AS Keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran, Bagaimana Reaksi Para Pemimpin Dunia? | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 09.05.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

AS Keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran, Bagaimana Reaksi Para Pemimpin Dunia?

Presiden Donald Trump telah mengumumkan bahwa Amerika Serikat tidak lagi akan berada dalam kesepakatan nuklir Iran. Seperti apa reaksi internasional menanggapi hal tersebut?

Pengumuman Presiden AS Donald Trump pada Selasa (08/05) bahwa ia menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian nuklir Iran memancing reaksi dari para pemimpin dunia.

Sementara beberapa memuji Presiden Trump karena memalingkan punggungnya pada kesepakatan yang "cacat", yang lain berpendapat bahwa keputusan Trump meruntuhkan kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang ditandatangani pada tahun 2015 setelah negosiasi bertahun-tahun, dan menimbulkan ketidakpastian tidak hanya antara AS dan Iran tetapi juga di antara sekutu transatlantik.

Kementerian Luar Negeri Perancis mengumumkan Rabu (09/05) bahwa perwakilan dari Perancis, Jerman, dan Inggris - semua negara penandatangan kesepakatan nuklir - akan bertemu dengan perwakilan Iran Senin depan.

Jerman

Menteri Luar Negeri Heiko Maas mengatakan bahwa Jerman, Perancis dan Inggris akan berbicara dengan satu suara mengenai kesepakatan Iran: "Kami tetap berkomitmen pada kesepakatan nuklir," katanya di Berlin. "Kesepakatan itu berfungsi. Kami ingin menjaga kontrol dan aturan transparansi," tambahnya.

Maas juga meminta Iran untuk tetap bertindak dengan tenang dan memenuhi kewajiban yang diatur dalam kesepakatan itu. Ia mengatakan bahwa keputusan Trump "tidak dapat dipahami" dan telah memberikan pukulan terhadap stabilitas di Timur Tengah. Dia juga membahas kekhawatiran kejatuhan bisnis Jerman dan menjanjikan bahwa efek potensial pada perusahaan akan dianalisis.

Sebagai buntut dari pengumuman Trump, para pemimpin bisnis Jerman telah menyatakan keprihatinan atas potensi sanksi yang dikenakan AS pada perusahaan Jerman yang memiliki hubungan dengan Iran: "Pelepasan kembali sanksi AS akan mebahayakan ekonomi Jerman," kata Volker Treier, kepala bagian ekonomi asing di Asosiasi Kamar Dagang dan Industri Jerman.

Eropa

Dalam pernyataan bersama yang diberikan oleh kantor Perdana Menteri Inggris Theresa May, Jerman, Perancis dan Inggris meminta AS tidak menghalangi negara lain ketika mereka berusaha untuk menerapkan kesepakatan dan mendesak Iran untuk "menunjukkan pengendalian" dan terus memenuhi kewajibannya sendiri.

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan kepada parlemen pada hari Rabu bahwa Inggris telah melakukan yang terbaik untuk mencegah Trump meninggalkan kesepakatan. Dia menambahkan bahwa Inggris akan tetap berpegang pada kesepakatan selama Iran terus memenuhi ketentuannya. Ia juga menyatakan bahwa Inggris tidak akan pernah menerima Iran yang bersenjata nuklir.

Presiden Perancis Emmanuel Macron, yang juga telah berusaha membujuk Trump untuk tetap dalam kesepakatan itu, mencuit kekecewaan dan penyelesaiannya: "Perancis, Jerman dan Inggris menyesali keputusan AS untuk meninggalkan JCPOA. Rezim non-proliferasi nuklir dipertaruhkan. Kami akan bekerja bersama dalam kerangka yang lebih luas, meliputi aktivitas nuklir, periode pasca-2025, aktivitas balistik dan stabilitas di Timur Tengah, terutama Suriah, Yaman dan Irak. "

Rusia, yang juga membantu merundingkan kesepakatan Iran, mengatakan mereka "sangat kecewa" dengan keputusan sepihak Trump.

