Chavez Menangkan Pemilu Presiden Venezuela | Fokus | DW | 04.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Chavez Menangkan Pemilu Presiden Venezuela

Hasil pemilu itu merupakan kemenangan terbesar dalam sejarah kesuksesan Presiden Chavez. Bahkan pendukungnya pun tidak mengira dapat mengantongi hasil pemilu seperti itu.

Chavez dalam perjalanan menuju TPS

Chavez dalam perjalanan menuju TPS

"Ini adalah kemenangan dari cinta, sesuatu yang baru, serta kecantikan dan kebaikan. Ini kemenangan masa depan. Saya ingat kepada Yesus Kristus dan mengucapkan: "Bapa kami, Engkau yang di surga maupun di bumi, datanglah kerajaanMu“. Dan kerajaannya itu adalah kerajaan cinta, kedamaian, keadilan, solidaritas dan persaudaraan – yakni kerajaan sosialisme. Ini adalah kerajaan masa depan Venezuela.“ Demikian dikatakan Chavez dalam pidatonya sesaat setelah hasil resmi pertama penghitungan suara yang dimenangkannya.

Chavez seolah-olah hendak merangkul seluruh dunia. Chavez dalam emosi tinggi. Meskipun hujan lebat, puluhan ribu pendukungnya bersuka ria di Caracas begitu hasil resmi pertama penghitungan suara, keluar. Ketika Chavez menyanyikan lagu kebangsaan dari balkon istana kepresiden, sebuah kembang api dinyalakan. Hasil pemilu itu merupakan kemenangan terbesar dalam sejarah kesuksesan Presiden Chavez. Bahkan pendukungnya pun tidak mengira dapat mengantongi hasil pemilu seperti itu.

Chavez mengatakan: "Saya bersujud dihadapan rakyat Venezuela dan menyerahkan kehidupan, cinta, kekaguman dan kesederhanaanku. Dunia bangkit berdiri dan memberikan hormat kepada rakyat Venezuela. Kemenangan yang kita raih ini adalah unik dalam sejarah kita.“

Warna merah membanjiri Venezuela. Pakaian presiden berwarna merah. Dia mengendarai mobil VW kodok merah ketika memberikan suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) setempat. Moto yang berbunyi "Sosialisme Abad ke-21“ yang hendak digalakkannya enam tahun ke depan, juga merah.

Sementara warna biru yang merupakan warna pihak oposisi, menunjukkan kesedihan. Para pendukung kandidat oposisi, Manuel Rosales, tidak mau menerima hasil resmi pemilu, terutama tidak untuk perbedaan besar sebanyak 22 persen.

Semenatara Rosales sendiri bereaksi dengan menyatakan: "Perbedaannya jauh lebih sedikit. Tetapi kami mengakui bahwa mereka mengalahkan kami. Namun kami akan terus berjuang, tetap turun ke jalan. Pantang menyerah dan jangan bersembunyi. Hasil penghitungan kami tidak sama dengan hasil dari dewan pemilu. Perbedaannya jauh lebih kecil. Oleh karena itu saya dan rakyat Venezuela akan memperjuangkan demokrasi dan kebebasan di jalan-jalan.“

Rosales menuduh pemerintah melakukan kecurangan dalam pemilu dan menyulut api di negara yang terpolarisasi itu dan juga memprovokasi pertikaian dengan kekerasan. Oposisi melawan Chavez terdesak. Kekalahan besar itu tidak memungkinkan peluang dalam waktu dekat ini. Di parlemen oposisi tidak diwakili akibat kesalahan sendiri karena memboikot pemilu tahun lalu.

Yang menyatukan pendukung kubu oposisi hanyalah kebencian terhadap Chavez dan masa depan suram yang mereka perkirakan akan menimpa Venezuela. Mantan gerliyawan dan bekas kandidat presiden Teodoro Petkoff mengkhawatirkan bahwa ekonomi Venezuela akan menjadi ekonomi pelabuhan impor. Dia juga khawatir berkembangnya otoritarisme dan militerisme. Dia menuduh Chavez memiliki kecenderungan untuk mengontrol rakyat secara totaliter.

Namun Chavez tampaknya mendapat dukungan kuat dari kebanyakan rakyat miskin di Venezuela yang merupakan mayoritas penduduk. Bantuan yang dijanjikannya, tertuang dalam 21 program sosial. Dan pemasukan dari minyak bumi yang harganya sedang tinggi, dapat mendanai programnya.