1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PanoramaAsia

Cek Fakta: Membongkar Mitos Vaksin HPV di Pakistan

29 September 2025

Program vaksinasi HPV pertama di Pakistan menghadapi gelombang informasi yang menyesatkan. DW melakukan pemeriksaan fakta untuk mengurai klaim palsu dan mengungkap tingkat ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin.

https://p.dw.com/p/51Cwr
Sebuah vaksin dengan botol bening disuntikkan ke tubuh seseorang
Peluncuran program vaksin HPV nasional di Pakistan pada September 2025 banyak dibayangi gelombang misinformasiFoto: ROBIN UTRECHT/picture alliance

Ketika Pakistan meluncurkan program vaksinasi HPV pertamanya pada September 2025, badan kesehatan pemerintah menyebut langkah ini sebagai tonggak penting dalam upaya negara memerangi kanker serviks. Program ini menargetkan anak perempuan berusia 9 hingga 14 tahun, sejalan dengan target global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengeliminasi kanker serviks pada 2030.

Namun, seperti yang sering terjadi dalam peluncuran vaksin di banyak negara, kampanye ini dibayangi gelombang misinformasi. Teori konspirasi, retorika politik, hingga unggahan viral di media sosial memicu keraguan soal keamanan vaksin, membuat sebagian masyarakat ragu untuk berpartisipasi.

Tim Cek Fakta DW membongkar sejumlah klaim yang paling banyak beredar serta menelusuri akar ketidakpercayaan ini.

Video AI menyebarkan rumor soal keamanan vaksin

Klaim: Vaksin HPV berbahaya dan belum teruji.

Sebuah video yang banyak dibagikan di TikTok menampilkan seorang pria yang berkata, "Masalahnya adalah, vaksin HPV dapat menyebabkan reaksi negatif yang serius."

Cuplikan itu kemudian berpindah ke sosok pembawa berita hasil rekayasa AI yang menyatakan, "Seorang dokter Amerika mengungkap kekhawatiran tentang pemberian vaksin HPV kepada anak perempuan," sambil mengklaim secara keliru bahwa vaksin ini "tidak pernah mencegah satu pun kasus kanker serviks."

Cek Fakta DW: Salah

Video tersebut berasal dari akun Instagram yang tidak terverifikasi, yang secara rutin menyebarkan video hasil AI dengan klaim tak berdasar dan tanpa sumber yang jelas. Identitas “dokter” yang disebut dalam video juga tidak dapat diverifikasi.

Fakta ilmiah justru membantah klaim ini. Riset mendalam dari European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) dan Komisi Vaksin Jerman (STIKO) menunjukkan tidak ada efek samping berat yang terkait dengan vaksin HPV.

Sebuah studi pada 2024 yang melibatkan hampir 3,5 juta orang membuktikan bahwa vaksin ini secara signifikan mengurangi infeksi HPV dan lesi prakanker yang dapat berkembang menjadi kanker serviks.

"Tidak ada hubungan, berdasarkan bukti ilmiah, antara vaksin HPV dengan infertilitas atau penurunan kemampuan untuk memiliki anak," kata Dr. Mohammad Ahmad Abdullah dari Health Services Academy di Islamabad, Pakistan, kepada DW.

Meski terdapat konsensus ilmiah yang luas mengenai keamanan dan efektivitas vaksin HPV, sejumlah tenaga medis tetap menyuarakan kekhawatiran, mulai dari efek samping, efektivitas jangka panjang, biaya, hingga alasan imunisasi massal.

Kekhawatiran ini sering kali diperbesar oleh misinformasi, termasuk ketakutan akan penyakit autoimun, infertilitas, hingga anggapan bahwa vaksin mendorong perilaku seksual dini.

Namun, lembaga pengawas obat seperti European Medicines Agency menegaskan tidak ditemukan bukti yang mengaitkan vaksin HPV dengan gangguan neurologis serius.

Seorang perempuan mendaptkan suntikan vaksin Sputnik V di Pakistan
Kampanye vaksin COVID-19 juga menghadapi banyak penolakan di PakistanFoto: Akhtar Soomro/REUTERS

Politikus lokal menyebarkan mitos soal kemandulan

Klaim: Vaksin HPV menyebabkan kemandulan.