Federica Mogherini, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, yang membantu mengawasi cara Iran dan enam kekuatan dunia menerapkan kesepakatan dan menyelesaikan perselisihan, mengatakan dalam sebuah pernyataan pers pada Selasa bahwa kesepakatan itu "tidak berada di tangan satu negara. "

"Uni Eropa bertekad untuk bertindak sesuai dengan kepentingan keamanannya dan untuk melindungi investasi ekonomi," katanya. Dalam sebuah pesan yang ditujukan kepada Iran, Mogherini mengatakan: "Jangan biarkan siapa pun merusak perjanjian ini. Ini adalah salah satu pencapaian diplomasi terbesar yang pernah terjadi, dan kita telah membangun ini bersama."

Iran

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menantang keputusan Trump: "Kamu tidak bisa melakukan apa pun!" katanya saat bertemu dengan para guru sekolah di Teheran pada hari Rabu. Di situs resminya, Khamenei, yang merupakan otoritas agama dan negara tertinggi di Iran, juga mengolok-olok pengumuman Trump sebagai hal yang "konyol dan dangkal."

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan Teheran akan tetap dalam perjanjian internasional, tetapi memarahi Trump atas keputusannya. Dengan "keluar dari kesepakatan, Amerika telah secara resmi merusak komitmennya terhadap perjanjian internasional," kata pemimpin Iran itu. Rouhani mengatakan ia ingin berbicara dengan lima negara yang tetap dalam kesepakatan itu, tetapi ia secara bersamaan memperingatkan bahwa "kapan pun dibutuhkan, [Iran] akan mulai memperkaya uranium lebih dari sebelumnya."

Ketua parlemen Iran, Ali Larijani, mengatakan Presiden AS tidak memiliki kapasitas mental untuk menangani masalah. Anggota parlemen pada hari Rabu membakar bendera AS dari kertas di parlemen Iran dan berteriak, "Matilah Amerika!"

 

Timur Tengah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji "langkah bersejarah" Trump dan menyebut kesepakatan itu sebagai "resep untuk bencana, bencana bagi kawasan kita, bencana bagi perdamaian dunia."


Israel adalah sekutu dekat Amerika Serikat dan Netanyahu telah mendukung penghapusan kesepakatan itu. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua sekutu AS lainnya, juga memuji keputusan Trump.

"Iran menggunakan keuntungan ekonomi dari pencabutan sanksi untuk melanjutkan kegiatannya mengguncang kawasan (Timur Tengah), terutama dengan mengembangkan rudal balistik dan mendukung kelompok-kelompok teroris di kawasan itu," kata Kementerian Luar Negeri Saudi dalam sebuah pernyataan.

Anwar Gargash, Menteri Urusan Luar Negeri UEA, mencuit bahwa perjanjian itu "akan mengarah pada perlombaan nuklir regional dengan sedikit kepercayaan pada niat Iran."

Politisi AS terbagi

Dalam langkah yang tidak biasa, mantan Presiden AS Barack Obama, yang pemerintahannya menegosiasikan kesepakatan nuklir Iran, menyebut keputusan Trump "salah arah" dalam sebuah pernyataan yang diunggah di halaman Facebook-nya.

"Kenyataannya jelas. JCPOA berfungsi - itu adalah pandangan yang dibagikan oleh sekutu Eropa kami, para ahli independen, dan Menteri Pertahanan AS saat ini. JCPOA adalah kepentingan Amerika - (kesepakatan ini) telah secara signifikan menggulingkan program nuklir Iran," kata Obama.

"Dalam demokrasi akan selalu ada perubahan dalam kebijakan dan prioritas dari satu pemerintahan ke pemerintahan lainnya. Tetapi ketidaksepakatan yang konsisten terhadap perjanjian (internasional), di mana negara kita menjadi bagiannya, berisiko mengikis kredibilitas Amerika, dan menempatkan kita dalam posisi yang bertentangan dengan kekuatan utama dunia. "

Para pemimpin kongres Amerika terpecah atas keputusan Trump mengeluarkan AS dari kesepakatan itu.

Pemimpin mayoritas Senat, Mitch McConnell dari Partai Republik, mengatakan kesepakatan Iran adalah "kesepakatan yang sangat salah" dan bahwa dia setuju dengan komitmen Trump bahwa "Iran tidak boleh mendapatkan atau mengembangkan senjata nuklir."

Sebaliknya, pemimpin minoritas Senat, Chuck Schumer dari Partai Demokrat, mengatakan tampaknya pemerintahan Trump tidak memiliki rencana untuk maju.

na/vlz (reuters, ap)