1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Berpisah dengan Cita-cita pada Waktunya

Indonesien Geger Riyanto Autor, Essayist und Aktivist
Geger Riyanto
26 Juni 2021

Saya tak menemukan cita-cita dan gairah sampai saya kuliah. Selepas saya memulai studi di jurusan sosiologi, saya memutuskan cita-cita saya ialah menjadi akademisi berpengaruh. Demikian kisah Geger Riyanto.

https://p.dw.com/p/3vW9N
Balon Doraemon
Gambar ilustrasi DoraemonFoto: Reuters/W. Kurniawan

Panel komik tersebut terasa biasa saja ketika pertama kali saya membacanya. Saya masih SD ketika itu—naif, tak tahu apa-apa, dan hanya mengharapkan hiburan. Kini, panel tersebut viral dan nampaknya menyentuh setiap warganet yang membacanya, termasuk saya.

Yang saya bicarakan adalah panel ini. Ayah Nobita, pada salah satu cerita komik Doraemon, mengulas bagaimana ia meninggalkan cita-citanya menjadi pelukis. Dalam cerita lengkapnya, Ayah Nobita menolak untuk menikahi anak sosok berpengaruh dunia seni lukis dan kehilangan jalan menjadi pelukis. Ia akhirnya menikah, berkeluarga, dan menjadi pegawai kantoran biasa.

Saya tak merasakan apa-apa ketika dulu membaca ayah Nobita bilang, "dua puluh tahun yang lalu, aku berpisah dengan cita-citaku.” Saya hanya membaca Doraemon untuk petualangan jenaka dan seru Nobita dan Doraemon, seperti banyak anak lainnya. Adegan tersebut tak lebih dari pembuka untuk petualangan para tokoh utama.

Dua dekade kemudian, para pengguna Twitter mengeruk panel yang mereka baca ketika kanak-kanak ini. Panel tersebut viral. Doraemon ialah komik menghibur dari masa kanak-kanak mereka, dan sekonyong-konyong saja mereka mendapati salah satu tokohnya memberi wejangan tentang realitas keras yang mereka hadapi saat ini.

Saya yakin, banyak orang terhibur sekaligus miris ketika membacanya. Ia dibagikan terus-menerus karena semua orang tahu bagaimana mimpinya takluk di hadapan kenyataan hidup. Ia dirayakan karena ia menggambarkan kondisi mereka dengan terlalu tepat.

Seperti yang ditulis Nia Lavinia di Mojok merayakan kata-kata Ayah Nobita, "angkat gelasmu, hari ini, mari sama-sama kita kenang bayangan diri kita di masa lalu sebelum kita mengenal kejamnya realita.”

Lantas, mengapa saya sendiri merasa miris membacanya?

Saya tak menemukan cita-cita dan gairah sampai dengan saya kuliah. Selepas saya memulai studi di jurusan sosiologi, saya memutuskan cita-cita saya ialah menjadi akademisi berpengaruh. Saya menemukan gairah saya dan menjadi yang terbaik di bidang akademik nampak seperti hal yang luar biasa. Saya membayangkan, kelak saya akan memiliki pengaruh setara dengan mereka yang buku-bukunya saya baca ketika berkuliah. Lewat sumbangan keilmuan, saya akan memberi terobosan untuk bidang saya dan kehidupan.

Geger Riyanto, sang penulis.
Penulis: Geger RiyantoFoto: Privat

Setelah lulus, saya tak kunjung mengambil pekerjaan tetap karena percaya dengan mimpi ini. Saya membayangkan saya harus mendapatkan gelar doktoral saya dari perguruan tinggi yang diakui dan harus tetap berada di jalur akademik agar itu dapat terjadi. Tentu saja, di perguruan tinggi saya tak menjadi pengajar tetap. Saya kebagian pekerjaan-pekerjaan akademik remeh (meskipun penting), hidup dengan penghasilan tak menentu, dan tanpa jaminan sosial maupun karier apa pun.

Apa yang membangunkan saya dari mimpi saya itu adalah waktu. Umur saya kian berkurang sementara saya tak merasa berjalan maju menuju mimpi saya. Saya terjerat dalam pekerjaan-pekerjaan "remeh” yang seiring waktu kian menggunung.

Pada akhirnya, lewat kebetulan yang tak mungkin terulang, saya mendapatkan kesempatan melanjutkan kuliah. Namun, dengan usia yang telah terpangkas begitu banyak dan kesadaran saya belum memiliki pekerjaan tetap, saya menerima bila saya harus langsung bekerja sebagai apa pun selepas lulus kuliah—memensiunkan mimpi saya menjadi akademisi berpengaruh.

Saya masih merasa beruntung setidaknya saya mencapai sepenggal dari mimpi saya

Anak panah saya meleset dari jantung sasaran, namun setidaknya masih mengenai sasaran panah yang sama. Saya percaya, banyak yang bermimpi sama dengan saya dan langkahnya terhenti sama sekali sebagai pekerja terlupakan di ranah akademik.

Dan lebih banyak lagi tentunya mereka yang bercita-cita menjadi perintis teknologi seperti anak-anak emas Silicon Valley namun berakhir sebagai pegawai toko daring. Pun, mereka yang ingin sesukses para taipan, tak pernah memiliki koneksi mereka, dan tak pernah berkembang secara berarti setelah memulai usaha mandiri kecilnya.

Tagihan datang dengan pasti setiap hari, bulan, dan tahun. Kebutuhan keluarga setelah seseorang melabuhkan diri dalam pernikahan mengharuskannya memiliki pendapatan, betapapun melencengnya itu dari mimpi pertamanya. Dan kesempatan sukses ialah celah yang sesempit itu. Bejibun mengejarnya pada satu waktu. Hanya segelintir di antara mereka yang memiliki "orang dalam,” kenalan, modal awal yang lebih baik.

Pengalaman semacam ialah cerita tragis banyak orang. Adalah hal yang wajar diingatkan dengan betapa mengecohnya mimpi-mimpi masa muda kita oleh penelitian sosiologis—bahwa kunci sukses terletak latar belakang sosial lebih dari ikhtiar. Namun, diingatkan dengan tragedi ini oleh komik populer masa lalu yang seharusnya jenaka? Bayangkan betapa banyak orang yang terhibur sekaligus tertohok olehnya.

Tak banyak yang dapat kita lakukan terhadap situasi ini. Tapi seperti kata Nia, kita, sesama orang-orang yang menyerah dengan mimpinya, dapat bersama-sama mengangkat gelas, mengakui situasi ini dan menyadari kita tak sendirian. Kita bukan saja tak sendirian—faktanya, kita adalah kelompok mayoritas dalam dunia yang tidak adil ini.

Kepada sesama saya orang yang berpisah dengan cita-citanya, mari kita berjabat tangan erat.

@gegerriy 
Esais dan peneliti yang tengah menyelesaikan Ph.D. di Institut Etnologi, Universitas Heidelberg. 


*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis. 
*Silakan bagi komentar Anda atas opini di atas pada kolom di bawah ini

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait