Mengapa Penampilan Fisik Perempuan Kerap Jadi Olok-Olok Kaum Pria? | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 22.02.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Mengapa Penampilan Fisik Perempuan Kerap Jadi Olok-Olok Kaum Pria?

Pesek, gembrot, tonggos, seringkah Anda dengar hinaan semacam itu? Kenapa penampilan fisik perempuan kerap jadi sasaran olok-olok, terutama jika sudah tak mampu saingi argumen atau otak? Simak kritik Uly Siregar.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkenal sering menyasar perempuan soal penampilan fisik mereka. Saat awal-awal masa kampanye presiden tahun 2016, ia mengejek kandidat presiden sesama partai Republik yang menjadi saingannya, Carly Fiorina. "Lihat deh tampang dia. Apakah ada yang mau memilih dia? Bisakah Anda bayangkan itu wajah presiden kita yang berikutnya?”

Kegemaran Trump mengejek perempuan secara fisik, tak hanya ditujukan kepada lawan-lawan politiknya.

Miss Universe 1996 asal Venezuela, Alicia Machado, dia hina sebagai perempuan gendut. Bahkan fotomodel cantik sekelas Heidi Klum pun tak luput dari sasaran. "Menyedihkan, dia (Heidi Klum) tak lagi bernilai 10.” Ketika tak ada lagi hal signifikan yang bisa dijatuhkan, laki-laki menyasar urusan fisik. Saat bertengkar dengan talk-show host, Rosie O'Donnell, Trump memanggil dia sebagai ‘my nice fat little Rosie', dan setelahnya masih berulang kali mengejek penampilan fisik Rosie.

Uly Siregar bekerja sebagai wartawan media cetak dan televisi sebelum pindah ke Arizona, Amerika Serikat. Sampai sekarang ia masih aktif menulis, dan tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia.

Penulis: Uly Siregar

Perempuan mungkin sudah kenyang menerima hinaan laki-laki soal penampilan fisik mereka. Bahkan pada saat yang paling menyedihkan, seperti dalam kasus pelecehan seksual, perempuan rentan diolok-olok soal penampilan fisiknya.

Saat reporter majalah People, Natasha Stoynoff, menceritakan kisah horor dia saat dilecehkan secara seksual oleh Donald Trump pada tahun 2005, Trump tak hanya mengelak tuduhan tersebut tapi justru berbalik menghina Natasha Stoynoff. Saat tuduhan itu beredar bersamaan dengan masa kampanye presiden tahun lalu, Trump di tengah massa dengan sinis mengejek, "Coba lihat... coba lihat dia, perhatikan kata-katanya, kasih tahu saya, bagaimana menurut Anda. Nggak mungkin, kan?”

Cuma di Amrik yang seperti ini?

Kelakuan Trump yang menjijikkan ini ternyata bukan soal kultur Barat yang menjunjung kebebasan dalam berekspresi. Di Indonesia pun kebiasaan mengejek penampilan fisik perempuan gampang ditemui.

Warganet di jagad media sosial sempat terperanjat atas pernyataan Ustaz Abdul Somad yang secara terang-terangan mengejek penampilan fisik presenter televisi Rina Nose. Ia menyebut Rina sebagai golongan artis jelek, berhidung pesek, buruk.

Serangan itu muncul saat Rina Nose sedang ramai diperbincangkan karena keputusannya untuk melepas jilbab. Entah apa hubungan antara keputusan personal melepas jilbab dengan hidung yang pesek. Yang pasti, Uztaz Abdul Somad merasa perlu untuk menyerang penampilan fisik Rina Nose terutama bagian hidung pesek.

Suatu hal yang aneh dan tak pantas menjadi bahan olok-olok, karena secara umum orang Indonesia memang tidak memiliki hidung mancung seperti ras kulit putih. 

Baca juga:

Tuntutan Cantik ala Medsos

Pemutih Kulit: Menusuk Wacana Kecantikan Indonesia

Juga dari keputusan hidup

Tak melulu soal penampilan fisik seperti bentuk tubuh, wajah yang kurang dianggap cantik, atau hidung yang pesek, penampilan perempuan dalam berpakaian pun disoroti dengan nyinyir. 

Dalam dunia politik, gaya politisi perempuan berbusana menjadi topik bahasan di media massa. Begitu pentingnya penampilan, bahkan politisi kelas dunia seperti mendiang Margaret Thatcher pun tak luput dari sorotan media massa. Ia dinilai tak hanya dari soal kebijakan-kebijakan politisnya, namun juga soal setelan baju kerja yang ia pakai, termasuk tas tangan berwarna hitam yang menjadi ciri khas dalam setiap penampilannya. Atau Hillary Clinton yang sering jadi bulan-bulanan kaum pria misoginis karena lebih suka memakai setelan baju kerja dipadankan dengan celana panjang, bukan rok yang terlihat lebih feminin.

Dalam kasus Rina Nose, tak hanya soal hidungnya yang pesek, keputusannya melepas jilbab yang mengubah penampilan fisiknya menjadi sasaran olok-olok. Akun Instagram Rina Nose yang memuat foto Rina Nose tanpa jibab dipenuhi komentar pedas, hingga belakangan Rina pun merasa perlu menutup kolom komentar.

Tak hanya itu, sebuah perusahaan jilbab dan baju Muslim bahkan tanpa malu mengambil kesempatan untuk mengiklankan produknya dengan memakai foto Rina Nose tanpa jilbab dan menyertakan ‘nasihat' yang sifatnya menghina: "Mungkinkah kamu kurang trendi dengan hijab yang beberapa waktu lalu kamu kenakan?” Seolah-olah keputusan memakai jilbab maupun melepasnya didasari semata atas pertimbangan bagaimana seorang perempuan menjadi tampak trendi atau tidak trendi.

Tak bisa dipungkiri, penampilan fisik merupakan bagian penting dalam kehidupan perempuan. Dalam hubungan sosial, penampilan fisik memang merupakan salah satu faktor yang menguntungkan. Mereka yang cantik dan berpenampilan menarik umumnya lebih gampang diterima dalam pergaulan.

Sejatinya manusia memang lebih gampang menilai hal-hal yang kasatmata daripada bersusah payah mengenal dan menggali lebih dalam apa yang tak terlihat oleh mata. Namun tak ada justifikasi bagi kaum laki-laki untuk menyerang urusan penampilan fisik perempuan, mereduksi nilai seorang perempuan hanya dari bentuk hidung, warna kulit, berat badan, atau apapun yang menyangkut soal fisik.

Karena itu sangatlah menyedihkan ketika seorang ustaz seperti Abdul Somad yang diharapkan melindungi dan mengayomi sesama saudara seiman justru mengolok-olok Rina Nose  dengan sebutan perempuan berhidung pesek. Lebih ironis lagi karena sang ustaz pun tak memiliki hidung yang kelewat bangir.

Penulis: Uly Siregar (ap/vlz)

Bekerja sebagai wartawan media cetak dan televisi sebelum pindah ke Arizona, Amerika Serikat. Sampai sekarang ia masih aktif menulis, dan tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia.

@sheknowshoney

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Laporan Pilihan