1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Bela Palestina bukan Bela Identitas

25 Desember 2017

Bukan sebuah kebetulan,aksi-aksi yang berlangsung belakangan senantiasa memakai tajuk “bela.” Kerangka pikir yang dipakai adalah kerangka pertempuran. Simak ulasan Geger Riyanto.

https://p.dw.com/p/2ppmF
Protest in Bilin
Foto: picture alliance/dpa

Sosiolog cum teolog, Peter L. Berger mengatakan, manusia tidak hidup dari roti saja. Lebih-lebih dalam situasi sang insan merasa terdesak dan membutuhkan harapan. Saya selalu meyakini kebenaran dari kata-kata ini. Bak mantra, saya diam-diam merapalnya berulang-ulang dalam pengamatan-pengamatan saya.

Kecuali Anda seorang pertapa, Anda pasti menyaksikan rangkaian unjuk rasa bela Islam yang berlangsung dua tahun silam. Anda tahu betapa bersejarahnya aksi-aksi tersebut. Tak pernah sebelumnya unjuk rasa di Indonesia dapat menggerakkan massa hingga melampaui angka satu juta manusia. Monas, yang Anda tahu ukuran sesungguhnya, tampak begitu kecil dalam kepungan lautan manusia. Jalan-jalan protokol ditumpahi demonstran. Semua terasa surrealistis.

Dan kecuali Anda tak punya media sosial, Anda pasti juga menyaksikan rangkaian reaksi terhadapnya yang tak kalah meriah. Tak sedikit dari antara reaksi yang ada mencibirnya sebagai gerakan yang pragmatis.

Narasi jahat menggoyang petahana

Tapi, ia terjadi tak lain berkat pendanaan persekongkolan yang ingin menggoyang rezim petahana. Kasak-kusuk bahwa ada pembagian uang setelah unjuk rasa menyebar dengan cepat di media sosial. Foto yang seolah mengonfirmasi hal tersebut langsung ada di mana-mana tanpa diiringi oleh konfirmasi yang jelas terhadapnya.

Geger Riyanto merupakan essais dan peneliti sosiologi. Mengajar Filsafat Sosial dan Konstruktivisme di UI. Bergiat di Koperasi Riset Purusha.
Penulis: Geger Riyanto Foto: Privat

Kasak-kusuk lainnya adalah mereka yang berunjuk rasa bahkan tidak tahu apa-apa terkait unjuk rasa tersebut. Mereka adalah anak-anak sekolah yang sekadar ikut-ikutan dan ingin tampil mentereng, orang-orang yang mendengar Ahok menistakan agama tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, serta warga dari luar Jakarta yang tak pernah bersentuhan langsung dengan kebijakan sang gubernur.

Narasi yang berkembang di antara mereka yang berseberangan dengan tujuan yang ingin diraih gerakan ini—pada saat itu, mendongkel gubernur petahana—berulang-alik di antara dua pandangan di atas. Para penganutnya ingin percaya bahwa betapapun besar massa yang dikerahkannya, berbagai unjuk rasa tersebut berangkat dari ketidaktulusan atau kenaifan. Gerakan tersebut tidak autentik. Penggeraknya berbekal niat jahat dan pengikutnya tak berbekal pengetahuan apa-apa.

Bagaimana unjuk rasa bertajuk "bela" Palestina?

Bagaimana menjelaskan seratus ribu pengunjuk rasa berkerumun dan menyuarakan dukungannya kepada sekelompok orang yang hidup lebih dari setengah abad di bawah penindasan, pengawasan, persekusi sebuah rezim yang ada berkat restu dari kekuatan-kekuatan super global?

 Ada mungkin pikiran konspiratif bahwa ada pihak-pihak yang mendukungnya untuk menjaga momentum politik identitas hingga pemilu 2019. Namun, ini adalah kesimpulan yang sangat tergopoh-gopoh. Berbagai bukti menunjukkan bahwa gerakan unjuk rasa bermotif identitas bukanlah sebuah sulap. Ia tidak tercetus sesederhana ada kepentingan politik, ada penggerak massa yang dapat dibeli, dan ada massa yang tidak tahu apa-apa.

 Aksi-aksi yang ampuh menggalang massa senantiasa diiringi imajinasi diri merasa terancam keberadaannya oleh pihak lain. Eksistensi mereka tengah dipertaruhkan dalam sebuah peperangan dengan antagonis yang menguasai semua lini kehidupan dan tujuan hakikinya tak lain dari ingin memunahkan mereka.

Bukan sebuah kebetulan, karenanya, aksi-aksi yang berlangsung belakangan senantiasa memakai tajuk "bela.” Kerangka pikir yang dipakai adalah kerangka pertempuran. Kenyataan yang dilihat orang-orang adalah mereka tengah mempertahankan dirinya dari gempuran para penjajah. Ia pun menemukan dalih penggeraknya hanya ketika ada peristiwa-peristiwa yang mengisyaratkan demikian, dari intimidasi terhadap ulama oleh ormas atau kepala daerah hingga peristiwa dunia yang melibatkan persekusi terhadap kelompok Muslim.

Dan kenyataannya, dari riset yang dilangsungkan Vedi Hadiz bersama Inaya Rakhmani kepada secuplik peserta aksi bela Islam, 60 persen dari peserta aksi berusia 20-an. Empat puluh empat persen merupakan bagian dari kelas menengah bawah. Data ini menunjukkan bahwa banyak dari partisipan aksi yang mengalami ketidakpastian ekonomi dalam kehidupannya. Hal yang dengan mudah ditafsirkan oleh mereka sebagai isyarat, bahwa mereka tengah dijajah oleh segelintir elite asing.

Baca juga:

PBB Lakukan Voting Menolak Keputusan Donald Trump Soal Status Yerusalem

Negara-Negara OKI Deklarasikan Yerusalem Timur Sebagai Ibukota Palestina

Pembenaran politik identitas

Kita tak bisa menyepelekan alasan yang menjadi pijakan bergerak dari aksi-aksi politik identitas. Terlebih ketika alasan yang serupa mendorong gerakan-gerakan yang menantang tatanan sosial-politik di mana-mana dan di segala zaman secara serius.

Jangan lupa, Israel sendiri langgeng karena imajinasi yang sama. Mereka eksis dan kokoh karena kepercayaan bahwa kaumnya adalah korban sejarah. Dan hal inilah yang meyakinkan mereka, apa yang diperbuat adalah benar. Kaum Yahudi harus memiliki tanah air, terlepas apakah manuver ini harus menyebabkan ratusan ribu warga Palestina terusir dari tanah airnya.

Dan, pada titik ini saya harus mengatakan, Palestina membutuhkan segala bentuk solidaritas yang mungkin didapatkannya. Gerakan-gerakan politik identitas sering kali memijakkan dirinya pada narasi imajiner tertentu. Tetapi, penindasan yang dialami orang-orang Palestina adalah senyata-nyatanya kenestapaan.

Penulis:

Geger Riyanto (ap/as)

Esais dan peneliti sosiologi. Mengajar Filsafat Sosial dan Konstruktivisme di UI. Bergiat di Koperasi Riset Purusha.

@gegerriy

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.