1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
MediaRepublik Demokratik Kongo

Bagaimana Disinformasi Perparah Wabah Ebola di Kongo

5 Juni 2026

Bukan cuma virus Ebola yang sedang menghantui Republik Demokratik Kongo. Rumor dan disinformasi juga menghambat upaya penanganan di lapangan. Polanya bukan hal baru—dan bisa ditanggulangi.

https://p.dw.com/p/5EuQK
Kampanye penyuluhan Ebola di Republik Demokratik Kongo
Seorang bocah memandang kampanye penyuluhan tentang Ebola di Republik Demokratik KongoFoto: Jospin Mwisha/AFP

Sekitar 350 kasus terkonfirmasi, termasuk 60 kematian. Kurang dari tiga pekan setelah wabah Ebola diumumkan, dampaknya sudah terasa nyata di tengah masyarakat. Namun, di banyak tempat, penyakit itu masih belum dipercaya keberadaannya.

"Masyarakat tidak percaya pada penyakit ini. Meski sudah ada korban meninggal, mereka tetap tidak percaya,” kata John Tumujimbe, koordinator tim pemakaman aman dan bermartabat di Mongbwalu, salah satu pusat penyebaran wabah di Provinsi Ituri, timur laut Republik Demokratik Kongo.

Adalah wabah Ebola ke-17 yang kini tercatat melanda negara Afrika Tengah tersebut sejak virus itu pertama kali ditemukan pada 1976. Pengalaman dan keahlian untuk menangani situasi semacam ini sebenarnya sudah tersedia.

"Awalnya kami menduga malaria, tifus, atau penyakit diare. Namun setelah begitu banyak kematian, kami mengirim sampel ke INRB,” ujar Tumujimbe.

INRB, Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo, kemudian memastikan bahwa kasus-kasus tersebut memang Ebola.

Dari rumor jadi aksi kekerasan

Namun di Mongbwalu, yang menurut tenaga kesehatan baru pertama kali menghadapi wabah semacam ini, banyak warga menolak mempercayai penjelasan tersebut.

"Ketika kematian pertama terjadi, muncul pembicaraan bahwa peti mati adalah penyebabnya. Dari situlah rumor menyebar,” kata seorang warga setempat.

Tumujimbe mengingat narasi serupa.

"Semuanya berawal dari cerita tentang peti mati yang membunuh orang. Lalu semakin banyak orang meninggal,” ujarnya.

Goma youth fight Ebola myths in the DRC

Rumor lain menyebut para petugas kesehatan dan pekerja bantuan menyebarkan virus melalui antena kendaraan mereka.

Hoaks itu kemudian berkembang menjadi kekerasan.

Pada akhir Mei, massa yang marah menyerang rumah sakit umum Mongbwalu. Mereka menuntut agar jenazah anggota keluarga yang meninggal diserahkan kepada mereka dan membakar tenda milik organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF). Akibatnya, organisasi tersebut menarik seluruh personelnya dari lokasi.

"Terjadi kepanikan,” kata Direktur Rumah Sakit Mongbwalu Richard Lokudi kepada DW.

Situasi itu membuat sejumlah pasien yang dicurigai terinfeksi melarikan diri.

"Sebanyak 18 pasien yang sedang dipantau menghilang,” ujarnya.

Tenaga kesehatan khawatir mereka yang mungkin terinfeksi telah menularkan penyakit kepada orang-orang yang memberi mereka perlindungan.

Untuk varian Bundibugyo dari virus Ebola yang kini beredar, hingga saat ini belum tersedia vaksin.

Narasi lama yang terus berulang

Christopher Nehring tidak asing dengan pola semacam itu. Peneliti keamanan yang mendalami isu disinformasi tersebut menjadi salah satu penulis laporan mengenai wabah Ebola terbaru untuk Konrad-Adenauer-Stiftung, lembaga yang dekat dengan partai konservatif Jerman, CDU.

Menurut Nehring, pola hoaks yang muncul hampir selalu sama dalam setiap krisis kesehatan.

"Penyakit disebut berasal dari laboratorium sebagai senjata biologis. Vaksin dianggap lebih berbahaya daripada virusnya. Ada obat sederhana yang sengaja disembunyikan. Industri farmasi besar disebut sebagai pihak yang diuntungkan atau bahkan penyebab krisis. Bahkan ada yang mengklaim penyakit itu tidak nyata,” kata Nehring.

"Semua itu sudah dikenal selama puluhan tahun. Hanya bentuknya yang berbeda-beda.”

Dalam penyusunan laporan tersebut, Nehring berkoordinasi erat dengan para pemeriksa fakta di Kongo. Salah satunya adalah Ange Kasongo, pendiri Balobaki Check yang berbasis di Kinshasa.

Dalam wawancara dengan DW, Kasongo menceritakan percakapannya dengan para penambang emas di Ituri, wilayah yang sangat bergantung pada sektor pertambangan.

"Mereka mengatakan rumor dan mitos seputar kematian memang beredar, tetapi masyarakat setempat tidak benar-benar mempercayainya,” kata Kasongo.

Penjelasan yang dia dengar justru berkaitan dengan persaingan ekonomi.

"Jika seorang pedagang ingin memperoleh atau menambang lebih banyak emas, dia bisa saja menggunakan praktik-praktik mistis untuk menyingkirkan pesaingnya.”

Dengan kata lain, tekanan ekonomi turut menghambat keterbukaan masyarakat dalam menghadapi wabah.

Protests in Kenya over Ebola quarantine center turn deadly

Teori konspirasi dan konflik politik

Kasongo juga menyoroti dimensi politik yang memperumit situasi di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung di wilayah timur Kongo.

Dalam berbagai percakapan pribadi di WhatsApp, beredar tuduhan bahwa ada upaya sistematis untuk memusnahkan penduduk wilayah timur negara tersebut.

Sebagian warga mencurigai adanya konspirasi antara Presiden Kongo, Félix Tshisekedi, dan virolog ternama Jean-Jacques Muyembe.

Namun tim Balobaki Check tidak menemukan bukti yang mendukung tuduhan tersebut.

Pemotongan dana perburuk situasi

Masalah lain yang memperberat penanganan wabah adalah berkurangnya dukungan dana internasional untuk bantuan darurat.

Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang pada 2025 merealisasikan keluarnya AS dari Badan Kesehatan Dunia atau  World Health Organization (WHO), disertai pemangkasan besar-besaran terhadap badan bantuan luar negeri USAID dan program penanganan krisis CDC, turut mempersempit sumber pendanaan.

Sejumlah pemerintah Eropa juga melakukan penghematan serupa.

Bagi Nehring, kondisi itu secara langsung membuka ruang lebih besar bagi penyebaran hoaks.

"Kalau dana untuk bantuan kesehatan saja dipotong, tentu sulit berbicara tentang anggaran yang lebih besar untuk komunikasi kesehatan,” katanya.

Meski demikian, Kasongo menilai pemerintah dan otoritas kesehatan berupaya keras menyampaikan informasi yang jelas kepada masyarakat.

Namun dia meragukan apakah pendekatan yang ada sudah cukup efektif menjangkau seluruh lapisan penduduk.

"Bagaimana memastikan informasi disebarkan secara lisan, bukan hanya dalam bahasa Prancis dan bukan hanya dalam empat bahasa nasional?” ujarnya.

Menurut Kasongo, para pemimpin komunitas perlu dilibatkan lebih aktif dan diberi akses pada informasi yang dapat dipercaya. Dengan begitu, mereka dapat menjadi penghubung yang membantu menyebarkan informasi akurat di tengah masyarakat.
 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Ayu Purwaningsih

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait