Föster sudah memiliki gambaran tempat yang ideal untuk mimpinya. "Saya akan menanamkan budaya Jerman ke ‘tanah baru yang menjanjikan',” serunya merujuk ke Paraguay, di mana Sungai Aguaray-mí dan Aguaray-Guazu bertemu.

Selama dua tahun, dari 1883 hingga 1885, Förster menjelajahi negara itu dengan menunggang kuda, mencari tempat untuk mewujudkan utopianya. "Tentu saja, ia didorong oleh keyakinan politik atau ideologisnya,” kata arkeolog Natascha Mehler kepada DW. "Namun, dari perspektif saat ini, dapat dikatakan bahwa ia adalah seorang yang tidak cocok dengan masyarakat umum dan mencoba membangun kehidupan baru untuk dirinya sendiri di tempat lain.”

Dalam perjalanannya, Föster didampingi istrinya, Elisabeth, yang merupakan saudara perempuan filsuf Friedrich Nietzsche. Ia mendukung visi suaminya: "Kita akan mengembangkan ras Arya yang unggul di hutan-hutan Amerika Selatan. Hanya yang terkuat, yang memiliki darah paling murni, yang akan bergabung dengan kita. Jerman yang lama telah rusak, tetapi Germania baru akan bertahan selamanya.”

Weimar, Jerman I Foto pernikahan Elisabeth Nietzsche dan Bernhard Förster di tahun 1885.
Foto pernikahan Elisabeth Nietzsche & Bernhard Förster di tahun 1885.Foto: Klassik Stiftung Weimar

Berusaha menarik 140 keluarga bermigrasi

Untuk koloni independen pertama yang datang ke negara itu, pemerintah Paraguay menyediakan 20.000 hektar lahan sekitar 150 kilometer di utara ibu kota, Asuncion.

Hanya orang Jerman yang diizinkan menetap di "Nueva Germania.” Setelah Perang Aliansi Tiga Negara (1864–1870) antara Paraguay dan tiga negara yakni Brasil, Uruguay, dan Argentina, Paraguay tidak hanya kehilangan 50% wilayahnya tetapi juga sekitar 70% penduduknya. Itulah mengapa para pemukim yang bersemangat untuk berinvestasi di negara tersebut disambut dengan tangan terbuka.

Dalam perjanjian dengan pemerintah Paraguay, keluarga Förster berkomitmen untuk menempatkan setidaknya 140 keluarga dalam kurung waktu dua tahun. Sebelum berangkat ke Paraguay pada tahun 1886, Elisabeth Förster-Nietzsche dan Bernhard Förster memasang iklan di surat kabar dan mengadakan ceramah umum untuk menarik pemukim, terutama para pengrajin dan petani, dan untuk mengumpulkan dana.

Foto pres Klassik Stiftung Weimar  | Nueva Germania, Paraguay
Föster tidak berhasil memenuhi perjanjian dengan Pemerintah Paraguay.Foto: Klassik Stiftung Weimar

Minimnya minat akan Germania Baru

Namun "tempat perlindungan bagaikan surga” yang begitu digembar-gemborkan itu justru hanya menarik sedikit minat. Förster hanya berhasil membujuk 14 keluarga untuk bergabung dengannya. Tidak diketahui apakah para pemukim yang mengikuti Förster ke Nueva Germania memiliki ideologi rasis yang sama dengannya, meskipun ia memang memberi ceramah kepada mereka mengenai topik-topik seperti Pemurnian dan Kelahiran Kembali Umat Manusia serta Keselamatan Peradaban selama perjalanan mereka dari Jerman.

"Kami tahu lahan mana yang mereka terima dan di mana mereka tinggal,” kata Mehler, namun sedikit yang diketahui tentang motif para imigran ini. "Mereka sebagian besar adalah orang-orang yang memiliki sedikit atau bahkan tidak punya uang sama sekali. Mereka tentu saja tidak puas di Kekaisaran Jerman, kelompok yang dicampakkan oleh industrialisasi.”

Mungkin juga anak-anak bungsu yang tidak mendapat warisan, kata Mehler. "Jadi, mereka hanya menaruh kepercayaan pada janji-janji Bernhard Förster, memcahkan celengan mereka, jika boleh dikatakan begitu, untuk membeli tiket kapal laut dan memperoleh sebidang tanah, sebelum berangkat ke Paraguay bersama keluarga mereka.”

Arkeolog Natascha Mehler
Arkeolog Natascha Mehler dari Universitas Tübingen meneliti pemukiman utopis di Paraguay.Foto: Natascha Mehler

'Surga' yang terancam

Para pemukim segera kecewa. Mereka menyadari bahwa janji-janji Förster akan tanah yang sangat subur dan iklim yang menguntungkan tidak sesuai dengan kenyataan.

"Cuaca benar-benar sangat panas dan lembap selama musim hujan, tanahnya berawa dan basah karena dekat sungai,” kata Mehler, yang melakukan dua ekspedisi lapangan menelusuri jejak koloni tersebut. "Selama musim kemarau, tanah menjadi sangat berpasir dan kering. Hal ini membuat bertani jadi sulit. Tanaman sulit dipanen dari tanah, pekerjaan yang melelahkan.”

Hasil panen di Nueva Germania sangat sedikit. Hama dan penyakit tropis semakin memperberat kehidupan para pemukim. Meski keluarga-keluarga yang lebih kaya bisa berpindah tempat, sebagian besar dari mereka terpaksa tinggal dan terus berjuang untuk bertahan hidup. Seorang pemukim yang putus asa menulis surat kapada kerabatnya, "Tanah air tercinta tempat orang-orang yang kucintai, betapa aku merindukanmu. Seandainya aku tetap tinggal di Jerman, aku pasti terhindar dari penderitaan yang begitu besar ini. Semangat dan kesehatan saya semakin memudar, pikiran dan tubuh semakin lelah, dan kami yang tinggal di daerah baru ini kemungkinan besar akan menemui ajal lebih awal."

