ASEAN: Menlu AS hadapi krisis di dua front | dunia | DW | 28.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

ASEAN: Menlu AS hadapi krisis di dua front

Korea Utara mempertimbangkan keluar dari Forum Keamanan Global yang saat ini diselenggarakan ASEAN.

Menlu AS Condoleezza Rice sibuk menghadapi berbagai krisis

Menlu AS Condoleezza Rice sibuk menghadapi berbagai krisis

Menteri Luar Negeri Korea Utara, Paek Nam Sun, menyampaikan hal ini di Forum Regional ASEAN ke-13 Jumat ini. Sejak November lalu, Korea Utara menolak mengikuti perundingan yang membahas pengembangan nuklir di negaranya. Sementara anggota Forum telah mengundang Korea Utara untuk kembali berpartisipasi dalam pembicaraan multilateral yang tengah berlangsung sebagai acara dampingan di Kuala Lumpur.

Tampaknya di Forum regional ASEAN, Menlu AS, Condoleeza Rice, harus pusing dua keliling. Kemarahan mengenai serangan Israel ke Lebanon belum berakhir. Para Menlu ASEAN menyerukan gencatan senjata dalam konflik antara Israel dan Lebanon.

Sementara di ibukota Malaysia ratusan demonstran anti Amerika Serikat berusaha menyerbu gerbang Convention Center di mana Menlu AS, Condoleeza Rice sedang berunding dengan para Menteri Luar Negeri lainnya. Para demonstran yang kebanyakan anggota partai koalisi pemerintah di Malaysia dipimpin oleh Khairy Jamaluddin, menantu Perdana Menteri Malaysia. Ditahan di gerbang oleh polisi keamanan, ia meneriakan tidak akan pergi sebelum Menlu AS itu menemuinya.

Di pihak lain Korea Utara menolak untuk berunding, padahal kekhawatiran mengenai program nuklir Korea Utara cukup tinggi, juga di kawasan sekitar negara itu. Jurubicara kementerian luar negeri Cina, Jiang Yu menuturkan, ketika Korea Utara mengkonfirmasi penolakannya untuk berpartisipasi, Cina langsung menyampaikan bahwa perundingan tetap berjalan walaupun tanpa kesertaan Korea Utara.

Dalam perundingan forum keamanan global ini selain Amerika Serikat, Cina, Korea Selatan, Jepang dan Rusia, berpartisipasi juga Indonesia, Malaysia, Australia, Kanada dan Selandia baru. Berkaitan dengan uji coba rudal yang dilakukan Korea Utara pada awal Juli tahun ini, jurubicara delegasi Korea Utara, Chung Sung Il menyatakan, Korea Utara siap membela diri menghadapi kecaman Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Selain itu Korea Utara bersikeras, tidak akan mengikuti perundingan mengenai program nuklirnya selama Amerika Serikat belum mengangkat sanksi-sanksi terhadap negaranya. Kepada media Chung Sung Il mengatakan, bila Amerika Serikat dengan tulus ingin berdialog dengan Korea Utara, maka negara adikuasa itu harus mengangkat sanksi-sanksi tersebut.

Sementara itu, Menlu AS, Condoleeza Rice merubah rencananya dan menyatakan akan meninggalkan pertemuan ASEAN satu hari lebih awal. Walaupun menolak memberikan informasi, diperkirakan Menlu AS akan singgah di Timur Tengah dan kembali memfokuskan perhatiannya terhadap peperangan yang berlangsung antara Israel dan kaum Hisbullah di Lebanon.

Dalam sebuah pembicaraan antara Menteri-menteri ASEAN dengan para mitra dialognya, yang termasuk wakil dari Uni Eropa, Australia, Kanada dan Amerika Serikat, Rice mengungkapkan kesediaannya untuk kembali ke Timur Tengah.

Amerika Serikat berada dalam posisi terpojok setelah menjadi satu-satunya negara yang menolak gencatan senjata secepatnya dalam perang Israel dan Lebanon. Para kritik menilai, krisis itu tidak akan terselesaikan sebelum AS mengadakan pembicaraan langsung dengan Suriah dan Iran. Kedua negara ini dituduh Washington telah mensponsori persenjataan kaum Hisbullah.

Iklan