Asperger′s Syndrome, Langkah Terbaru Evolusi Manusia? | DWNESIA: Wadah bagi komunitas DW untuk berbagi kisah dan pendapat | DW | 20.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

Asperger's Syndrome, Langkah Terbaru Evolusi Manusia?

Di era media sosial, dimana hoaks dijadikan aset dalam politik, keterbatasan bersosialisasi para penyandang autis dan Asperger's Syndrome malah menjadi satu keuntungan. Simak opini Ananda Sukarlan.

Setelah berjam-jam menulis musik di pesawat menuju Eropa, saya butuh menonton film yang memang membuat saya "malas mikir" sebelum mendarat, jadi saya pilih "The Predator” keluaran 2018. Ternyata ceritanya Sang Predator yang datang dari luar angkasa mempunyai misi membunuh dan menghisap semua makhluk di bumi, kecuali satu: anak dengan Asperger's Syndrome (penyandang sindrom ini biasa kita panggil "Aspie").

Predator itu bilang, Aspie adalah "the next stage of the human evolution" sehingga harus hidup-hidup diculik dan dibawa ke kapal luar angkasanya untuk menjadi bahan penelitian untuk kelangsungan hidup di planet mereka.

Penulis: Ananda Sukarlan

Penulis: Ananda Sukarlan

Saya jadi berpikir. Anak-anak dengan Asperger's Syndrome yang diselamatkan itu bukan hanya fiksi loh. Waktu Hitler sedang sibuk-sibuknya dengan kamar gas dan berbagai eksperimen cara membunuh pelan-pelan, anak-anak Aspie justru diselamatkan, dan sang penelitilah yang menaruh namanya, Dr. Hans Asperger, untuk sindrom yang termasuk dalam spektrum autisme ini pada tahun 1944.

Ciri-ciri sindrom ini yang paling utama adalah kemampuan para penyandangnya untuk satu/dua bidang yang sangat maju dan cemerlang, tapi ketidakmampuan melakukan hal-hal yang sering dianggap "biasa" (dalam kasus saya sendiri, misalnya mengendarai kendaraan, mengikat simpul/tali) selain sintoma autisme yang cukup umum seperti fobia terhadap keramaian, cara berkomunikasi / menginterpretasi berbagai hal yang berbeda dari orang non-autis dan/atau terlalu peka terhadap suara/sinar yang ekstrem.

Justru merupakan anugerah

Profesor Tony Attwood, seorang psikolog klinis terkemuka Australia, percaya bahwa proses pemikiran "out of the box" dari orang-orang dari spektrum autisme akan memecahkan berbagai masalah besar dunia. Ia dianggap sebagai psikolog klinis pertama yang menghadirkan sindrom Asperger bukan sebagai sesuatu yang harus "disembuhkan" tetapi justru sebagai anugerah, yang terbukti dalam banyak penemu dan seniman hebat sepanjang sejarah. Ia memandang Aspies sebagai aset bangsa dan akhirnya aset kelangsungan hidup manusia.

Michael Fitzgerald, profesor psikiatri anak dan remaja pertama di Irlandia yang berspesialisasi dalam gangguan spektrum autisme, dengan berani mengklaim di sebuah wawancara tahun 2006 bahwa "proses evolusi manusia didorong oleh orang-orang dari spektrum autisme khususnya Asperger's Syndrome. Umat manusia masih akan tinggal di dalam gua jika bukan karena mereka."

Saya sebagai seorang Aspie walaupun bukan ahlinya, juga setuju bahwa tanpa "autisme" di antara kita, kita mungkin tidak akan berada di sini hari ini. Ingat saja para Aspie yang telah membawa kita "melompat" dari zamannya: sebut saja Alan Turing (penemu komputer) dan Greta Thunberg (sekarang 16 tahun, aktivis dan pemikir tentang perubahan iklim).

Kita tahu melalui penelitian genetik bahwa spektrum autisme hanya ada di spesies kita, membedakan kita dari hewan sejak lama. Beberapa gen kunci autisme hanya ada di primata, yang mendorong memisahkannya dan membawanya ke spesies baru yang menjadikan kita manusia saat ini.

Saat hoaks jadi aset politik

Di era media sosial, dimana hoaks dijadikan aset dalam politik(lihat saja Pemilu terbaru di Amerika, Brazil, Brexit, Prancis, Turki, Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2019) justru karena lancarnya sosialisasi dan komunikasi, keterbatasan bersosialisasi para penyandang autis dan Asperger's Syndrome malah menjadi satu keuntungan. Mungkin segala fitnah dan pembodohan yang terjadi di dua pemilu itu tidak akan sukses kalau saja masyarakat kita dipenuhi mereka yang autis. Ah, mungkin? Sudah pasti, menurut saya.

Anak perempuan saya juga pacaran dengan seorang cowok penyandang Asperger's Syndrome. Beda dengan saya, dia unggul di bidang matematika. Dia juga bisa "menghabisi" kubus Rubik dalam beberapa menit, kadang 1 menit. Waktu saya minta diajarkan caranya, dia hanya bisa memberi teori-teori dasar dan metode yang (bagi saya) cukup rumit; dengan mempelajari metode itu masih mustahil kita bisa menyelesaikannya dalam waktu yang sesingkat dia.

Tahu-tahu, tahu

Ada "elemen x" yang dia tidak dapat sampaikan ke orang lain. Mungkin "elemen x" itu bisa diterjemahkan sebagai "tahu-tahu tahu" (you just know it). Saya juga tidak punya murid piano tetap yang bisa saya limpahkan ilmu saya (atau "tahu-tahu tahu" saya itu tadi), dan banyak sekali hal dalam komposisi musik saya yang tidak bisa saya jelaskan ke para mahasiswa musik. Bukannya saya pelit berbagi ilmu, tapi memang saya tidak tahu bagaimana saya menuliskannya. Tahu-tahu, tahu. Karena pacar anak saya itulah saya menyadari bahwa "keahlian" kami bukanlah suatu prestasi akademis yang bisa diajarkan.

Mungkin memang seorang manusia tidak perlu tahu segala nya. Mungkin setiap diri kita memang harus tahu sedikit hal saja, tapi sangat mendalam. Apalagi kita tahu, lawan dari pengetahuan dan kepandaian itu bukanlah kebodohan tapi ... ke"sok-tahu"an. Dan orang sok tahu itulah yang lebih berbahaya daripada orang yang mengaku tidak tahu. Lagipula.... bisa bayangkan betapa bahagia dan damainya hidup ini jika tidak ada orang lain yang selalu repot ingin tahu tentang apa saja tentang kita, menghakimi kita, mengajari kita untuk "harusnya anda melakukan ini, itu" karena dia "tahu segalanya", bukan? Mungkin sudah waktunya kita bahagia dengan hanya mengetahui sesedikit-sedikitnya.

@anandasukarlan

Selain sebagai komponis & pianis, A.Sukarlan juga aktif sebagai blogger di Andy Skyblogger's Log, dan membuat vlog di Youtube channelnya Ananda Sukarlan. Twitter & Instagramnya @anandasukarlan bukan hanya mengulas tentang musik, tapi masalah sosial, budaya dan politik pada umumnya. Ia membagi waktunya antara Spanyol (di rumahnya di perbukitan di Cantabria) dan Indonesia (di apartemennya di Jakarta).

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

 

Laporan Pilihan