1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kisah Pemuda Muslim Bantu Rabi Yahudi Tangkal Antisemitisme

Lisa Louis
16 November 2023

Prancis mencatat maraknya insiden antisemitisme sejak invasi Israel di Jalur Gaza. Sebuah kelompok Yahudi-Muslim berusaha meredakan ketegangan, namun berhadapan dengan perpecahan yang kian melebar.

https://p.dw.com/p/4Ypjl
Pemuda muslim di Ris-Orangis, Prancis
Pemuda muslim di Ris-Orangis, PrancisFoto: Lisa Louis/DW

Pada Selasa pagi (7/11) baru-baru ini, setengah lusin anak muda Prancis berkumpul di dekat sebuah van yang diparkir di Ris-Orangis, pinggiran selatan ibu kota Paris. Kendaraan itu dibubuhi sebuah stiker bertuliskan, "kami lebih mirip daripada yang terlihat.”.

"Bagaimana kalian mendefinisikan diskriminasi?” Thibault, seorang Prancis yang masuk Islam, bertanya kepada anak-anak muda tersebut.

"Ketika Anda memperlakukan seseorang dengan buruk karena dasar prasangka,” jawab salah satu peserta.

"Bagaimana kamu memahami ageisme?” timpal Thibault.

"Saat Anda mendiskriminasi orang lain karena usianya,” jawab seorang pemuda lain.

Rabi Michel Serfaty berdiri di antara kerumunan anak-anak muda tersebut. Sekitar 20 tahun lalu, pria paruh baya itu berinisiatif mendirikan Kelompok Persahabatan Yahudi-Muslim (AJMF). Saat ini, organisasi bentukannya mempekerjakan delapan pegawai yang semuanya muslim.

"Tujuan kami adalah melawan antisemitisme dan islamofobia,” kata Serfaty kepada DW. "Kami ingin meningkatkan kesadaran di kalangan generasi muda, dengan membahas diskriminasi dan membantu mereka agar tidak jatuh ke dalam perangkap antisemitisme,” tambahnya.

Rabi Michel Serfaty dan Haji Mouloud Elouasia
Rabi Michel Serfaty (ki.) bersama imam masjid di Ris-Orangis, Haji Mouloud Elouasia (ka.)Foto: Lisa Louis/DW

Tren antisemitisme di Prancis

Misi Rabi Serfaty menjadi kian relevan sejak meletusnya konflik terbuka antara Hamas dan Israel. Sejak serangan teror pada tanggal 7 Oktober lalu yang direspons dengan deklarasi perang oleh Israel, pemerintah Prancis mencatat hampir 1.250 tindakan antisemitisme.

"Jumlah ini mengkhawatirkan, kata Michel Wieviorka, sosiolog di Universitas EHESS di Paris, "karena merupakan yang tertinggi sejak pencatatan sistematis dimulai sekitar tahun 2000,” ujarnya.

Wieviorka berpendapat, lonjakan insiden antisemitisme mencerminkan betapa konflik Israel-Palestina telah tiba sejak lama di Prancis, yang memiliki populasi Yahudi terbesar dan salah satu komunitas Muslim paling padat di Eropa.

Menurutbnya, jumlah tindakan antisemitisme tahunan biasanya berkisar di angka 400an sebelum perang Israel-Hamas tahun ini.

Pertentangan rasisme dan antisemitisme

Untuk mengatasinya, kelompok persahabatn Yahudi-Islam, AJMF, dan Rabi Serfaty secara rutin mengunjungi kawasan perumahan paling miskin di Prancis. Rabi yang besar di Maroko ini meyakini inti masalahnya terletak pada tingginya ketimpangan di distrik-distrik tersebut.

Antisemitisme: Mengapa Melekat Begitu Kuat?

"Banyak umat Islam, terutama generasi muda di daerah miskin, tumbuh dengan gagasan bahwa orang Yahudi itu kaya dan menguasai dunia,” jelasnya. "Wilayah-wilayah ini juga memiliki tingkat kejahatan, tingkat putus sekolah dan angka pengangguran tertinggi. Kita melihat betapa sekitar 95 persen tindakan antisemitisme dilaporkan terjadi di sini,” tambahnya.

Danny Trom, sosiolog di Pusat Penelitian Nasional, CNRS, menilai kemiskinan membuat masyarakat miskin menjadi rentan terhadap antisemitisme, terutama ketika mereka dikucilkan oleh masyarakat.

"Sejumlah kalangan tertentu, termasuk yang berasal dari bekas koloni yang menjadi korban stigmatisasi, mungkin akan mudah menganggap orang Yahudi sebagai penguasa lalim ” katanya kepada DW.

"Rasisme dan antisemitisme adalah fenomena yang bertentangan. Rasisme terjadi ketika sebagian umat manusia dipandang inferior, sementara antisemitisme dilandasi keyakinan bahwa kaum Yahudi menguasai dunia,” imbuhnya.

Mampukah ‘Yerusalem Kecil' menjadi pionir?

Marc Hecker, direktur penelitian dan komunikasi di lembaga pemikir Ifri di Paris, mengimbau pemerintah menggiatkan upaya menanggulangi penyakit masyarakat.

"Kita memerlukan lebih banyak program pendidikan mengenai antisemitisme untuk mengatasi stereotip antisemitisme secara menyeluruh, seperti yang terjadi di Ris-Orangis,” katanya.

Kawasan miskin itu kini menjadi contoh keberhasilan program sosial dalam menangkal antisemitisme.  "Sebelum saya datang ke sini, saya selalu berpikir bahwa orang-orang Yahudi cendrung ekslusif,” kata seorang peserta lokakarya di Ris-Orangis. "Namun saya menyadari bahwa itu adalah sebuah prasangka. Kita tidak boleh menghakimi orang tanpa mengetahui mereka," imbuh pemuda yang enggan disebutkan namanya itu.

Bagi Rabi Serfat, kawasan Ris-Orangis sudah menjadi "Yerusalem Kecil,” karena memiliki sinagoga, gereja, dan masjid yang praktis berdiri bersebelahan.

Para pemuka agama di sana secara teratur mengadakan acara bersama, seperti pada aksi berkabung setelah dimulainya konflik antara Israel dan Hamas.

Ketika sang rabi bertemu dengan imam masjid setempat, Haji Mouloid Elouasia, setelah salat Dzuhur, kedua pemimpin agama mengenang persahabatan mereka yang telah terjalin lama. "Berkat Rabbi Serfaty kami bisa membuka masjid kami di jalan ini 20 tahun lalu,” kata dia.

"Serfaty meminta izin kepada Walikota yang menanyakan balik, apakah dia tidak takut terhadap umat muslim? Dia mengatakan tidak, malah sebaliknya, kami ingin agar mereka dekat dengan kami, sehingga kami dapat bertetangga dan bersaudara,” ujarnya.

rzn/hp