1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Xi Jinping
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Xi Jinping bertemu di Beijing, Februari 2022Foto: Alexei Druzhinin/Russian Presidential Press and Information Office/TASS/dpa/picture alliance
KonflikCina

Cina Didesak Cabut Dukungan terhadap Rusia

16 Maret 2022

Cina diancam bakal menghadapi sanksi berat jika nekat mendukung Rusia. Beijing bersikukuh bersikap netral. Namun, AS mencurigai Cina bersiap memetik keuntungan dari kegentingan ekonomi di Rusia.

https://www.dw.com/id/cina-didesak-cabut-dukungan-terhadap-rusia/a-61135559

Terisolasi di tengah derasnya arus kapital ke luar negeri dan nilai mata uang yang terjun bebas, Rusia, di pekan ketiga invasi Ukraina, mulai berharap pada bantuan dari sekutu terbesarnya di barat daya: Cina. Baru-baru ini Moskow dikabarkan meminta bantuan Beijing untuk selamat dari gelombang sanksi yang mengucilkan Rusia dari sistem keuangan global. 

Untuk itu, Presiden Vladimir Putin menawarkan diskon besar-besaran terhadap harga minyak untuk jirannya itu, termasuk juga bagi India. Tawaran tersebut diyakini merupakan upaya Moskow menjaring konsumen baru seiring matangnya rencana Eropa menjauhi energi Rusia.

Analis meyakini Presiden Cina Xi Jinping sedang mencari cara memitigasi dampak invasi Rusia terhadap Ukraina, untuk memastikan keuntungan maksimal bagi Cina, tanpa banyak kerugian.

"Cina mendahulukan kepentingan sendiri, titik,” kata Alexander Gabuev, peneliti senior di Carnegie Center, Moskow. "Rusia yang lemah adalah Rusia, di mana Anda bisa lebih mudah menanam pengaruh, karena Anda memiliki daya tawar yang lebih kuat,” imbuhnya.

Poros Moskow-Beijing

Melemahnya posisi Rusia diyakini ikut mencuatkan Cina sebagai aktor kunci. Beijing diyakini bersedia membantu memulihkan perekonomian Rusia dari dampak isolasi.  

Senin (14/03), seorang pejabat Kemenlu AS mengatakan pihaknya "punya kekhawatiran besar terkait pendekatan Cina dengan Rusia,” setelah pertemuan antara pejabat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, dan Yang Jiechi yang menukangi urusan luar negeri di Partai Komunis Cina, di Roma, Italia.

Sebab itu pula AS dan Uni Eropa giat mendesak Beijing untuk menggunakan "pengaruh besarnya” terhadap Rusia untuk mengakhiri perang. Namun, imbauan itu ditanggapi sebagai angin lalu.

"Kenapa Cina mau mempertimbangkan untuk tidak mendukung Rusia atau lebih parah, merusak aliansinya dengan Rusia?” tanya Alexander Korolev, Guru Besar Politik dan Hubungan Internasional di University of New South Wales di Sydney, Australia.

"Saya kira Cina tidak akan mengubah posisinya dan ini akan mengindikasikan perpecahan yang lebih dalam di dalam gepolitik global,” imbuhnya.

Namun begitu, bukan berarti Beijing akan mempertaruhkan kepentingan demi Rusia. Betapapun juga, hubungan kedua negara masih sering diwarnai rasa saling curiga. "Sikap Cina lebih cendrung anti-Amerika ketimbang pro-Rusia,” kata Alexander Gabuev dari Carnegie Center Moskow. 

Sebab itu pula perkembangan invasi di Ukraina bisa menguji persahabatan kedua negara. "Semakin brutal konflik di Ukraina, semakin sulit situasinya buat Cina,” kata Ni Lexiong, Guru Besar di Shangai Institute of National Defence Strategy.

rzn/ha (AP, AFP)