Rashid Mehmood Soomro, politikus dari partai ultra-konservatif Jamiat Ulema-e-Islam (Fazl) di Provinsi Sindh, menyatakan bahwa vaksin HPV dapat menyebabkan kemandulan. Dalam sebuah acara publik awal bulan ini, ia menuding program vaksinasi tersebut mencurigakan dan berbahaya.

Cek Fakta DW: Tidak terbukti

Bukti ilmiah tidak mendukung klaim ini. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menemukan tidak ada kaitan antara vaksinasi HPV dengan kemandulan pada perempuan berusia 18 hingga 33 tahun. WHO melalui Global Advisory Committee on Vaccine Safety juga menyimpulkan tidak ada bukti yang menghubungkan vaksin ini dengan ovarian insufficiency atau gangguan fungsi ovarium.

Video viral siswi pingsan tidak berkaitan dengan vaksin

Klaim: Video viral memperlihatkan anak perempuan pingsan setelah menerima vaksin HPV.

Sebuah video yang ditonton lebih dari 330.000 kali di Xmenunjukkan sekelompok siswi sekolah yang tampak kolaps setelah vaksinasi. Video ini juga tersebar di Instagram dan Facebook, menjangkau ribuan pengguna.

Cek Fakta DW: Salah

Video tersebut tidak ada kaitannya dengan kampanye vaksin HPV. Melalui pencarian gambar balik (reverse image search), DW menemukan bahwa video itu pertama kali muncul pada Mei 2024.

Laporan media lokal di Pakistan dan India menyebut insiden tersebut terjadi ketika polisi bentrok dengan demonstran yang memprotes pajak listrik. Gas air mata yang digunakan polisi masuk ke area sekolah terdekat dan menyebabkan gangguan pernapasan pada para siswi.

Pakistan, Lahore | Sejumlah anak mengantre untuk vaksinasi di sekolah
Seorang petugas kesehatan memberikan vaksin polio tetes kepada siswa di PakistanFoto: Arif Ali/AFP/Getty Images

Sejarah panjang ketidakpercayaan terhadap vaksin

Ketidakpercayaan terhadap vaksin bukanlah hal baru di Pakistan. Hoaks tentang vaksin polio pada 2019 bahkan memicu serangan terhadap petugas kesehatan, membuat capaian puluhan tahun dalam pemberantasan penyakit tersebut jadi sia-sia.

Pada 2011, kepercayaan publik semakin terkikis setelah terungkap operasi rahasia CIA yang menyamar sebagai program vaksinasi hepatitis B di Abbottabad. Operasi ini dilakukan untuk mengumpulkan DNA dalam perburuan Osama bin Laden, meninggalkan trauma dan rasa curiga mendalam terhadap program vaksinasi pemerintah.

Kini, bayang-bayang ketidakpercayaan itu kembali mengancam program vaksin HPV. Badan kesehatan pemerintah khawatir misinformasi akan menggagalkan upaya melindungi jutaan anak perempuan dari virus penyebab kanker serviks, salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada perempuan di Pakistan.

Setiap tahun, sekitar 5.000 perempuan di Pakistan didiagnosis kanker serviks, dan hampir 60% di antaranya meninggal dunia. Data ini selaras dengan temuan nasional mengenai penyebaran HPV.

Pakistan bukanlah satu-satunya negara yang tidak percaya pada vaksin. Beberapa studi menyebut Eropa sebagai wilayah dengan tingkat kepercayaan terendah terhadap keamanan vaksin. Di Jerman, Robert Koch Institute (RKI) mencatat tingkat vaksinasi HPV yang masih rendah, sehingga pemerintah meluncurkan inisiatif seperti program "InveSt HPV" untuk meningkatkan cakupan vaksinasi.

Pemerintah Pakistan tetap mendorong berjalannya program

Meski menghadapi tantangan, pemerintah Pakistan tetap melanjutkan program vaksinasi HPV.

Dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pada 20 September 2025, Menteri Kesehatan Federal Syed Mustafa Kamal secara terbuka memvaksinasi putrinya sendiri sebagai bukti bahwa vaksin tersebut aman.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengkritik dan membantah gelombang misinformasi yang menyelimuti kampanye vaksinasi ini.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani

Editor: Hani Anggraini

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait