Bagaimana Rasanya Nikah Beda Agama? | Sosial&Budaya | DW | 13.06.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Islam-Kristen

Bagaimana Rasanya Nikah Beda Agama?

Banyak yang masih merasa asing terhadap pernikahan beda agama. Padahal jika ditanggapi dengan hati terbuka, perbedaan itu bisa menjadi kesempatan, kata pasangan muslim dan kristen asal Mesir, Alexandra dan Khaled.

Alexandra, anda dan suami anda sudah menikah tiga kali, kenapa?

Alexandra: Kami saling mengucap akad di Mesir. Ketika Khaled tiba di Jerman kami menikah resmi. Secara hukum, pernikahan kami sudah diakui lewat penghulu, tapi kami juga melakukan upacara pernikahan di Masjid agar mendapat restu Tuhan. Upacara itu sangat penting buat suami saya dan saya tidak punya masalah dengan hal tersebut. Yang penting buat saya adalah bahwa pernikahan kami juga diakui oleh gereja.

Apakah ada hal dalam pernikahan anda yang spesial?

Alexandra: Kami menandatangani kontrak nikah di notaris. Dan kontrak itu antara lain mengatur apa yang akan terjadi dengan anak-anak seandainya kami bercerai. Kami juga harus menyepakati "hadiah pagi" (kado yang diberikan calon suami kepada calon isteri pada pagi menjelang pernikahan). Saya hanya meminta cincin. Saya cukup mampu secara finansial.

Khaled: Di Masjid banyak perempuan yang berusaha membujuk Alexandra, tapi dia tetap bersikeras hanya meminta cincin.

Bagaimana pernikahan anda berbeda dengan pasangan lain? Apakah kalian harus banyak beradaptasi satu sama lain?

Alexandra: Awalnya sulit membedakan apa yang normal untuk sebuah pasangan muda yang tumbuh bersama dan apa yang dilarang oleh agama atau budaya. Pastinya saya berhenti meminum alkohol atas kesadaran sendiri dan ternyata tidak sulit. Kalau ada tamu yang datang, Khaled tidak ingin kami menyajikan anggur atau minuman alkohol lainnya. Awalnya saya tidak bisa menerima hal tersebut, tapi sejak itu ada beberapa hal yang menjadi jelas buat saya: seperti saya juga tidak mau melihat teman menghisap marijuana. Hal lain yang sulit dibiasakan adalah mempertontonkan kemesraan di ruang publik. Tapi di sisi lain semua penduduk Mesir makan dari mangkuk yang sama dan hal seperti ini tidak menggangu saya. Berkaitan dengan hubungan manusia, Khaled sangat hormat kepada orang lain, terutama perempuan dan orang tua. Saya sangat menyukai sifatnya itu.

Khaled: Saya harus belajar mencintai isteri saya sebagai seorang individu, terlepas dari kebangsaan dan agamanya. Datang ke Jerman merupakan risiko besar buat saya tapi saya mempercayainya sejak awal. Dia menghormati bahwa saya tidak mengkonsumsi daging babi atau alkohol. Tentu saja saya senang dia berhenti meminum alkohol.

Bagaimana keyakinan yang berbeda berperan dalam hubungan kalian?

Khaled: Sejak kecil saya sudah berhubungan dengan agama Kristen melalui tetangga dan teman baik. Sebab itu saya bisa menerimanya dengan mudah. Adalah hal yang baik bahwa Alexandra dan saya bisa menerima semua agama, terutama Islam. Dan hal-hal seperti pohon Natal atau telur Paskah adalah tradisi yang baik buat saya.

Alexandra: Saya tidak pernah ingin menikahi seorang atheist. Seorang muslim yang taat, tapi juga terbuka, lebih cocok buat saya. Kami bisa beribadah pada saat yang bersamaan. Seorang teman pernah berkata, "sekarang kamu bisa menikmati dua hari libur keagamaan!" Kami berusaha melibatkan teman pada acara keagamaan. Ada kalanya saya harus terlibat dan ikut berpuasa di bulan Ramadan atau setidaknya saya tidak makan di depan Khaled. Sorenya kami menikmati masak bersama-sama.

Apakah anak kalian akan memeluk agama Kristen atau Islam?

Alexandra: Kami belum punya anak saat ini. Tapi memang soal keyakinan menjadi masalah terbesar. Kami sepakat tidak akan memisahkan mereka. Kami memutuskan akan mengajarkan mereka tentang kedua agama tanpa memecah belah mereka. Kalau mereka sudah dewasa mereka bisa memutuskan sendiri. Dan mereka tidak seharusnya merasa harus memilih antara kami berdua.

Apa saran anda buat pasangan Muslim dan Kristen lain?

Khaled: Sebelum pernikahan, mereka harus terbuka satu sama lain. Dan yang paling penting mereka harus memilih pasangannya dengan baik. Sedari awal kita harus siap melihat perbedaan sebagai kesempatan.

Sumber: EKD/Qantara 2018

Laporan Pilihan