Kemewahan di ‘Försterhof'

Sementara itu, seperti yang dikeluhkan oleh seorang pemukim yang kecewa, Bernhard Förster dan Elisabeth Förster-Nietzsche gemar menampilkan diri sebagai pasangan penguasa dan kurang memperhatikan sesama pemukim. Pasangan itu tinggal di pusat Nueva Germania, sedang pemukim-pemukim lainnya tinggal dengan jarak terpisah 5 kilometer satu sama lain. "Mungkin Förster berpikir bahwa orang-orang yang terisolasi cenderung tidak berkumpul dan mengkritik apa yang sedang terjadi, atau melakukan pemberontakan,” kata Mehler.

Foto pres Klassik Stiftung Weimar  | Nueva Germania, Paraguay
Keluarga Förster hidup dengan mewah di rumah terindah di koloni tersebut yaitu ‘Försterhof’ yang berlokasi pusat kota yang dinamai sesuai dengan nama keluarga mereka ‘Försterroda’.Foto: Klassik Stiftung Weimar

Sebuah utopia yang gagal

Koloni tersebut tidak mampu mempertahankan "kemurnian ras” yang lama diidamkan. Mehler berpendapat bahwa tanpa bantuan suku Guaraní asli di wilayah tersebut, generasi pertama pemukim di Nueva Germania tidak akan bertahan hidup.

Pemukiman utopis itu pada akhirnya ditakdirkan untuk gagal. "Mereka tidak pernah berhasil membangun fondasi keuangan yang stabil. Semua surat Förster ke Jerman, di mana ia memohon dukungan, tidak membuahkan hasil. Lagipula, itu bukanlah koloni yang diberikan atas kemurahan hati kaisar saat itu, melainkan usaha swasta. Dan jelas bahwa Förster juga bukanlah seorang ahli keuangan.”

Friedrich Nietzsche menolak memberikan dukungan finansial kepada saudara perempuannya dan menentang pandangan antisemitisme yang dianut oleh iparnya. Untuk meyakinkannya, saudara perempuannya berjanji akan menamai sebuah kawasan di koloni itu dengan namanya, "Friedrichshain.” Namun, Nietzsche mencibir gagasan tersebut dan mengusulkan agar kawasan itu dinamai "Lamaland,” karena "Lama” adalah nama panggilan saudara perempuannya.

Dua tahun setelah koloni didirikan, hanya 40 keluarga yang menetap di Nueva Germania, jauh lebih sedikit dari 140 keluarga yang dijanjikan dalam perjanjian dengan pemerintah Paraguay.

Bernhard Förster terlilit utang dan putus asa. Ia meninggal dunia pada 3 Juni 1889. Ia diduga bunuh diri, tetapi hal ini tidak pernah terbukti. Elisabeth meminta surat kabar Jerman memberitakan bahwa suaminya meninggal akibat bekerja keras demi koloni tersebut. Ia pun berusaha mempertahankan koloni tersebut selama beberapa tahun, namun akhirnya kembali ke Jerman.

Nueva Germania, Paraguay 2014 | Bekas koloni Jerman Nueva Germania yang diinisiasi Bernhard Förster.
Nueva Germania kadang-kadang menarik wisatawan penggemar Nazi yang kerap mencari barang-barang antik. Beberapa barang telah dicuri dari museum kecil di kota tersebut.Foto: Jerzy Dabrowski/picture alliance

Nasib Nueva Germania kini

Nueva Germania masih ada hingga kini, dengan deretan rumah yang mengapit jalan tanah lebar yang mengarah ke sungai, di mana air keruh mengalir lambat di pinggiran desa. Sekitar 2.000 orang tinggal di desa ini, banyak di antaranya berbahasa Jerman. Ketika ditanya tentang pendirian kota ini, para penduduk tampak terkejut. Mereka tidak senang media menyoroti masa lalu yang kelam.

"Kadang-kadang saya merasa mereka berpikir: ‘Kami memiliki masalah yang sama sekali berbeda di sini. Saya harus memastikan traktor dan peternakan ayam saya tidak bermasalah serta jalan tidak banjir saat musim hujan berikutnya. Dan ya, mungkin leluhur saya seorang nasionalis, tetapi bagi kami saat ini, semua itu tidak lagi relevan,'” kata Mehler.

Melalui penelitiannya, Mehler menemukan kesamaan yang mencolok dengan masa kini. "Selama pandemi COVID-19, banyak kelompok anti vaksin Jerman yang memilih Paraguay sebagai tujuan mereka. Kami bahkan menemukan sumber tertulis dari Bernhard Förster, yang dengan keras menentang penerapan vaksinasi wajib cacar di Kekaisaran Jerman. Ia menulis, ‘Ikutlah dengan saya ke Paraguay. Di sana tidak ada vaksinasi wajib, jadi Anda bisa melakukan apa pun yang Anda mau',” jelasnya.

Mehler duduk berdampingan dengan kelompok anti vaksin dalam penerbangan ke Asuncion. Di bandara, ia melihat poster promosi untuk "El Paradiso Verde” atau "Surga Hijau,” sebuah koloni berbahasa Jerman bagi para penolak vaksin dan pengikut teori konspirasi.

"Saya sangat terkejut melihat betapa dramatisnya sejarah telah berulang hanya dalam waktu 140 tahun,” kata Mehler.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait